Tak Ingin Masalembu Terus Tertinggal, Anggota DPRD Sumenep Ahmad Juhairi Perjuangkan Listrik hingga Pusat

Senin, 4 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota DPRD Sumenep Ahmad Juhairi saat mengawal dan memperjuangkan percepatan pembangunan listrik negara untuk masyarakat Pulau Masalembu melalui koordinasi lintas sektor hingga ke tingkat pusat.

Anggota DPRD Sumenep Ahmad Juhairi saat mengawal dan memperjuangkan percepatan pembangunan listrik negara untuk masyarakat Pulau Masalembu melalui koordinasi lintas sektor hingga ke tingkat pusat.

Sumenep, Senin, 4/5/2026  – Perjuangan panjang menghadirkan listrik negara di Pulau Masalembu terus digelorakan tanpa henti. Anggota DPRD Kabupaten Sumenep, Ahmad Juhairi, menjadi salah satu sosok yang konsisten berada di garis depan, memperjuangkan hak dasar masyarakat kepulauan yang hingga kini masih hidup dalam keterbatasan akses energi listrik.


Pulau Masalembu yang terletak di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep memiliki posisi strategis di jalur pelayaran nasional serta potensi besar di sektor kelautan dan perikanan. Namun ironisnya, hingga tahun 2026, wilayah tersebut masih menjadi salah satu daerah di Jawa Timur yang belum sepenuhnya menikmati layanan listrik dari negara melalui PT PLN (Persero).


Kondisi ini berdampak luas terhadap kehidupan masyarakat. Aktivitas ekonomi menjadi terbatas, produktivitas nelayan terhambat, hingga layanan pendidikan dan kesehatan yang belum optimal akibat keterbatasan pasokan listrik.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Situasi tersebut mendorong Ahmad Juhairi untuk terus mengawal dan memperjuangkan realisasi listrik negara bagi warga Masalembu.


Sejak tahun 2019, berbagai langkah konkret telah ditempuh. Mulai dari melakukan audiensi dengan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Timur, menjalin komunikasi intensif dengan PT PLN (Persero), hingga membawa aspirasi masyarakat Masalembu ke tingkat nasional melalui Kementerian ESDM Republik Indonesia.


Perjuangan tersebut sempat menunjukkan progres signifikan. Pada awal tahun 2020, lebih dari 1.300 tiang listrik berhasil dikirim dan ditanam di Pulau Masalembu. Pemasangan tiang-tiang tersebut menjadi simbol awal dimulainya pembangunan jaringan listrik yang diharapkan segera beroperasi.


Namun perjalanan tidak selalu berjalan mulus. Hingga saat ini, proyek pembangunan listrik tersebut belum sepenuhnya terealisasi. Salah satu kendala utama yang dihadapi adalah ketersediaan lahan untuk pembangunan pusat pembangkit listrik, yang menjadi syarat krusial dalam penyediaan energi bagi masyarakat.


Tidak ingin perjuangan terhenti, Ahmad Juhairi kembali mengambil langkah strategis dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk sektor swasta. Bersama masyarakat Masalembu, ia mengajukan permohonan kepada PT Elnusa Tbk untuk turut membantu dalam penyediaan lahan yang dibutuhkan.


Langkah ini mendapatkan respons positif. Dalam pertemuan yang melibatkan pihak perusahaan, PT Elnusa Tbk melalui jajaran manajemen menyatakan kesiapannya untuk membuka komunikasi lanjutan dengan PT PLN (Persero) serta Pemerintah Kabupaten Sumenep guna mencari solusi terbaik.


Respons tersebut menjadi angin segar bagi masyarakat Masalembu yang telah lama menantikan kehadiran listrik negara. Harapan yang sempat redup kini kembali menyala, seiring terbukanya peluang kolaborasi lintas sektor.


Ahmad Juhairi menegaskan bahwa perjuangan ini bukan sekadar proyek pembangunan infrastruktur, melainkan menyangkut hak dasar masyarakat.


