Festival Proposal Lintas Sektor Berkedok Event Hura-Hura Kian Merajalela di Sumenep, Anggaran Publik Digarong, Manfaat Nyaris Nihil

Jumat, 5 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Suparto

Di tengah upaya pemerintah pusat melakukan efisiensi anggaran dan mendorong belanja yang berdampak langsung kepada masyarakat, Kabupaten Sumenep justru dihadapkan pada fenomena yang patut menjadi perhatian bersama: menjamurnya event, festival, seminar, lomba, pelatihan, dan berbagai kegiatan seremonial yang nyaris tak pernah berhenti sepanjang tahun.

Sekilas, kegiatan-kegiatan tersebut tampak positif. Panggung berdiri megah. Publikasi bertebaran. Media sosial dipenuhi dokumentasi. Para pejabat hadir memberikan sambutan. Tepuk tangan bergemuruh. Kamera merekam setiap momen.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Namun pertanyaan mendasarnya adalah, setelah seluruh kemeriahan itu usai, apa yang benar-benar tersisa untuk rakyat?

Fakta yang terlihat sehari-hari menunjukkan bahwa persoalan mendasar masyarakat belum banyak berubah. Kemiskinan masih menjadi pekerjaan rumah. Anak yatim masih membutuhkan perhatian. Kaum dhuafa masih berjuang memenuhi kebutuhan hidup. Banyak warga yang berharap adanya program yang benar-benar menyentuh kebutuhan mereka secara langsung.

Ironisnya, di saat kondisi tersebut masih terjadi, proposal demi proposal justru beredar semakin masif. Tidak hanya menyasar satu atau dua instansi. Hampir seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi sasaran. Belum lagi perusahaan swasta, BUMN, BUMD, hingga para pelaku usaha yang kerap diminta berpartisipasi mendukung berbagai kegiatan.

Fenomena ini perlahan membentuk budaya yang mengkhawatirkan: semakin banyak event dianggap semakin sukses, semakin banyak panggung dianggap semakin produktif, dan semakin besar anggaran yang terserap dianggap sebagai indikator keberhasilan.

Padahal ukuran keberhasilan pembangunan semestinya tidak terletak pada ramainya acara, melainkan pada besarnya manfaat yang dirasakan masyarakat.

Tidak sedikit kegiatan yang hanya menyisakan baliho usang, dokumentasi media sosial, serta laporan pertanggungjawaban yang tersimpan di lemari arsip. Sementara rakyat yang menjadi alasan utama penyelenggaraan kegiatan tersebut sering kali tidak merasakan perubahan yang berarti dalam kehidupannya.

Bayangkan jika sebagian kecil saja energi, waktu, dan dana yang selama ini dihabiskan untuk event-event seremonial dialihkan menjadi program sosial berkelanjutan.

Misalnya Program Jumat Berkah.

Setiap Jumat, satu desa menjadi sasaran. Sedikitnya 50 anak yatim dan dhuafa menerima santunan dan bantuan kebutuhan pokok. Dalam satu bulan, ratusan warga kurang mampu terbantu. Dalam setahun, ribuan masyarakat merasakan manfaat nyata.

Program seperti itu mungkin tidak menghadirkan panggung megah. Tidak menghasilkan gemerlap lampu sorot. Tidak menghadirkan keramaian yang viral di media sosial.

Namun program semacam itu menghadirkan sesuatu yang jauh lebih penting: manfaat.

Senyum anak yatim tidak membutuhkan sound system mahal. Harapan kaum dhuafa tidak memerlukan dekorasi mewah. Mereka hanya membutuhkan kepedulian yang nyata.

Karena itu, sudah saatnya orientasi penggunaan anggaran dan partisipasi lintas sektor dievaluasi secara serius. Publik berhak mengetahui sejauh mana manfaat setiap kegiatan yang menghabiskan dana publik maupun dana partisipasi dari berbagai pihak.

Jangan sampai budaya proposal berkembang menjadi industri kegiatan yang sibuk menghabiskan anggaran tetapi miskin dampak. Jangan sampai event demi event hanya menjadi rutinitas tahunan yang lebih banyak menghadirkan kemeriahan daripada solusi.

Pada akhirnya, rakyat tidak membutuhkan terlalu banyak seremoni. Rakyat membutuhkan kehadiran. Rakyat membutuhkan program yang benar-benar menyentuh kehidupan mereka.

Sebab sejarah tidak akan mencatat berapa banyak panggung yang pernah didirikan. Tetapi masyarakat akan selalu mengingat siapa yang benar-benar hadir ketika mereka membutuhkan bantuan.

 

Penulis : Red

Berita Terkait

Bukan Sekadar Habiskan Uang Rakyat, Bupati Haris Warning OPD Probolinggo Soal Anggaran Rp801 Miliar
Media Expo 2026 Masuki Malam Keempat, Tongtong Lendhu Sagara hingga Tari Maharaya Meriahkan Hari Jadi Jatim dan Sumenep, Yuk Ramaikan Malam Ini!
Hari Santri Nasional 2026, Ketua DPRD Sumenep Zainal Arifin Serukan Santri Jadi Penjaga Akhlak, Pejuang Ilmu dan Pilar Masa Depan Bangsa
Hari Jadi Sumenep dan Hari Santri, Bupati Fauzi Serukan Ikhtiar Spiritual demi Keberkahan Negeri Lewat 111.111 Kali Pembacaan Al-Waqi’ah
Lepas Kontingen POPDA Jatim XV 2026, Wabup Sumenep Kobarkan Semangat Atlet: Tampil Percaya Diri dan Pantang Menyerah
Bupati Sumenep Dukung Media Expo 2026, Dorong Pers Ikut Menggerakkan Ekonomi Daerah
DPRD-Pemkab Sumenep Sepakati APBD 2027, Anggaran Belanja Lebih Besar dari Pendapatan
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik

Berita Terkait

Selasa, 27 Oktober 2026 - 01:44 WIB

Bukan Sekadar Habiskan Uang Rakyat, Bupati Haris Warning OPD Probolinggo Soal Anggaran Rp801 Miliar

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:50 WIB

Hari Santri Nasional 2026, Ketua DPRD Sumenep Zainal Arifin Serukan Santri Jadi Penjaga Akhlak, Pejuang Ilmu dan Pilar Masa Depan Bangsa

Senin, 26 Oktober 2026 - 16:38 WIB

Hari Jadi Sumenep dan Hari Santri, Bupati Fauzi Serukan Ikhtiar Spiritual demi Keberkahan Negeri Lewat 111.111 Kali Pembacaan Al-Waqi’ah

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:57 WIB

Lepas Kontingen POPDA Jatim XV 2026, Wabup Sumenep Kobarkan Semangat Atlet: Tampil Percaya Diri dan Pantang Menyerah

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 23:43 WIB

Bupati Sumenep Dukung Media Expo 2026, Dorong Pers Ikut Menggerakkan Ekonomi Daerah

Berita Terbaru