SUMENEP, Jumat, 20/2/2026- Jeritan sunyi jamaah Masjid Mujahidin di Kampung Benteng, Desa Panaongan, Kecamatan Pasongsongan, akhirnya pecah ke ruang publik. Puluhan tahun masjid ini berdiri tanpa MCK, memaksa jamaah menunaikan kebutuhan dasar di tempat terbuka yang jauh dari kata layak. Kondisi memilukan ini mendorong Jurnalis Sumenep Independen (JSI) melontarkan tantangan terbuka kepada nurani Said Abdullah.
“Dengan kerendahan hati, atas nama JSI, kami menantang Pak Said Abdullah untuk membangun MCK Masjid Mujahidin di kampung Benteng Panaongan, Kecamatan Pasongsongan. Masjid ini puluhan tahun tanpa WC dan kamar mandi. Jangan hanya viral bagi-bagi amplop,” ujar Ahmadineja, Pembina JSI, tegas.
JSI berharap Said Abdullah menjawab tantangan ini sebagai panggilan kemanusiaan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurut Pembina JSI, keberadaan MCK di masjid bukan persoalan tambahan, melainkan kebutuhan paling mendasar yang menyangkut harkat dan martabat jamaah dalam menjalankan ibadah.
“MCK itu bukan fasilitas mewah. Ini kebutuhan paling dasar bagi jamaah dan simbol penghormatan terhadap martabat manusia yang sedang beribadah. Jika ini diabaikan, berarti martabat umat juga diabaikan,” tegasnya.
Kesaksian pilu datang dari salah satu takmir Masjid Mujahidin. Dengan nada lirih, ia menunjukkan sebuah sudut terbuka di belakang masjid.
“Sejak masjid ini dibangun, memang belum ada MCK. Tidak ada WC dan kamar mandi. Kalau jamaah buang air kecil, harus jongkok di sana. Itu pun cuma cukup satu orang,” tuturnya, sembari menunjuk lokasi yang jauh dari kata pantas.
Bagi JSI, tantangan ini bukan tanpa dasar. Mereka telah membuktikan bahwa jurnalisme bisa bergerak dengan kerja nyata.
Sebelumnya, JSI bersama para donatur berhasil membangkitkan Musola Al-Ikhlas di Desa Gunung Kembar, Kecamatan Manding, yang sempat runtuh dan menyisakan dinding patah serta harapan nyaris padam. Kini, pembangunan musola tersebut telah mencapai 98 persen dan kembali aktif sebagai pusat ibadah dan pembinaan spiritual warga.
JSI menegaskan bahwa setiap langkah adalah gerakan nurani.
“Setiap rupiah dari donatur harus menjadi amal jariyah dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tegas Ahmadineja.
Musola Al-Ikhlas dirancang bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga ruang pembinaan moral, pendidikan keagamaan, dan penguat ukhuwah warga. Semangat serupa juga diwujudkan di wilayah pesisir Desa Jadung, Kecamatan Dungkek, di mana Ketua JSI menghibahkan tanah dan membangun musola demi memenuhi kebutuhan warga setempat.
Tak berhenti di situ, ketua JSI juga menginisiasi Ambulans Umat, layanan kemanusiaan gratis untuk pengantaran warga sakit, rujukan medis, hingga jenazah, tanpa memandang latar belakang ekonomi dan sosial. Bahkan, rumah singgah bagi keluarga pasien dari kepulauan dan daratan yang dirawat di rumah sakit turut disiapkan.
JSI juga rutin menggelar aksi bersih-bersih lingkungan, meyakini bahwa menjaga kebersihan adalah bagian dari menjaga martabat manusia dan fondasi kehidupan berkelanjutan.
Melalui pembangunan musola, layanan Ambulans Umat, aksi bersih-bersih, dan berbagai gerakan kemanusiaan lainnya, JSI menegaskan satu sikap bahwa jurnalisme bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Ketika kata-kata tak lagi cukup, kerja nyata menjadi bahasa paling jujur.
Kini, masyarakat menunggu. Akankah Said Abdullah menjawab tantangan nurani ini dengan membangun MCK Masjid Mujahidin, atau jeritan jamaah kembali tenggelam dalam sunyi? Waktu yang akan menjawabnya.
Penulis : Redaksi







