Pemalang – Suasana pagi di sudut Jalan Jenderal Gatot Subroto Pemalang, masih terasa sejuk saat jarum jam baru menunjukkan pukul 05.45 WIB. Di saat sebagian besar warga kota Bercahaya mungkin masih bersiap memulai hari, langkah tegap seorang perempuan paruh baya telah memecah keheningan kompleks SMP 03 Pemalang, Ia adalah Herlinawati (58 ), seorang guru senior yang telah mendedikasikan hidupnya untuk dunia pendidikan.
Selama tepat 30 tahun pengabdiannya,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemandangan Guru Herlina begitu biasa ia disapa tiba di sekolah pada pukul 06.00 pagi seolah menjadi rutinitas sakral yang tak pernah terlewatkan.
Hujan lebat, terik matahari, hingga dinamika perubahan zaman tak sedikit pun menyurutkan langkah disiplinnya.
“Saya selalu percaya bahwa guru adalah cerminan. Bagaimana mungkin kita bisa meminta murid disiplin dan datang tepat waktu, jika gurunya sendiri datang terlambat?”, ungkap Herlina ,dengan senyum ramah yang menjadi ciri khasnya,saat berbincang – bincang dengan awak media,pada Senin ( 13/7 ).
Konsistensi ini bukanlah hal yang mudah. Jarak tempuh dari rumahnya di daerah komplek perumahan Bojongbata menuju sekolah seringkali mengharuskannya berangkat sebelum fajar menyingsing. Namun, baginya, lelah di perjalanan seolah terbayar lunas saat ia melihat gerbang sekolah dibuka dan ia bisa menyapa siswa-siswinya satu per satu yang mulai berdatangan,
“Sekarang sih tempat mengajar saya agak dekat, walaupun saya pernah tugas mengajar di daerah punggung saya selalu Ontime berangkat mengajar selama 30 tahun,” Ungkap Herlina, yang juga pernah menjadi kepala sekolah tersebut.
Di waktu awal pagi kedatangannya di sekolah pada pukul 06.00, Herlina kerap menjadi satu-satunya sosok yang ada di lingkungan sekolah.
Namun seiring berjalannya waktu, kebiasaan baik ini menular. Rekanan sesama guru mulai tergerak untuk datang lebih awal guna mempersiapkan materi ajar dengan lebih matang.
Siswa-siswi yang melihat konsistensi Ibu Guru yang terkenal dekat dengan para Wartawan dimanapun dirinya bertugas, ikut terdidik. Budaya antre, piket kelas pagi, dan suasana belajar yang kondusif langsung terasa sebelum bel masuk berbunyi.
Kepala sekolah setempat sangat mengapresiasi dedikasi luar biasa ini. Bagi sekolah, sosok Herlinawati bukan sekadar tenaga pengajar, melainkan pilar kedisiplinan dan teladan hidup yang tak ternilai harganya.
Kisah dari ujung Pantura ini menjadi bukti nyata bahwa pahlawan tanpa tanda jasa masih ada dan terus berkarya dengan ketulusan,
Apa yang dilakukan seorang Herlinawati di Pemalang adalah warisan karakter yang jauh lebih berharga daripada sekadar ilmu di papan tulis. Sebuah bukti bahwa kedisiplinan yang dimulai dari hati akan terus menginspirasi generasi penerus bangsa.*( Ragil)*







