Cahaya Pro: Dari 36 ke 70 Persen, Rokok Lokal Dibebani Pajak yang Membunuh

Sabtu, 28 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Detikzone.id Angka tak pernah berbohong. Tetapi kebijakan sering kali menutup mata. Itulah potret getir yang disuarakan pelaku industri hasil tembakau Madura saat membandingkan kebijakan tarif cukai rokok tahun 1999 dengan kondisi tahun 2026 yang kini dinilai kian mencekik.
Owner PR Cahaya Pro, H. Fathor Rosi, membeberkan fakta historis yang mencengangkan.

Pada 1999, harga Sigaret Kretek Mesin (SKM) hanya Rp225 per batang dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) Rp150 per batang. Total pungutan negara kala itu—termasuk cukai dan pajak lain, berada di kisaran 36 persen.

Namun situasinya berbalik drastis pada 2026. Tarif cukai rokok melonjak hingga 57 persen, ditambah PPN 9,9 persen, serta pajak rokok daerah 10 persen. Total beban yang harus ditanggung industri kini mendekati 70 persen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Artinya sederhana tapi menyakitkan. Kalau harga rokok Rp10 ribu, maka Rp7 ribu masuk ke negara,” tegas Fathor Rosi, Jumat (28/2/2026).

Kenaikan ini, menurutnya, bukan sekadar angka statistik, melainkan tekanan nyata yang mendorong industri rokok lokal ke tepi jurang. Harga jual eceran melonjak, daya beli konsumen tergerus, dan pelaku usaha kecil–menengah dipaksa bertarung dalam ketimpangan kebijakan.

Lebih ironis lagi, industri rokok Madura yang usianya rata-rata belum genap dua dekade, harus menanggung beban yang sama beratnya dengan industri besar yang telah mapan puluhan tahun. Padahal, sektor ini menyerap ribuan tenaga kerja—mulai petani tembakau, buruh linting, hingga distributor lokal.

Para pengusaha rokok Madura kini satu suara: tarif cukai SKM Rp250 per batang dianggap sebagai batas realistis agar industri tetap hidup dan mau masuk sistem legal. Jika tarif terus dipaksa tinggi, justru dikhawatirkan memperluas pasar rokok ilegal dan mereduksi penerimaan negara dalam jangka panjang.

“Kami tidak sedang mengatur negara. Kami hanya meminta keadilan agar bisa sama-sama bertahan,” ujarnya.

Di tengah gencarnya negara mengejar target penerimaan, suara dari daerah ini menjadi alarm keras: apakah kebijakan cukai masih berpihak pada keberlangsungan ekonomi rakyat, atau semata-mata menjadikan industri tembakau sebagai mesin pemeras fiskal tanpa empati?

Penulis : Edy

Berita Terkait

Jeritan Petani Bawang Merah Probolinggo Tercekik Plasi 35 Persen, DKUPP dan Diperta Malah Saling Lempar?
Gedor 18 OPD Teknis, Pemkab Probolinggo Kunci Target Serapan APBD 80 Persen di Oktober
Dorong Perempuan Berprestasi, Bupati Fauzi Perkuat Peran Perwosi Sumenep
Bersama Puluhan Ribu Jamaah, Bupati-Wabup dan Forkopimda Sumenep Larut dalam Sholawat
Anggota DPRD Sumenep Dukung Pembangunan Pos TNI Angkatan Laut di Masalembu
Demi Keselamatan Nelayan Masalembu, Bupati Sumenep Usulkan Pembangunan Posal, Bukti Nyata Perhatian untuk Masyarakat Kepulauan
Bupati Fauzi: Sumenep Bersholawat Simbol Kebersamaan dan Kecintaan kepada Rasulullah, Pemkab Apresiasi PT Arinna Makmur Sentosa
Jaga Fisik Sejak Dini, Dinkes Probolinggo Garap Kesehatan Haji Lintas Sektor

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 11:55 WIB

Jeritan Petani Bawang Merah Probolinggo Tercekik Plasi 35 Persen, DKUPP dan Diperta Malah Saling Lempar?

Rabu, 2 September 2026 - 19:38 WIB

Gedor 18 OPD Teknis, Pemkab Probolinggo Kunci Target Serapan APBD 80 Persen di Oktober

Rabu, 2 September 2026 - 19:09 WIB

Dorong Perempuan Berprestasi, Bupati Fauzi Perkuat Peran Perwosi Sumenep

Rabu, 2 September 2026 - 13:00 WIB

Bersama Puluhan Ribu Jamaah, Bupati-Wabup dan Forkopimda Sumenep Larut dalam Sholawat

Rabu, 2 September 2026 - 12:45 WIB

Anggota DPRD Sumenep Dukung Pembangunan Pos TNI Angkatan Laut di Masalembu

Berita Terbaru