Ajang Glamor Festival Batik Sumenep Dinilai Sebagai Ajang Hura Hura tak Jelas

Jumat, 12 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP – Ajang glamor Festival Batik Sumenep yang setiap tahun digelar dengan kemeriahan panggung, parade busana, hingga berbagai lomba hiburan, kini menuai kritik. Alih-alih dianggap sebagai wujud pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif, hajatan ini justru dipandang semakin jauh dari persoalan mendasar yang dihadapi para pengrajin batik lokal.

Sejumlah pengrajin menyatakan kekecewaannya karena festival yang seharusnya menjadi ruang pemberdayaan, justru lebih menonjolkan kemewahan seremonial.

“Apa dampaknya selama ini? Festival digelar tiap tahun, tapi nasib pengrajin tetap di tempat. Tidak semua dilibatkan, jadi ini memasarkan batik siapa? Ini seperti ajang Hura Hura tak jelas,” tegas seorang pengrajin batik asal Sumenep, Jumat (12/9/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menambahkan, pelatihan membatik, pendampingan UMKM, serta pembukaan akses pasar justru jarang disentuh dalam rangkaian kegiatan. “Kalau betul niatnya promosi batik, libatkan semua pengrajin. Jangan hanya desainer elite atau kerabat panitia yang mendapat panggung,” ujarnya.

Nada serupa juga datang dari pengrajin lainnya. Ia menyebut festival ini tak lebih dari ajang pamer tubuh berbalut batik, yang mengaburkan makna warisan budaya.

“Mau lestarikan batik atau hanya menjadikannya kedok pencitraan? Kalau sekadar defile dan kontes, itu bukan pelestarian budaya. Itu hura-hura,” sindirnya.

Pengamat kebudayaan turut menilai, sudah saatnya penyelenggara bersama pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh. Menurut mereka, festival seharusnya menjadi wadah pemberdayaan bagi pengrajin lokal yang selama ini berjibaku menjaga tradisi, bukan sekadar pesta glamor bagi segelintir pihak.

“Pelestarian budaya harus dimulai dari akar, yakni para perajin. Kalau mereka tidak diberi ruang, maka festival hanya akan jadi rutinitas tanpa makna,” ungkap seorang pemerhati budaya lokal.

Kini publik menanti, apakah kritik keras ini akan ditanggapi serius oleh panitia dan pemerintah daerah. Sebab menjaga batik sebagai warisan budaya dunia bukan hanya soal pesta seremonial, melainkan keberlanjutan hidup para perajin yang menjadi penopangnya.

 

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Jeritan Petani Bawang Merah Probolinggo Tercekik Plasi 35 Persen, DKUPP dan Diperta Malah Saling Lempar?
93 Hari Berbagi Tanpa Jeda di Sumenep, Detikzone.id Buktikan Jurnalisme Tak Sekadar Memberitakan
Gedor 18 OPD Teknis, Pemkab Probolinggo Kunci Target Serapan APBD 80 Persen di Oktober
Siswa SMKN 1 Sumber Wringin Kreatif Bikin Macan-Macanan, Pesanan Tembus Luar Bondowoso
Dorong Perempuan Berprestasi, Bupati Fauzi Perkuat Peran Perwosi Sumenep
Haji Her-Haji Mukmin Bersama Bupati dan Ulama Larut dalam Sumenep Bersholawat
Bersama Puluhan Ribu Jamaah, Bupati-Wabup dan Forkopimda Sumenep Larut dalam Sholawat
Anggota DPRD Sumenep Dukung Pembangunan Pos TNI Angkatan Laut di Masalembu

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 11:55 WIB

Jeritan Petani Bawang Merah Probolinggo Tercekik Plasi 35 Persen, DKUPP dan Diperta Malah Saling Lempar?

Rabu, 2 September 2026 - 20:59 WIB

93 Hari Berbagi Tanpa Jeda di Sumenep, Detikzone.id Buktikan Jurnalisme Tak Sekadar Memberitakan

Rabu, 2 September 2026 - 19:38 WIB

Gedor 18 OPD Teknis, Pemkab Probolinggo Kunci Target Serapan APBD 80 Persen di Oktober

Rabu, 2 September 2026 - 19:14 WIB

Siswa SMKN 1 Sumber Wringin Kreatif Bikin Macan-Macanan, Pesanan Tembus Luar Bondowoso

Rabu, 2 September 2026 - 19:09 WIB

Dorong Perempuan Berprestasi, Bupati Fauzi Perkuat Peran Perwosi Sumenep

Berita Terbaru