SUMENEP – Di balik hamparan pantai yang memukau, gugusan pulau eksotis, serta pesona alam yang belum banyak tersentuh, tersimpan potensi ekonomi bernilai miliaran rupiah. Namun hingga kini, sebagian besar kekayaan tersebut dinilai masih “tertidur” dan belum mampu memberikan kontribusi maksimal bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kondisi itu membuat Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sumenep, Dul Siam, membunyikan alarm kepada Pemerintah Kabupaten Sumenep. Ia menegaskan, sudah saatnya potensi wisata alam tidak hanya menjadi kebanggaan, tetapi benar-benar diubah menjadi kekuatan ekonomi yang menyejahterakan masyarakat.
“Untuk meningkatkan PAD agar lompatannya maksimal, maka pemerintah kabupaten harus serius membuka sumber daya alam potensial untuk dikelola menjadi objek wisata,” tegas Dul Siam.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, Sumenep memiliki modal yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Mulai dari wisata pantai, pulau-pulau eksotis, hingga kekayaan budaya yang mampu menarik wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Sayangnya, potensi besar itu belum didukung infrastruktur dan pengelolaan yang memadai.
DPRD pun meminta pemerintah tidak lagi berjalan dengan pola biasa. Pembangunan akses jalan, fasilitas wisata, hingga promosi destinasi harus dipercepat agar sektor pariwisata benar-benar menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi baru.
“Banyak daerah di Sumenep yang memiliki potensi alam luar biasa. Pemerintah harus hadir dengan pembangunan infrastruktur agar potensi itu bisa menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.
Dul Siam menilai, jika dikelola secara profesional, sektor pariwisata akan melahirkan efek domino bagi perekonomian. UMKM akan tumbuh, usaha kuliner berkembang, lapangan kerja terbuka, ekonomi kreatif bangkit, dan PAD daerah ikut melonjak.
Data Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Sumenep menunjukkan target PAD tahun 2026 mencapai Rp334,30 miliar. Hingga pertengahan tahun, realisasinya baru sekitar Rp166,04 miliar atau 49,67 persen.
Karena itu, DPRD berharap pemerintah tidak lagi membiarkan “surga tersembunyi” Sumenep hanya menjadi pemandangan indah tanpa nilai ekonomi. Dengan langkah yang terukur dan berkelanjutan, kekayaan alam Sumenep diyakini mampu menjelma menjadi mesin pertumbuhan baru yang mengangkat kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kemandirian fiskal daerah.







