SUMENEP, Detikzone.id — Beragam warna seni dan budaya Jawa Timur bertemu di Kabupaten Sumenep melalui Madura Culture Festival (MCF) 2026. Festival ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga mempertemukan identitas budaya dari sejumlah daerah dalam satu panggung.
Digelar di GOR A. Yani Pangligur, Sumenep, MCF 2026 menghadirkan penampilan seni dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Timur. Setiap daerah membawa kesenian khas yang menjadi representasi karakter dan kekayaan budaya masing-masing.
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, keberagaman tersebut merupakan kekuatan budaya yang harus terus dirawat, terutama di tengah perkembangan zaman.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jawa Timur kaya dengan seni dan budaya yang merupakan bagian penting dari identitas setiap daerah,” kata Achmad Fauzi Wongsojudo, Jumat (28/8/2026).
Menurutnya, pertemuan berbagai kesenian dalam satu festival dapat membuka ruang interaksi antarpelaku seni sekaligus memperluas pengenalan budaya daerah kepada masyarakat.
MCF juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kembali kesenian tradisional. Pertunjukan yang dibawa masing-masing daerah memperlihatkan bahwa tradisi memiliki karakter yang berbeda, namun tetap dapat dipertemukan dalam satu ruang kebudayaan.
“Madura Culture Festival ini menjadi ruang bersama untuk menjaga, melestarikan, sekaligus mengembangkan seni budaya daerah, mengingat kekayaan budaya di Madura dan kawasan Tapal Kuda merupakan aset yang harus terawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Achmad Fauzi menilai, seni budaya tidak cukup hanya dipertahankan dalam bentuk pertunjukan. Kreativitas dan inovasi juga diperlukan agar kesenian daerah dapat terus berkembang dan diterima oleh generasi berikutnya.
“Budaya harus tetap hidup dan berkembang meskipun dengan inovasi mengikuti perkembangan zaman, tetapi jangan sampai kehilangan jati diri dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu,” tegasnya.
Dalam rangkaian pertunjukan MCF 2026, Kabupaten Sumenep menampilkan Tari Sonar Mosem Nemor. Dari luar Madura, Kabupaten Tuban membawa Tari Mustikaning Kenya, Kota Probolinggo dengan Tari Nyareh Jukok, Kabupaten Bondowoso menampilkan Wirogo Singo Konah, Kota Blitar dengan Tari Pleret, Kabupaten Malang melalui Tari Sekar Tunjung Biru, serta Kabupaten Pasuruan dengan Tari Gelora Pesisir.
Daerah lainnya juga ambil bagian dengan karya seni masing-masing. Kabupaten Nganjuk menampilkan Tari Anjuk Ladang Tumadang, Kabupaten Banyuwangi dengan Tari Majestik, Kabupaten Situbondo melalui Tari Bheko Tambeng, Kabupaten Bangkalan dengan Tari Arojung Paseseran, Kabupaten Sampang membawa Tari Kerabhen Sape, sedangkan Kabupaten Pamekasan menampilkan Tari Sandoreng.
Ragam penampilan tersebut memperlihatkan perbedaan karakter seni di setiap daerah sekaligus menjadi kesempatan untuk saling mengenal kekayaan budaya Jawa Timur.
Bagi Sumenep, MCF menjadi salah satu ruang untuk memperkenalkan budaya Madura kepada masyarakat yang lebih luas. Sementara bagi daerah peserta, festival tersebut menjadi kesempatan untuk membawa identitas budaya masing-masing ke panggung bersama.
“Yang paling penting adalah bagaimana kita bersama-sama menjaga identitas budaya daerah. Mari jadikan Madura Culture Festival sebagai ruang untuk berkarya, berkolaborasi dan memperkenalkan kekayaan seni budaya kita kepada Indonesia,” pungkas Achmad Fauzi Wongsojudo.







