SUMENEP , 27/3/2026- Dibawah langit Jumat yang diyakini penuh keberkahan, langkah Ali Zainal Abidin terasa begitu khidmat. Bersama keluarga besarnya, ia berziarah ke makam sang ibunda tercinta, Hj. Ainun Bani, mengirim doa, menabur bunga, dan meluruhkan rindu yang tak pernah benar-benar usai.
Di pusara itulah, seorang Bang Ali kembali menjadi anak yang sederhana mengenang kasih sayang tanpa batas, sekaligus menguatkan kembali janji hidup yang pernah ditanamkan sang ibu. Sebuah pesan yang kini menjadi napas dalam setiap langkahnya: jangan pernah melupakan orang miskin dan sesama, serta jadilah manusia yang bermanfaat.
Pesan itu tidak berhenti sebagai nasihat. Ia menjelma menjadi gerakan nyata.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melalui Bani Insan Peduli (BIP), Bang Ali terus menghidupkan nilai tersebut dalam aksi-aksi kemanusiaan yang tak pernah surut. Air mata yang kerap jatuh dari matanya menjadi saksi, bahwa semua yang dilakukan bukan sekadar formalitas, melainkan lahir dari hati yang tulus.
Kenangan akan sang ibunda juga terpatri kuat dalam ingatan masyarakat. Saat Hj. Ainun Bani wafat, puluhan ribu orang memadati Sumenep. Mereka datang tanpa diundang, membawa doa dan cinta.
Bahkan hingga tujuh hari lamanya, manusia terus berdatangan, melangitkan doa tanpa henti.
Itu bukan sekadar tradisi. Itu adalah bukti cinta yang nyata bahwa sang ibunda dicintai, dan nilai-nilai kebaikannya hidup dalam diri Ali Zainal Abidin.
Tak heran, kehadirannya selalu dikelilingi masyarakat. Bahkan di area pemakaman sekalipun, warga berbondong-bondong datang, bukan sekadar melihat, tetapi merasakan kedekatan yang tulus. Sosoknya bukan hanya dikenal sebagai pengusaha sukses, tetapi juga figur dermawan yang nyata menghadirkan manfaat.
Di berbagai kegiatan sosial, mulai dari menghadirkan ribuan anak yatim hingga membantu kaum dhuafa, air mata Bang Ali selalu menjadi saksi. Saat ribuan anak yatim tersenyum bahagia, di situlah ia tak mampu menyembunyikan haru.
Ketika ribuan warga memadati kegiatan sosial di kediaman ibundanya, suasana berubah menjadi lautan emosi yang sulit dilukiskan. Baginya, kebahagiaan orang lain adalah segalanya.
“Ketika kita menerima rezeki, cara bersyukur adalah dengan membagikannya,” ujarnya.
Dan bukan hanya dalam momen besar, ia pun kembali melakukan aksi bagi-bagi rezeki secara nyata, seakan setiap hari adalah kesempatan untuk berbagi. Hampir tak ada waktu tanpa kepedulian hari-harinya diisi dengan memberi, menyapa, dan menguatkan mereka yang membutuhkan.
Sejak berdiri pada 2023, gerakan Bani Insan Peduli terus berkembang dari Pamekasan hingga Sumenep, bahkan merambah ke berbagai kota besar lainnya. Filosofi “tiada hari tanpa berbagi” benar-benar hidup, bukan sekadar slogan.
Di tengah dunia yang kerap dipenuhi pencitraan, apa yang ditunjukkan Bang Ali menghadirkan sesuatu yang langka, ketulusan yang hidup dan menggerakkan.
Apa yang ia lakukan bukan sekadar aksi sosial, melainkan panggilan hati. Air mata yang kerap jatuh di setiap kegiatan menjadi bukti bahwa kepedulian itu nyata, bukan dibuat-buat.
Melalui Bani Insan Peduli (BIP), ia menegaskan bahwa berbagi bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang menghadirkan harapan.
Di titik ini, masyarakat tidak hanya melihat sosok dermawan, tetapi juga simbol bahwa ketulusan masih ada dan mampu menggerakkan banyak orang.
Penulis : Redaksi







