PAMEKASAN – Malam di Arek Lancor menjadi saksi kuatnya ikatan kebersamaan saat ratusan tokoh dari berbagai elemen menghadiri Halal Bihalal dan silaturahmi akbar yang dikemas dalam gelaran budaya Macapat Samman, Jumat (17/4). Suasana penuh kehangatan itu mempertemukan kiai, kepala desa, hingga pengusaha dalam satu ruang yang sarat makna persatuan.
Tradisi Macapat Samman yang tumbuh di wilayah timur Madura seperti Pamekasan dan Sumenep kembali hadir bukan hanya sebagai pertunjukan budaya, tetapi juga sebagai ruang komunikasi lintas sektor yang mengandung nilai dakwah dan pesan moral. Sementara itu, kesenian sandur di wilayah barat Madura seperti Sampang dan Bangkalan tetap menjadi warisan tembang leluhur yang terus dijaga.
Sultan Madura H. Khairul Umam atau H. Her Pamekasan dalam kesempatan tersebut menegaskan bahwa kekuatan daerah terletak pada kebersamaan seluruh elemen masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
H. Her mengatakan bahwa tidak ada kemajuan tanpa kekompakan antara ulama, umara, dan pengusaha.
“Semua harus berjalan seirama,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan kepentingan tidak menjadi sumber perpecahan di tengah masyarakat.
H. Her mengingatkan bahwa perbedaan harus dikelola dengan bijak, bukan justru melemahkan persatuan yang sudah terbangun.
Dirinya berharap momentum Halal Bihalal dan silaturahmi ini dapat terus menjadi ruang memperkuat sinergi lintas sektor.
“Kegiatan seperti ini diharapkan menjadi energi positif yang berkelanjutan untuk membangun Pamekasan yang lebih baik,” tambahnya.
Inisiator kegiatan, Raden KH Abbas Muhammad Rofi’i atau Lora Abbas Katandur, menyebut acara ini lahir dari semangat bersama untuk membuka ruang komunikasi berbasis budaya.
“Kalau mereka sering bertemu dalam suasana seperti ini, komunikasi akan lebih cair. Dari situlah kolaborasi bisa terbangun,” ujarnya.
Ketua panitia Farid Afandi menegaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi upaya menjaga dan menghidupkan kembali budaya lokal yang mulai jarang tampil di ruang publik.
Sementara itu, pengusaha tembakau Khairul Umam bersama perwakilan kepala desa Pahrianto menekankan pentingnya kekompakan sebagai fondasi utama pembangunan daerah.
Acara kemudian ditutup dengan lantunan salawat nariyah oleh Ketua PCNU Pamekasan KH Muchlis Nasir, dilanjutkan doa oleh KH Abdul Majid bin Muddatstsir. Dalam suasana yang perlahan hening, Arek Lancor meninggalkan pesan mendalam: bahwa persatuan adalah kekuatan terbesar untuk masa depan Pamekasan.
Penulis : Redaksi







