SUMENEP – Proses seleksi terbuka Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT) Pratama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep Tahun 2026 kian mengerucut dan menyisakan dinamika yang tak sederhana. Di balik tahapan administratif dan assesment kompetensi yang tampak formal, tersimpan drama harapan publik, kekecewaan, sekaligus spekulasi tentang sosok yang kelak akan menjadi “dirigen” birokrasi Sumenep.
Dua nama yang sejak awal disebut-sebut sebagai calon kuat dan harapan masyarakat, yakni Eri Susanto dan Arif Firmanto, kini tak ada di lintasan menuju tiga besar. Gugurnya Eri Susanto, birokrat senior dengan rekam jejak panjang di sektor teknis, memunculkan rasa kehilangan di kalangan aktivis dan wartawan lokal.
Banyak pihak menilai Eri adalah figur yang layak melenggang jauh dalam seleksi ini.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Eri Susanto itu bukan pejabat biasa. Pengalamannya panjang, kapasitas teknisnya kuat, dan ia memahami denyut birokrasi. Wajar jika publik menyayangkan gugurnya beliau,” ujar salah seorang wartawan senior di Sumenep.
Hal serupa juga dilekatkan pada Arif Firmanto, teknokrat perencana yang dikenal memahami peta pembangunan jangka panjang daerah dan visioner.
“Kedua sosok ini dianggap memiliki modal penting untuk mengorkestrasi birokrasi, terutama di tengah tantangan kompleks pemerintahan daerah yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga sosial dan politik. Namun, seleksi terbuka memiliki logikanya sendiri,” tegasnya.
Panitia Seleksi (Pansel) Pengisian JPT Pratama Sekda Sumenep secara resmi mengumumkan hasil assesment kompetensi dan potensi pada Kamis petang, 5 Februari 2026, tertuang dalam Pengumuman Nomor: 13/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026, berdasarkan Berita Acara Rapat Pansel Nomor: 12/PANSEL JPT PRATAMA-SMP/II/2026.
Dari delapan pelamar yang dinyatakan lolos seleksi administrasi, tujuh hadir mengikuti tahapan assesment, sementara satu peserta tercatat mengundurkan diri. Berdasarkan penilaian Badan Kepegawaian Daerah Provinsi Jawa Timur, enam peserta dinyatakan memenuhi syarat untuk melanjutkan ke tahap berikutnya, sementara satu peserta tidak memenuhi syarat.
Enam kandidat yang lolos assesment, berdasarkan urutan abjad, yakni Achmad Dzulkarnain, Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, Ferdiansyah Tetrajaya, Moh Iksan, dan R. Abd. Rahman Riadi. Sementara Eri Susanto tidak lolos. Keenamnya dijadwalkan mengikuti tahapan penulisan makalah dan wawancara pada 6–7 Februari 2026 di Hotel Swiss-Belinn, Surabaya.
Pansel menegaskan, hasil assesment bersifat mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Di tengah gugurnya figur yang sebelumnya diharapkan publik, muncul komentar menarik dari pemerhati birokrasi Sumenep, Abu Jamal. Ia mengistilahkan persaingan dalam seleksi Sekda sebagai Kuda Hitam vs Kuda Putih.
“Selama ini istilah Kuda Hitam selalu muncul di setiap seleksi Sekda, sosok yang tak terduga dan mengejutkan publik. Namun kini, muncul istilah Kuda Putih, figur yang konsisten, bekerja apa adanya tanpa pencitraan, tapi potensial memimpin birokrasi dengan stabil,” ujar Abu Jamal.
Menurut Abu Jamal, tantangan Sekda bukan sekadar soal administrasi dan koordinasi antar-OPD, tetapi juga bagaimana menyatukan ritme kerja birokrasi, menjaga harmoni sosial, dan menerjemahkan visi kepala daerah ke kebijakan nyata.
“Kuda Putih ini punya karakter pemimpin yang tenang, jenius, dan tidak reaktif. Figur seperti ini dibutuhkan untuk mengorkestrasi Sumenep,” tegasnya.
Dinamika seleksi Sekda Sumenep menunjukkan bahwa posisi ini bukan jabatan biasa. Sekda adalah simpul strategis antara kepala daerah dan seluruh perangkat birokrasi, yang menuntut kecakapan manajerial, sensitivitas sosial, serta kemampuan membaca situasi politik.
Di antara enam kandidat yang tersisa, masing-masing membawa keunggulan dan latar belakang berbeda. Namun mata publik perlahan mengerucut pada figur yang dinilai paling komplet secara administratif, sosial, dan strategi. Figur yang bisa disebut Kuda Putih. Sosok ini bukan hanya memenuhi persyaratan formal, tetapi mampu menyatukan ritme kerja birokrasi, menjaga harmoni sosial, dan menerjemahkan visi kepala daerah ke dalam kebijakan yang nyata.
Bagi pengamat, Kuda Putih menjadi simbol harapan Sumenep. Pemimpin yang bekerja konsisten, tidak reaktif, dan mampu memimpin tanpa perlu pencitraan. Dalam kondisi Sumenep yang memerlukan stabilitas birokrasi sekaligus respons terhadap dinamika sosial-politik, figur seperti ini dinilai paling siap untuk mengorkestrasi pemerintahan dengan bijak dan efektif.
“Kuda Putih perlahan muncul sebagai jawaban atas harapan itu, menjadi figur yang layak diperhitungkan untuk membawa Sumenep menuju tata kelola birokrasi yang lebih tertib, efisien, dan berpihak pada masyarakat,’ tandasnya.
Penulis : Redaksi








