PROBOLINGGO – Suasana Kantor Kelurahan Wiroborang, Selasa (21/4/2026), tak sekadar menjadi tempat berkumpulnya para pejabat dan tokoh masyarakat. Di balik agenda Gerakan Sinergi Aksi Holistik Berbasis Area Terpadu Pengentasan Anak Tidak Sekolah (Sahabat ATS), tersimpan kegelisahan besar: puluhan anak di Kota Probolinggo masih tercecer dari bangku pendidikan.
Pemerintah Kota Probolinggo melalui sambutan resmi yang disampaikan oleh Pj. Sekretaris Daerah, Dr. R. Suwigtyo, S.Sos., M.Si., menegaskan bahwa persoalan Anak Tidak Sekolah (ATS) bukan sekadar angka statistik—melainkan “alarm keras” bagi masa depan daerah.
“Setiap anak yang tidak bersekolah berarti satu potensi yang hilang, satu keluarga yang tertinggal, dan satu ancaman bagi kemajuan kota,” tegasnya dengan nada penuh keprihatinan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Data terbaru di Kelurahan Wiroborang mengungkap fakta mencengangkan: terdapat 42 anak tidak sekolah, terdiri dari 12 anak putus sekolah, 8 anak lulus namun tidak melanjutkan, serta 22 anak yang bahkan belum pernah mengenyam pendidikan. Angka ini menjadi simbol nyata bahwa masih ada celah besar dalam pemenuhan hak dasar pendidikan.
Tak ingin tinggal diam, Pemkot Probolinggo meluncurkan gerakan “Sahabat ATS” sebagai langkah strategis dan kolaboratif. Program ini dirancang secara holistik—menyentuh aspek pendidikan, ekonomi, sosial, hingga psikologis—dengan pendekatan berbasis data akurat “by name by address”.
“Ini bukan sekadar pendataan. Kita harus tahu akar masalahnya—apakah karena kemiskinan, pernikahan dini, disabilitas, atau faktor lainnya. Dari situlah solusi tepat bisa diambil,” lanjutnya.
Gerakan ini melibatkan seluruh elemen, mulai dari perangkat daerah, camat, lurah, hingga RT dan RW sebagai garda terdepan dalam menemukan dan mendampingi anak-anak ATS kembali ke sekolah. Sekolah pun didorong membuka pintu selebar-lebarnya, menjadi ruang aman dan ramah bagi mereka yang kembali belajar.
Lebih dari itu, program ini juga menjadi bagian dari upaya besar meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dengan target menaikkan angka partisipasi sekolah dan rata-rata lama sekolah, Pemkot optimistis dapat mendorong Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang pada 2025 telah mencapai 78,50—lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Jawa Timur.
Ambisi besar pun dipasang: seluruh data ATS harus tuntas diverifikasi paling lambat akhir Mei 2026, agar anak-anak tersebut bisa kembali belajar pada tahun ajaran baru Juli 2026.
Di akhir sambutannya, Pj. Sekda mengajak seluruh pihak untuk bergerak bersama.
“Ini adalah kerja kolektif. Kita harus menjemput mereka, bukan menunggu. Pastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dari haknya untuk belajar.”
Gerakan ini bukan sekadar program pemerintah, melainkan panggilan nurani. Sebab di balik setiap anak yang kembali ke sekolah, tersimpan harapan baru bagi masa depan Kota Probolinggo.
Penulis : Moch Solihin








