SUMENEP – Di bawah naungan atap Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, Pangarangan, tumpukan kitab klasik tak sekadar menjadi pajangan rak yang berdebu. Teks-teks kuno itu kembali “dipanggil” untuk berdialog dengan realitas modern yang kian kompleks. Senin (5/1/2026), Forum Kajian Kitab Kuning (FK3) menggelar simposium intelektual yang unik: membedah napas ekonomi rakyat lewat kacamata syariat.
Tajuk yang diangkat pun sangat membumi, yakni “Dilema Toko Kelontong Madura”. Sebuah tema yang menyentuh urat nadi ekonomi masyarakat Madura yang kini menjamur di seantero Nusantara.
Mencari Jalan Tengah bagi Ekonomi Umat
Bagi sebagian orang, toko kelontong mungkin hanya soal transaksi jual-beli biasa. Namun, di meja Bahtsul Masail, para kiai pakar hukum syariat, santri, dan musyawirin membedahnya lebih dalam. Ada kekhawatiran bahwa praktik di lapangan terkadang bersinggungan dengan status fasid (cacat) atau batal secara hukum fikih yang ketat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Diskusi yang berlangsung dinamis sejak pukul 08.00 WIB hingga menjelang Zuhur tersebut tidak mencari siapa yang salah. Sebaliknya, FK3 berupaya mencari titik temu antara idealisme hukum Tuhan dengan realitas sosial yang serba cepat. Hasilnya? Sebuah solusi moderat yang mengedepankan prinsip yusrun (kemudahan).
“Hal ini membuktikan jati diri FK3 sebagai kelompok filantropis yang peduli pada aspek religiusitas sekaligus ketahanan ekonomi umat,” tulis laporan resmi kegiatan tersebut.
Motor Literasi di Balik Bilik Pesantren
Pertemuan di PP Mathali’ul Anwar ini merupakan putaran keenam, sekaligus menjadi penutup manis masa transisi FK3 sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Selain memecahkan problematika hukum, forum ini terbukti menjadi “suplemen” bagi ekosistem pendidikan pesantren di Sumenep.
Ustadz Moh Saif Abdillah, Ketua LBM PP Mathali’ul Anwar, melihat forum ini sebagai katalisator penting bagi kemampuan literasi para santri. Ia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung gerakan intelektual ini.
“Kami sangat mendukung kegiatan Bahtsul Masail FK3 ini karena sangat menunjang minat literasi kitabiyah di pesantren, terutama di Mathali’ul Anwar. Setiap kali ada acara, kami akan terus berusaha mengirimkan delegasi di mana pun lokasinya. Hal inilah yang membuat LBM PPMA saat ini sedang gencar melakukan bahtsul masail untuk meningkatkan literasi kitabiyah para santri dan juga agar dapat ikut berkontribusi dalam acara FK3 ini,” ujar Saif.
Konsistensi Menjaga Tradisi
FK3 kini bukan lagi sekadar ruang dikusi biasa. Ia telah bertransformasi menjadi institusi non-formal yang vital, sebuah wadah filantropi intelektual yang menjaga nalar kritis santri di tengah gempuran modernitas.
Acara ditutup dengan penuh khidmat dan harapan akan keberlanjutan. Salah satu santri dari PP Al-Bustan mengungkapkan kesan mendalamnya atas ruang dialog yang tercipta.
“Harapannya, semoga FK3 tetap konsisten, dan kita semua (para musyawirin) bisa bertemu lagi dalam kesempatan lain, baik dalam debat, dialog, maupun pembahasan lainnya.”
Di tengah dunia yang terus berubah, FK3 mengirimkan pesan kuat: bahwa memahami teks suci bukan berarti kaku terhadap zaman, melainkan upaya terus-menerus untuk membumikan agama demi kemaslahatan manusia.
Penulis : Moh. Saif Abdillah
Editor : Slow Ahmadi Neja








