SUMENEP — Senin, 8 Februari 2026 — Di sudut kota yang tampak biasa, sebuah warung pojokan justru menyimpan cerita luar biasa. Dalam sehari semalam, tak kurang dari 100 gelas kopi habis diseruput pelanggan. Bukan kopi kekinian, bukan pula kopi dengan kemasan mewah. Inilah Kopi Peceng, kopi yang sudah terkenal sejak dulu dan menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masyarakat Sumenep.
Bagi warga Madura, khususnya Sumenep, Kopi Peceng bukan sekadar minuman. Ia telah menjelma menjadi identitas rasa, ruang perjumpaan, sekaligus tempat berbagi cerita. Berdiri sejak 2012, Kopi Peceng tetap setia mempertahankan cita rasa kopi tradisional yang konsisten dari masa ke masa.
Berlokasi di warung pojokan sederhana di depan Hotel Myze Sumenep dekat lampu merah, tempat ini justru digandrungi semua kalangan. Mulai dari warga lokal, pelajar, pekerja, hingga tamu luar daerah, silih berganti singgah untuk sekadar menyeruput kopi, menikmati gorengan hangat, atau mencicipi aneka camilan sederhana yang menemani obrolan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski tampil apa adanya, popularitas Kopi Peceng melampaui batas kota. Namanya dikenal luas hingga Pamekasan dan Sampang, tumbuh secara alami dari cerita ke cerita, dari cangkir ke cangkir, tanpa promosi berlebihan dan tanpa kehilangan akar tradisinya.
Owner Kopi Peceng, Sumiati (kelahiran 1984), mengungkapkan bahwa kunci bertahannya usaha ini adalah konsistensi dan kesederhanaan.
“Sejak awal kami tidak ingin mengubah jati diri kopi tradisional. Rasa harus tetap sama, cara menyeduh dijaga, dan yang terpenting pelanggan merasa nyaman,” ujarnya.
Menurut Sumiati, Kopi Peceng bukan hanya soal kopi. Warung kecil ini menjadi tempat berkumpul, berbincang, dan melepas penat. Gorengan dan camilan sederhana yang tersaji justru memperkuat suasana akrab, membuat pelanggan betah berlama-lama.
Sementara itu, sang suami, Fauzan, yang akrab disapa Pak Peceng, menyebut bahwa Kopi Peceng lahir dari ketekunan dan kejujuran.
“Kami tidak pernah berpikir muluk-muluk. Yang penting jujur dalam rasa dan pelayanan. Kalau kopi enak dan orang betah, mereka akan datang kembali dengan sendirinya,” tuturnya.
Di tengah menjamurnya kedai kopi modern dengan konsep dan varian kekinian, Kopi Peceng tetap berdiri teguh sebagai simbol kesahajaan. Warung pojokan ini membuktikan bahwa usaha kecil berbasis kearifan lokal mampu bertahan, bahkan menjadi legenda, tanpa harus kehilangan karakter.
Bagi masyarakat Sumenep, Kopi Peceng bukan sekadar kopi. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup, tempat kenangan diracik, cerita diseduh, dan aroma kopi tradisional terus hidup, tak pernah berubah.
Penulis : Redaksi







