BAWEAN, detikzone.id — Menjadi pengurus takmir masjid bukan sekadar mengisi struktur organisasi, melainkan memikul amanah untuk menghidupkan rumah Allah. Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan turun ke bawah (turba) PC Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kecamatan Sangkapura bersama MUI Kecamatan Sangkapura dan Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Bawean di Masjid Darun Najah, Dusun Laut Sungai, Desa Dekatagung, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan ini menjadi momentum pembinaan sekaligus penguatan kapasitas pengurus Takmir Masjid Darun Najah periode 2026–2031. Tidak hanya sosialisasi kelembagaan, agenda tersebut juga diisi pelantikan pengurus, pemantapan tugas dan tanggung jawab, serta penyerahan papan nama masjid dan buku khutbah.
Ketua PC DMI Kecamatan Sangkapura, Kiai Moh. Ilyas, menegaskan bahwa kepercayaan menjadi pengurus takmir merupakan amanah sekaligus kehormatan yang harus dijalankan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Menurutnya, kesibukan pribadi tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengabaikan tugas mengurus masjid. Sebab, pengabdian tersebut memiliki nilai ibadah apabila dilandasi niat karena Allah SWT.
“Kalau diniatkan ikhlas karena Allah SWT, tugas-tugas takmir ini justru menjadi bukti dan tanda bahwa seseorang merupakan hamba yang dicintai oleh Allah SWT,” ungkapnya.
Ia kemudian mengingatkan tiga pilar utama pengelolaan masjid yang wajib dipahami setiap pengurus, yakni Imarah, Ri’ayah, dan Idarah.
Imarah berkaitan dengan upaya memakmurkan masjid melalui kegiatan ibadah, dakwah, dan aktivitas keagamaan. Ri’ayah menyangkut pemeliharaan sarana, prasarana, kebersihan, serta kenyamanan lingkungan masjid. Sedangkan Idarah berhubungan dengan tata kelola organisasi, administrasi, dan keuangan yang tertib serta transparan.
Kiai Ilyas menekankan bahwa ukuran kemakmuran masjid bukan terletak pada megahnya bangunan, melainkan pada hidupnya kegiatan ibadah dan keaktifan jemaah.
“Yang paling utama bukan hanya membangun fisik masjid, tetapi bagaimana menghidupkan kegiatan jemaahnya,” tegasnya.
Senada dengan itu, Ketua LTMNU PCNU Bawean, Shalehuddin, menyoroti pentingnya keseriusan pengurus dalam menjalankan amanah. Menurutnya, struktur kepengurusan tidak akan berarti apabila tidak diikuti kerja nyata dan tanggung jawab masing-masing pengurus.
Ia mendorong pengurus baru segera menggelar musyawarah atau rapat kerja untuk menyamakan visi, menyusun program, serta membagi tugas setiap bidang secara jelas.
“Setiap pengurus dituntut untuk senantiasa menjaga amanah yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Shalehuddin juga mengingatkan agar pengelolaan keuangan masjid dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan. Setiap pemasukan dan pengeluaran, termasuk dana kotak amal serta biaya operasional, harus dicatat dengan baik.
Tak kalah penting, pemeliharaan fasilitas dan kebersihan lingkungan masjid harus menjadi perhatian agar jemaah mendapatkan kenyamanan dalam beribadah.
Ia juga menekankan bahwa pengurus takmir harus menjadi teladan di tengah masyarakat, terutama dalam menjaga keistiqamahan salat berjemaah.
“Mengurus masjid bukan hanya tanggung jawab organisasi, tetapi juga bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Siapa yang meluangkan waktunya untuk mengurus rumah Allah, hendaknya yakin bahwa Allah SWT akan memberikan pertolongan dan keberkahan dalam kehidupannya,” tuturnya.
Melalui turba tersebut, DMI, MUI, dan LTMNU Bawean berharap kepengurusan baru Takmir Masjid Darun Najah mampu menjalankan roda organisasi secara lebih tertib, transparan, dan aktif. Dengan demikian, masjid tidak hanya berdiri megah secara fisik, tetapi benar-benar hadir sebagai pusat ibadah, dakwah, dan pembinaan umat.







