SAMPANG, Detikzone.id – Ambisi besar program Ketahanan Pangan (Ketapang) di Desa Baruh, Kecamatan Sampang, kini berubah jadi ironi. Kandang ayam yang dibangun dari anggaran tahun 2025 justru tampak mangkrak, kosong, dan jauh dari kata produktif, bak “kandang hantu” tanpa penghuni.
Hingga awal Mei 2026, tak ada tanda-tanda aktivitas peternakan di lokasi tersebut. Padahal, proyek yang dibiayai Dana Desa (DD) dan dikelola oleh BUMDes itu disebut-sebut menelan anggaran hampir Rp300 juta.
Pantauan Detikzone.id pada Senin (4/5/2026) menunjukkan kondisi kandang yang belum sepenuhnya rampung. Lebih mencengangkan lagi, tidak satu pun ayam terlihat di dalamnya. Program yang seharusnya menopang ekonomi warga kini justru memicu tanda tanya besar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Publik pun mulai bertanya: apakah ini bentuk kelalaian, atau ada sesuatu yang sengaja disembunyikan?
Sekretaris Desa (Sekdes) Baruh, Mahrus, membenarkan bahwa proyek tersebut merupakan bagian dari program BUMDes. Namun, saat dimintai penjelasan lebih jauh, ia enggan memberikan keterangan detail.
“Iya,” ujarnya singkat, seolah menutup ruang pertanyaan.
Sementara itu, Ketua BUMDes Baruh, Faruk, mengakui bahwa dana pembangunan sudah diterima pihaknya. Ia bahkan menyebut nilainya mendekati Rp300 juta. Namun, alih-alih memberi penjelasan transparan, Faruk justru mengarahkan konfirmasi ke pihak lain.
“Kalau kandang sudah selesai. Untuk ayam dan pakan masih dalam proses pemesanan,” katanya.
Faruk juga menyebut nama Ansori sebagai mentor desa yang dinilai lebih mengetahui persoalan ini. Namun hingga kini, Ansori belum memberikan respons meski telah dihubungi.
Minimnya keterbukaan informasi dari pihak-pihak terkait justru memperkuat dugaan publik akan adanya kejanggalan dalam proyek ini. Bagaimana mungkin anggaran ratusan juta telah terserap, namun hasilnya nihil?
Kasus ini menjadi ujian serius bagi transparansi pengelolaan Dana Desa. Jika benar program ini gagal atau tidak berjalan sesuai rencana, maka publik berhak menuntut pertanggungjawaban.
Detikzone.id akan terus mengusut dan mengawal perkembangan kasus ini. Sebab, setiap rupiah uang negara harus dipertanggungjawabkan—bukan dibiarkan lenyap tanpa jejak.
Penulis : A. Junaidi







