PROBOLINGGO – Selama ini, ingatan kolektif wisatawan tentang Kabupaten Probolinggo hampir selalu terpaku pada kabut pagi dan kemegahan Gunung Bromo. Namun, peta pariwisata itu kini sedang diguncang dari dalam. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mulai bergerak agresif untuk membangun magnet baru,garis pantai sepanjang pesisir utara yang selama ini berstatus raksasa tidur.Langkah konkret ini dimatangkan dalam rapat koordinasi penajaman pelaksanaan Seven Beaches Probolinggo 2026 di ruang pertemuan Argopuro Kantor Bupati Probolinggo, Selasa (14/7/2026).
Dipimpin langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Ugas Irwanto, kolaborasi lintas sektor digalang demi memastikan agenda kolosal ini tidak sekadar menjadi ajang seremonial yang lewat begitu saja.Strategi yang diusung Pemkab terbilang cerdik memanfaatkan momentum Kehadiran Jembatan Kaca Bromo Seruni Point yang sukses menyedot lautan turis dijadikan jembatan umpan. Targetnya jelas memperpanjang masa tinggal (length of stay) pelancong di Probolinggo.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Kita harus memancing wisatawan agar tidak langsung pulang setelah dari Bromo. Paket wisatanya harus dikawinkan; dari dinginnya pegunungan langsung ditarik menikmati eksotisme pantai kita,” tegas Sekda Ugas Irwanto saat memimpin rakor bersama jajaran OPD, Dekranasda, perwakilan pemuda, hingga pelaku wisata.
Menurut Ugas, kekuatan utama pesisir Probolinggo justru terletak pada keasliannya yang belum terjamah industrialisasi masif. Karakter alam yang tenang dan udara segar khas pantai utara menjadi komoditas mahal bagi masyarakat urban yang haus akan ketenangan.Namun, alam saja tidak cukup. Pemkab mendorong setiap kecamatan dan desa pesisir untuk menyuntikkan identitas lokal mereka. Budaya masyarakat nelayan, kesenian tradisional, hingga produk UMKM wajib menjadi pembeda di setiap titik destinasi agar setiap pantai menyuguhkan emosi dan pengalaman yang unik.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Probolinggo, Heri Mulyadi, menjabarkan bahwa Seven Beaches Probolinggo 2026 akan menghentak selama tujuh hari penuh, tepatnya pada 6 hingga 15 November 2026.Panggung festival ini akan tersebar merata di beberapa titik strategis.The Bentar Beach,Pantai Bahak,Pantai Gili Ketapang,Pantai Dringu,Pantai Duta,Pantai Bohay,Pantai Klasik.Agenda ini dirancang sebagai hibrida antara festival budaya, olahraga ekstrem, dan pesta kuliner. Pembukaan acara akan diguncang oleh sendratari kolosal “Harmony of Seven Beaches” bersamaan dengan atraksi paramotor di langit pesisir.Bagi pencinta kuliner dan budaya, seafood street market, festival ikan bakar, petik laut, hingga parade kapal nelayan akan memanjakan panca indra. Sementara dari lini sport tourism, kompetisi jetski, fun run 7K, voli pantai, snorkeling, hingga balap BMX siap memacu adrenalin peserta dari berbagai daerah. Alunan jazz beach dan pesta kembang api dipastikan menjadi penutup malam yang magis.
Di balik kemeriahan ratusan atraksi tersebut, Pemkab Probolinggo menegaskan indikator sukses utama mereka bukan dari tepuk tangan pejabat, melainkan perputaran uang di akar rumput.”Ini bukan proyek gaya-gayaan. Ujung tombaknya adalah ekonomi masyarakat sekitar. Kita buat pengunjung datang, mereka puas, mereka belanja produk UMKM lokal, lalu mereka pulang membawa rindu untuk kembali lagi,” kunci Ugas Irwanto.
Melalui Seven Beaches Probolinggo 2026, daerah ini sedang menulis ulang takdir pariwisatanya sebuah wilayah utuh yang menawarkan petualangan lengkap, dari puncak gunung yang dingin hingga hangatnya pasir pantai.
Penulis : Moch Solihin







