Oleh: Intan Ayudya Novita Sari : Disusun berdasarkan wawancara dengan narasumber.
Selama bertahun-tahun, kerusakan otak dianggap sebagai kondisi permanen yang tidak dapat diperbaiki. Namun, perkembangan ilmu kedokteran saraf menghadirkan harapan baru melalui neurorestorasi, sebuah pendekatan yang berfokus pada pemulihan fungsi otak. Kini, layanan tersebut sudah dapat diakses oleh masyarakat di Bali.
Banyak keluarga pasien stroke pernah mendengar kalimat, “Sudah maksimal, selebihnya kita pasrahkan.” Pernyataan itu berangkat dari anggapan lama bahwa sel-sel otak yang rusak tidak dapat pulih. Akan tetapi, ilmu saraf modern menunjukkan bahwa otak memiliki kemampuan untuk membentuk kembali jaringan koneksinya melalui proses yang dikenal sebagai neuroplastisitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kemampuan alami inilah yang menjadi dasar neurorestorasi, yaitu pendekatan yang tidak hanya bertujuan mengobati penyakit saraf, tetapi juga mengoptimalkan kembali fungsi otak yang terganggu.
Apa Itu Neurorestorasi?
Neurorestorasi merupakan cabang ilmu neurologi yang berfokus pada pemulihan fungsi sistem saraf. Jika neurologi konvensional menitikberatkan pada diagnosis dan pengendalian penyakit, neurorestorasi melangkah lebih jauh dengan memaksimalkan potensi pemulihan pasien, bahkan setelah melewati fase kritis.
“Otak memiliki kapasitas luar biasa untuk beradaptasi dan membangun kembali jalur-jalur fungsinya. Tugas kami adalah menstimulasi dan mengarahkan proses alami tersebut secara terukur,” jelas dr. Nyoman Artha Megayasa, Sp.N, dokter spesialis saraf sekaligus ahli neurorestorasi pertama di Bali.
Menurutnya, keberhasilan terapi sangat ditentukan oleh waktu penanganan, ketepatan asesmen, serta program yang dirancang secara individual karena setiap pasien memiliki proses pemulihan yang berbeda.
Kondisi yang Dapat Ditangani
Pendekatan neurorestorasi dapat diterapkan pada berbagai gangguan neurologis, antara lain:
Pasca-stroke, untuk membantu pemulihan gerak, bicara, dan fungsi kognitif.
Penyakit Parkinson dan gangguan gerak lainnya, guna mengelola gejala serta mempertahankan fungsi tubuh.
Gangguan memori dan demensia, untuk mendukung fungsi kognitif dan memperlambat penurunan kemampuan berpikir.
Cedera maupun gangguan saraf tepi (neuropati), guna mendukung pemulihan fungsi saraf.
Gangguan perkembangan saraf pada anak, sebagai bagian dari program terapi yang komprehensif.
Bagaimana Cara Kerjanya?
Neurorestorasi memadukan berbagai metode berbasis bukti ilmiah yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Neuromodulasi non-invasif dilakukan melalui stimulasi otak dan saraf tanpa operasi, seperti Transcranial Magnetic Stimulation (TMS), Transcranial Direct Current Stimulation (tDCS), maupun stimulasi saraf vagus. Tujuannya adalah membantu “melatih ulang” sirkuit otak agar bekerja lebih optimal.
Neurofeedback berbasis pemetaan otak diawali dengan pemeriksaan Quantitative Electroencephalography (QEEG) untuk memetakan aktivitas listrik otak. Selanjutnya, pola gelombang otak dilatih secara bertahap guna meningkatkan fungsi seperti konsentrasi, kualitas tidur, maupun pengendalian gerak.
Selain itu, terdapat terapi regeneratif yang bertujuan mendukung perbaikan dan pemeliharaan sel-sel saraf.
Seluruh pendekatan tersebut dipadukan dengan program rehabilitasi yang terarah sehingga terapi berjalan secara menyeluruh.
Bukan Keajaiban Instan
Dr. Nyoman menegaskan bahwa neurorestorasi bukanlah terapi yang menjanjikan hasil instan.
“Yang kami tawarkan adalah pendekatan ilmiah yang realistis, bukan harapan kosong. Hasilnya bervariasi tergantung kondisi pasien, waktu penanganan, dan konsistensi menjalani program terapi. Karena itu, setiap pasien harus melalui asesmen yang menyeluruh sebelum menentukan langkah pengobatan,” ujarnya.
Menurutnya, kejujuran dalam menyampaikan ekspektasi merupakan bagian penting dari pelayanan medis yang bertanggung jawab.
Kini Dapat Diakses di Bali
Beberapa tahun lalu, layanan neurorestorasi umumnya hanya dapat diperoleh di luar negeri. Kini, masyarakat Indonesia, khususnya di Bali, telah memiliki akses terhadap layanan seperti pemetaan otak, neuromodulasi, hingga program pemulihan saraf yang terstruktur. Hal ini memungkinkan pasien menjalani proses rehabilitasi lebih dekat dengan keluarga dan lingkungan pendukungnya.
“Harapan saya sederhana. Semakin banyak keluarga mengetahui bahwa setelah masa kritis pun masih ada upaya yang dapat dilakukan untuk membantu pemulihan otak. Pemulihan adalah sebuah proses, dan proses itu dapat dibantu,” tutup dr. Nyoman.
dr. Nyoman Artha Megayasa, Sp.N merupakan dokter spesialis saraf (neurolog) sekaligus ahli neurorestorasi pertama di Bali yang berpraktik di Bali International Hospital. Fokus praktiknya meliputi neuromodulasi, terapi regeneratif, gangguan gerak, serta pemulihan pasien pasca-stroke dan cedera saraf.
Ia juga merupakan anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (PERDOSNI), International Parkinson and Movement Disorder Society (MDS), serta World Federation for Neurorehabilitation (WFNR).
Informasi lebih lanjut mengenai neurorestorasi dapat diperoleh melalui akun Instagram maupun situs resmi neurorestorasi.id.







