RSUD Waluyo Jati Probolinggo Tegaskan Transparansi, Tapi Isu Mark-up Tetap Menggelayuti Publik

Jumat, 13 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Dugaan mark-up pada pengadaan bahan bangunan RSUD Waluyo Jati Tahun Anggaran 2025 kembali menjadi sorotan publik. Pihak rumah sakit membantah adanya kemahalan harga, menegaskan seluruh pengadaan telah dilakukan sesuai aturan, didukung dokumen resmi, dan harga satuan tercatat masih wajar dibanding harga pasar.

Direktur RSUD, Dr. Yessi Rahmawati, menjelaskan, tidak ada mark-up pembelian bahan penunjang.

“Semua sesuai harga kontrak dan volume. Contohnya, kuas 2 inch kode RUP 59373302 dibeli Rp 250.000 per item, isi kuas roll Rp 500.000, dan scrup 3 dem Rp 350.000 per item, sesuai harga pasar.” katanya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengadaan dilakukan melalui e-purchasing, sistem elektronik resmi yang diklaim mengurangi intervensi, dengan seluruh transaksi tercatat dalam Surat Pesanan (SP). Dokumen ini memuat rincian barang, jumlah, harga satuan, dan total nilai transaksi, ditandatangani pejabat berwenang.

Pengadaan berlangsung bertahap sepanjang tahun, berdasarkan kebutuhan pemeliharaan sarana dan prasarana rumah sakit, dengan penerbitan SP pada Februari, Maret, Mei, Juli, dan Agustus 2025. Pola ini, meski logis secara operasional, tetap menjadi sorotan pengamat untuk menilai transparansi penuh.

Terkait Harga Perkiraan Sendiri (HPS), Perpres No 46 Tahun 2025 menjelaskan HPS sebagai alat internal menilai kewajaran harga penawaran, bukan dasar menghitung kerugian negara. Namun publik mempertanyakan apakah HPS cukup untuk menjamin tidak ada harga yang “melampaui” batas wajar.

Aktivis Probolinggo, Ahmad Gufron, menambahkan perspektif publik terhadap isu ini.

“Walaupun pihak RSUD Waluyo Jati menyatakan semua pengadaan sudah sesuai aturan, kami sebagai publik berhak mempertanyakan transparansi prosesnya. Mekanisme elektronik memang ada, tapi tidak otomatis menjamin tidak ada celah. Setiap angka dan harga yang tercatat seharusnya bisa diverifikasi independen agar masyarakat tidak kehilangan kepercayaan,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Dengan dokumen lengkap, mekanisme elektronik, dan pengadaan periodik, RSUD Waluyo Jati menegaskan dugaan mark-up tidak berdasar. Namun kontroversi tetap muncul, menimbulkan pertanyaan publik: apakah transparansi pengadaan benar-benar bisa diverifikasi secara independen.

Berita Terkait

27 Dokter di Probolinggo ‘Digembleng’ 10 Hari di Lawang, Targetkan Eliminasi Total Malaria
Bupati Fauzi: Kepercayaan Kemenkes Harus Dijawab dengan Kerja Nyata, dr. Erliyati Matangkan Layanan KJSU di RSUD Sumenep
Telah Hadir Layanan Neurorestorasi di Bali
Tak Memandang Jabatan, Dirut RSUD Sumenep dr. Erliyati Beri Penghormatan kepada Pegawai Purna Tugas, Bukti Budaya Saling Menghargai
Tekan Stunting Sejak Remaja, TPPS dan Puskesmas Gending Probolinggo Gelar Edukasi Kesehatan di Pesantren
Respons Cepat Keluhan Masyarakat, Puskesmas Kendit Situbondo Perkuat Pelayanan Ramah dan Humanis
Kasus Stroke Terus Meningkat, Dinkes Kota Kediri Perkuat Kompetensi Nakes Lewat OJT Penanganan Stroke
Kolaborasi Berkah, BAZNAS dan Dinkes Sumenep Siapkan Khitan Gratis 100 Anak di Momentum Muharram

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:06 WIB

27 Dokter di Probolinggo ‘Digembleng’ 10 Hari di Lawang, Targetkan Eliminasi Total Malaria

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:54 WIB

Bupati Fauzi: Kepercayaan Kemenkes Harus Dijawab dengan Kerja Nyata, dr. Erliyati Matangkan Layanan KJSU di RSUD Sumenep

Sabtu, 4 Juli 2026 - 13:03 WIB

Telah Hadir Layanan Neurorestorasi di Bali

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:27 WIB

Tak Memandang Jabatan, Dirut RSUD Sumenep dr. Erliyati Beri Penghormatan kepada Pegawai Purna Tugas, Bukti Budaya Saling Menghargai

Selasa, 30 Juni 2026 - 22:24 WIB

Tekan Stunting Sejak Remaja, TPPS dan Puskesmas Gending Probolinggo Gelar Edukasi Kesehatan di Pesantren

Berita Terbaru