PROBOLINGGO, detikzone.id – Harapan ribuan pencari kerja (pencaker) untuk mendapatkan pekerjaan melalui pameran Job Fair yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Probolinggo pada Juli lalu, ternyata tak berbuah manis. Alih-alih menekan angka pengangguran, penyerapan tenaga kerja pasca acara justru terbilang minim.
Meski kerumunan pencaker memenuhi halaman kantor Disnaker saat itu, banyak yang pulang dengan tangan hampa. Lowongan kerja yang terbatas, ditambah seleksi berlapis, membuat sebagian pencaker menilai job fair hanya sekadar seremoni dan formalitas. Bukan solusi nyata, melainkan ajang yang menghabiskan waktu, tenaga, bahkan biaya hingga puluhan juta rupiah.
Pelaksana Tugas (Plt) Bidang Penempatan Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnaker Kabupaten Probolinggo, Dewi Handayani, membenarkan bahwa tidak semua pelamar langsung diterima.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Job fair memang wadah mempertemukan perusahaan dengan pencari kerja. Tapi hasilnya tetap bergantung pada seleksi dan kebutuhan perusahaan. Sejauh ini, baru 70 orang yang sedang dalam proses penempatan dalam daerah, sedangkan untuk luar negeri masih menunggu uji kompetensi,” ujarnya, Selasa (09/09/2025).
Tercatat ada 27 perusahaan yang ikut berpartisipasi dalam kegiatan itu. Rinciannya, 20 perusahaan untuk penempatan dalam daerah, dan 7 perusahaan membuka peluang kerja di luar negeri.
Namun realita di lapangan tak seindah harapan. Dari ribuan pencaker yang berdesakan mendaftar, hanya segelintir yang berkesempatan lanjut ke tahap seleksi berikutnya. Banyak yang pulang dengan wajah kecewa, karena kesempatan kerja yang dijanjikan terasa semu.
Kondisi ini memunculkan kritik dari sejumlah pihak yang menilai job fair di Probolinggo belum menyentuh akar persoalan pengangguran. Mereka berharap ke depan, kegiatan serupa bukan hanya sekadar panggung seremonial, tetapi benar-benar mampu membuka akses kerja yang nyata bagi masyarakat.
Penulis : Moch Solihin








