PROBOLINGGO – Perang terhadap stunting di Kabupaten Probolinggo memasuki babak baru dengan strategi yang lebih solid. Sadar bahwa penanganan gizi buruk tidak bisa berjalan sendiri-sendiri, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Probolinggo memilih bergerak cepat menyatukan visi seluruh fasilitas kesehatan di wilayahnya.
Selama dua hari berturut-turut, Rabu hingga Kamis (14–15/10/2026), atmosfer ruang rapat koordinasi (rakor) tampak hidup. Dinkes mengumpulkan garda terdepan pelayanan gizi: para tenaga nutrisionis dari 33 puskesmas dan enam rumah sakit se-Kabupaten Probolinggo. Mereka duduk bersama untuk merajut sistem rujukan dan intervensi yang tanpa celah.
Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kabupaten Probolinggo, Sri Wahyu Utami, menegaskan bahwa kecepatan dan ketepatan penanganan adalah kunci. Bayi dan balita yang terdeteksi mengalami masalah gizi tidak boleh menunggu terlalu lama untuk mendapatkan hak kesehatannya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kami ingin memastikan tidak ada lagi sekat antara puskesmas dan rumah sakit. Melalui penguatan jejaring ini, balita yang mengalami masalah gizi bisa langsung diintervensi dengan cepat, tepat, dan berkelanjutan. Ini adalah langkah konkret kita untuk membebaskan anak-anak Probolinggo dari bayang-bayang stunting,” ujar Sri Wahyu dengan nada optimis.
Bukan sekadar koordinasi di atas kertas, rakor ini langsung diisi dengan pembekalan medis yang tajam. Pada hari pertama, para peserta ditantang untuk meningkatkan kapasitas mereka lewat pemaparan dr. Made Suderata, Sp.A. Dokter spesialis anak tersebut mengupas tuntas tema “Optimalisasi Terapi Nutrisi dalam Penanganan Balita Bermasalah Gizi”.
Dalam paparannya, dr. Made menekankan bahwa terapi nutrisi bukan sekadar memberi makan, melainkan sebuah tindakan medis yang terukur untuk menyelamatkan masa depan sel-sel pertumbuhan anak.
“Pemahaman para nutrisionis di lapangan harus disamakan. Pelayanan harus lebih terarah agar status gizi anak yang bermasalah bisa langsung terkoreksi dengan baik,” tambah Sri Wahyu menjelaskan esensi materi tersebut.
Dinkes Kabupaten Probolinggo berharap, sepulangnya dari rakor ini, para tenaga kesehatan membawa semangat baru ke fasilitas masing-masing. Kolaborasi yang harmonis antara deteksi dini di tingkat puskesmas dan penanganan intensif di rumah sakit diharapkan menjadi benteng kokoh yang mampu menurunkan prevalensi stunting secara signifikan, demi lahirnya generasi Probolinggo yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Penulis : Moch Solihin







