PAMEKASAN, Detikzone.id – Kepedulian terhadap anak yatim yang terinspirasi dari teladan Rasulullah SAW mengantarkan Ali Zainal Abidin, pengusaha muda sukses sekaligus Founder Bani Insan Peduli (BIP), dinobatkan sebagai Abul Yatama (Bapaknya anak anak yatim). Julukan tersebut disematkan karena dedikasi dan konsistensinya dalam memuliakan anak-anak yatim melalui berbagai kegiatan sosial yang digelar di berbagai daerah.
Penilaian itu disampaikan Ketua Gerakan Pemuda Madura (GAPURA), Habib ABD Razak, yang menyebut Ali Zainal Abidin sebagai sosok yang benar-benar menghidupkan nilai kepedulian sosial sebagaimana diajarkan dalam Islam.
“Ali Zainal Abidin adalah Abul Yatama. Sosok yang membuktikan bahwa kepedulian kepada anak yatim bukan sekadar kata-kata, tetapi aksi nyata yang terus dilakukan. Apa yang beliau lakukan adalah cerminan dari ajaran Rasulullah tentang memuliakan anak-anak yatim,” ujar Habib ABD Razak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Pengakuan tersebut semakin menguat setelah Bani Insan Peduli sukses menggelar kegiatan sosial berskala besar di Gedung Bakorwil IV Pamekasan, Jumat (6/3/2026). Dalam kegiatan itu, sebanyak 3.000 anak yatim diundang untuk mengikuti buka puasa bersama sekaligus belanja gratis kebutuhan Lebaran.
Acara yang dihadiri sekitar 6.000 peserta itu bahkan langsung tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai salah satu kegiatan sosial terbesar yang melibatkan anak-anak yatim.
Gedung Bakorwil Pamekasan dipenuhi suasana kebahagiaan. Gelak tawa dan senyum anak-anak yatim terlihat di berbagai sudut ruangan. Para relawan menyiapkan santunan, pakaian Lebaran, hingga ribuan porsi makanan khas Madura bagi para peserta.
Puncak acara yang paling mengharukan adalah pelepasan 3.000 balon harapan ke langit Pamekasan, simbol doa dan cita-cita anak-anak yatim yang melangit bersama harapan masa depan yang lebih cerah.
Founder BIP Ali Zainal Abidin mengatakan bahwa kegiatan tersebut lahir dari keyakinannya bahwa anak-anak yatim memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam.
“Ini bukan sekadar kegiatan berbagi. Ini panggilan hati. Dari anak-anak yatim lahir keberkahan dan kemenangan. Setiap senyum mereka adalah pengingat bagi kita untuk terus peduli,” ujar Ali Zainal Abidin.
Dalam setiap kesempatan berbicara di hadapan masyarakat, Ali Zainal Abidin dikenal sering mengutip ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits yang berkaitan dengan keutamaan memuliakan anak yatim. Bahkan, tidak jarang ia menyebut nama Rasulullah SAW dengan penuh haru hingga meneteskan air mata saat menyampaikan pesan-pesan kebaikan.
Bagi Ali Zainal Abidin, kisah-kisah keteladanan Rasulullah menjadi inspirasi utama dalam menjalankan berbagai program sosial yang digagas melalui Bani Insan Peduli.
“Rasulullah mengajarkan kita bahwa memuliakan anak yatim adalah bagian dari kemuliaan iman. Kami hanya berusaha mengikuti jejak itu, menghadirkan sedikit kebahagiaan bagi mereka,” katanya.
Selama ini Bani Insan Peduli dikenal konsisten menghadirkan berbagai program kemanusiaan yang melibatkan anak-anak yatim. Kegiatan tersebut tidak hanya digelar di Pamekasan, tetapi juga di Sumenep, Jakarta, Malang, hingga Surabaya.
Gerakan sosial ini membuat BIP menjadi salah satu komunitas kemanusiaan yang aktif menebar kebaikan di berbagai daerah.
Ketua GAPURA Habib ABD Razak menilai konsistensi tersebut sebagai bukti bahwa Ali Zainal Abidin tidak sekadar menjalankan kegiatan sosial sesaat.
“Beliau tidak hanya membantu sekali atau dua kali. Ini sudah menjadi gerakan kemanusiaan yang terus berjalan. Karena itu kami menyebut beliau sebagai Abul Yatama,” tegasnya.
Menurutnya, apa yang dilakukan Ali Zainal Abidin adalah teladan bagi generasi muda untuk menjadikan kesuksesan sebagai sarana berbagi kepada sesama.
“Kesuksesan yang sejati adalah ketika seseorang mampu membawa manfaat bagi orang lain. Ali Zainal Abidin menunjukkan bahwa kepedulian sosial adalah jalan kemuliaan,” tambah Habib ABD Razak.
Rangkaian kegiatan dimulai sejak pukul 15.00 WIB, kemarin dengan berbagai agenda, mulai dari khotmil Qur’an, santunan anak yatim, hiburan badut dan sulap, doorprize, musik Islami, hingga sholat Magrib berjamaah.
Tidak hanya itu, panitia juga menyiapkan sekitar 100.000 tusuk sate khas Madura untuk dibagikan kepada para peserta yang hadir.
Anak-anak yatim juga mendapatkan kesempatan belanja gratis baju Lebaran, sehingga mereka dapat merasakan kegembiraan menyambut Hari Raya Idulfitri seperti anak-anak lainnya.
Suasana haru terlihat di wajah para peserta. Tawa anak-anak berpadu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dari para santri tahfidz yang menggema di lokasi acara.
Kegiatan sosial tersebut akhirnya mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai bentuk apresiasi atas program kemanusiaan yang melibatkan ribuan anak yatim.
Komentar haru juga datang dari para relawan yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Melihat Ali Zainal Abidin berada di tengah anak-anak yatim membuat kami terharu. Beliau benar-benar hidup untuk kebaikan. Abul Yatama bukan sekadar gelar, tetapi tindakan nyata,” ujar salah satu relawan BIP.
Relawan lainnya menambahkan bahwa setiap kegiatan BIP selalu membawa semangat kemanusiaan yang kuat.
“Setiap kegiatan BIP membuat kita percaya bahwa masih banyak orang baik di negeri ini. Ali Zainal Abidin mengajarkan bahwa berbagi bukan pilihan, tetapi kewajiban hati,” katanya.
Pamekasan menjadi saksi bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu, Ramadan menjadi momentum untuk menebar kasih sayang, menghadirkan kebahagiaan, dan menyalakan harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Dan di balik semua itu, sosok Ali Zainal Abidin, Abul Yatama (Bapak Anak Yatim) berdiri sebagai simbol bahwa kepedulian yang tulus mampu mengubah kehidupan ribuan anak serta meninggalkan jejak kebaikan yang akan dikenang sepanjang masa.