“Ini bukan hanya soal listrik, tetapi soal masa depan. Listrik adalah kebutuhan utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kami akan terus kawal hingga benar-benar terealisasi,” tegasnya.


Berbagai rapat koordinasi yang digelar sepanjang tahun 2025 hingga 2026 juga terus menekankan pentingnya percepatan pembangunan listrik di Masalembu. Semua pihak sepakat bahwa ketersediaan lahan menjadi kunci utama yang harus segera diselesaikan.


Jika pembangunan listrik berhasil direalisasikan, dampaknya diyakini akan sangat besar. Selain meningkatkan hasil tangkapan dan pengolahan ikan, listrik juga akan mendukung aktivitas pelayaran, memperbaiki kualitas pendidikan, serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat setempat.


Perjuangan Ahmad Juhairi menjadi bukti bahwa keterbatasan geografis bukan alasan untuk menyerah. Bersama masyarakat dan berbagai pemangku kepentingan, ia terus menyalakan harapan di tengah tantangan yang ada.


Kini, perjuangan itu berada di titik krusial. Dukungan dari berbagai pihak mulai terbangun, komunikasi lintas sektor semakin intensif, dan peluang solusi semakin terbuka lebar.


Bagi masyarakat Masalembu, listrik bukan sekadar penerangan di malam hari. Lebih dari itu, listrik adalah simbol kemajuan, harapan, dan masa depan yang selama ini terus diperjuangkan tanpa lelah.

Penulis : Red

Berita Terkait

Soroti Proyek Pemeliharaan Lobi Kantor Bupati Probolinggo Senilai Rp 400 Juta, PSSA: Kenapa Harus Kontraktor Luar?
Kandang Peternakan Ayam Rp300 Juta di Sampang Jadi Kandang Hantu! Program Ketapang 2025 Diduga Gagal Total
Pelayanan Lumpuh! Kantor Desa Lambangkuning Probolinggo Disegel Ahli Waris, Warga Terkatung-Katung Tanpa Kepastian
Bantuan Budidaya Burung Puyuh Rp387 Juta di Kota Probolinggo Disorot, Spesifikasi Minim, Sertifikasi Dipertanyakan
Gedung Setda Kembali Dipoles, Pemkab Probolinggo Alokasikan Anggaran Hampir Rp1 Miliar
Rayakan HUT ke-12, Laskar Peduli Kasih Blitar Tebar Hadiah dan Kepedulian Sosial
Puncak Hari Jadi ke-120 Kota Blitar Meriah, Wali Kota Tekankan Transformasi Menuju Masa Depan Cerah
Harkitnas Menyala Disebut Gimik, PLN Sumenep Kena Semprot: Kemudahan di Poster, Kerumitan di Lapangan

Berita Terkait

Selasa, 5 Mei 2026 - 11:24 WIB

Soroti Proyek Pemeliharaan Lobi Kantor Bupati Probolinggo Senilai Rp 400 Juta, PSSA: Kenapa Harus Kontraktor Luar?

Senin, 4 Mei 2026 - 23:49 WIB

Tak Ingin Masalembu Terus Tertinggal, Anggota DPRD Sumenep Ahmad Juhairi Perjuangkan Listrik hingga Pusat

Senin, 4 Mei 2026 - 23:36 WIB

Kandang Peternakan Ayam Rp300 Juta di Sampang Jadi Kandang Hantu! Program Ketapang 2025 Diduga Gagal Total

Senin, 4 Mei 2026 - 23:00 WIB

Pelayanan Lumpuh! Kantor Desa Lambangkuning Probolinggo Disegel Ahli Waris, Warga Terkatung-Katung Tanpa Kepastian

Senin, 4 Mei 2026 - 22:57 WIB

Bantuan Budidaya Burung Puyuh Rp387 Juta di Kota Probolinggo Disorot, Spesifikasi Minim, Sertifikasi Dipertanyakan

Berita Terbaru

NASIONAL

Riba, Gharar, dan Maysir dalam Perspektif Ekonomi Islam

Selasa, 5 Mei 2026 - 16:09 WIB