SITUBONDO, Detikzone.id — Kiprah Husnantun atau yang akrab disapa Cak Tutun dalam pelestarian seni tradisional kembali mendapat kepercayaan di Kabupaten Sumenep. Maestro seni topeng asal Situbondo tersebut dipercaya menjadi juri dalam Festival Musik Tong Semadura 2026.
Kepercayaan itu bukan kali pertama. Cak Tutun telah enam tahun berturut-turut terlibat sebagai juri dalam kegiatan seni di Kabupaten Sumenep.
Pengalaman panjangnya dalam dunia seni topeng menjadi salah satu bekal dalam menjalankan tugas sebagai juri. Ia tidak hanya menilai aspek teknis penampilan, tetapi juga memperhatikan penghayatan, kostum, kesesuaian dengan pakem, serta nilai budaya yang ditampilkan peserta.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Cak Tutun, keterlibatan dalam festival bukan sekadar menjalankan tugas sebagai juri. Ia juga melihat kegiatan tersebut sebagai ruang untuk menjaga keberlangsungan seni tradisional sekaligus memberikan pengetahuan kepada generasi muda.
“Kesenian ini titipan. Kalau kita tidak jaga, siapa lagi?” ujar Cak Tutun.
Cak Tutun diketahui lahir dan besar di Situbondo. Kecintaannya terhadap seni topeng telah tumbuh sejak muda. Dari proses belajar, berlatih hingga mengajarkan kembali pengetahuan seni kepada generasi berikutnya, ia terus terlibat dalam pengembangan kesenian tradisional.
Dalam setiap kesempatan, ia juga berupaya memberikan masukan kepada para peserta, khususnya generasi muda. Menurutnya, proses regenerasi menjadi bagian penting agar seni tradisional tetap berkembang dan tidak kehilangan pakemnya.
“Saya tidak mau ilmu ini mati di saya. Harus ada yang meneruskan,” katanya.
Pada Festival Musik Tong Semadura 2026 yang mengusung tema Road to Karisma Event Nusantara, Cak Tutun kembali mendapat tanggung jawab untuk memberikan penilaian terhadap penampilan para peserta.
Festival tersebut menjadi salah satu ruang bagi para pelaku seni untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempertahankan keberadaan seni tradisional di tengah perkembangan zaman.
Cak Tutun berharap kegiatan seni seperti Festival Musik Tong Semadura dapat terus menjadi wadah bagi lahirnya generasi muda yang memiliki kepedulian terhadap budaya daerah.
Menurutnya, pelestarian seni tidak cukup hanya dengan mempertahankan bentuk pertunjukan, tetapi juga perlu diiringi dengan pemahaman terhadap nilai dan filosofi yang terkandung di dalamnya.
“Piala boleh satu, tetapi kecintaan terhadap budaya harus menjadi milik kita bersama,” pungkasnya.
Pewarta: Anton







