BONDOWOSO – Di tengah perkembangan hiburan modern, kreativitas generasi muda dalam melestarikan budaya lokal masih terus tumbuh. Salah satunya ditunjukkan Dimas, 18 tahun, siswa SMKN 1 Sumber Wringin, Kabupaten Bondowoso.
Pemuda asal Dusun Koara, Desa Sumber Wringin, Kecamatan Sumber Wringin, itu menekuni pembuatan macan-macanan, salah satu kesenian yang masih mendapat tempat di tengah masyarakat Bondowoso.
Dimas merupakan anak keempat dari pasangan keluarganya. Kemampuannya dalam membuat macan-macanan tidak lepas dari didikan sang ibu, Sriwati, 45 tahun, yang sejak kecil membiasakan anak-anaknya untuk belajar, membantu pekerjaan rumah, serta mengembangkan keterampilan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dari kecil memang diajari ibu untuk tidak malas. Disuruh belajar, membantu, dan harus kreatif. Ibu bilang, tangan yang terampil itu rezekinya luas,” kenang Dimas saat ditemui Detikzone, Selasa (2/9/2026).
Belajar di Sekolah, Berkarya di Rumah
Aktivitas Dimas sehari-hari terbagi antara sekolah dan berkarya. Pagi hingga siang ia mengikuti kegiatan belajar di SMKN 1 Sumber Wringin. Setelah pulang, ia melanjutkan aktivitas di rumah untuk mengerjakan pesanan macan-macanan.
Keterampilan yang diperoleh di sekolah turut membantu proses pembuatan. Ketelitian, desain, serta kemampuan teknis menjadi modal yang diterapkan Dimas saat membuat setiap bagian macan-macanan.
“Di SMKN 1 saya banyak belajar tentang ketelitian, desain, dan cara kerja. Ilmu itu saya terapkan untuk membuat macan. Jadi antara sekolah, didikan ibu, dan hobi ini nyambung,” ujarnya.
Menurut Dimas, pembuatan satu barong macan-macanan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Prosesnya dilakukan secara bertahap, mulai dari menyiapkan rangka, mengolah kayu, membuat kepala macan hingga memasang bagian bulu dan detail lainnya.
“Bahan bakunya saya menggunakan kayu berkualitas supaya kuat. Pemesannya juga sudah ada beberapa yang berasal dari luar kota,” ungkapnya.
Untuk harga, macan-macanan buatan Dimas dibanderol bervariasi, tergantung ukuran dan tingkat pengerjaannya.
“Harganya bervariasi, sekitar Rp4 juta sampai Rp7 juta, tergantung ukurannya,” kata Dimas.
Ia mengaku berusaha menjaga kualitas hasil karyanya agar kokoh dan dapat digunakan dalam pertunjukan.
Pesanan Datang dari Berbagai Acara
Karya Dimas kini mulai dikenal masyarakat. Pesanan datang tidak hanya dari wilayah sekitar Sumber Wringin, tetapi juga dari luar daerah.
Macan-macanan buatannya digunakan untuk berbagai kegiatan masyarakat, mulai dari hajatan, peringatan HUT Kemerdekaan RI, ulang tahun komunitas, hingga berbagai acara hiburan dan kegiatan kelompok masyarakat.
Selain membuat properti macan-macanan, Dimas juga aktif sebagai pemain atraksi macanan bersama Grup Singo Agung yang dipimpin Niwar.
Di atas panggung, Dimas dikenal mampu membawakan karakter macan dengan penuh energi. Kemampuannya tersebut membuat ia mendapat kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan.
“Kesehariannya Dimas itu anaknya sabar dan supel dalam bergaul. Makanya cepat nyambung dengan tim dan disukai warga. Kalau tampil di Singo Agung, gerakannya totalitas,” ujar salah satu anggota grup.
Dimas menyebut panggilan tampil bersama grup maupun pesanan pembuatan macan cukup rutin.
“Alhamdulillah, hampir setiap minggu ada panggilan. Kadang dua sampai tiga acara dalam seminggu. Senang rasanya karya dan tenaga kita bisa menghibur banyak orang,” tuturnya.
Dinilai Jadi Contoh Kreativitas Pelajar
Kreativitas Dimas mendapat apresiasi dari lingkungan tempat tinggalnya. Kepala Dusun Koara menilai, Dimas merupakan salah satu contoh pemuda yang mampu mengembangkan keterampilan sekaligus ikut menjaga keberadaan budaya lokal.
“Dimas anaknya rajin, teliti, dan supel. Dia juga menggunakan bahan yang bagus untuk membuat rangka macan sehingga hasilnya kuat. Selain membuat, dia juga aktif tampil bersama Singo Agung,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari lingkungan SMKN 1 Sumber Wringin. Aktivitas Dimas dinilai menunjukkan bahwa keterampilan yang diperoleh siswa di sekolah dapat dikembangkan menjadi karya yang memiliki nilai ekonomi dan budaya.
“Kami sangat mendukung. Ini contoh siswa yang mampu mengaplikasikan keterampilan dari sekolah ke masyarakat. Kami tentu bangga dengan kreativitas Dimas,” kata salah satu guru pembimbingnya.
Ingin Budaya Macan-Macanan Terus Berkembang
Dimas berharap keterampilan yang ditekuninya tidak hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga ikut menjaga keberlangsungan kesenian tradisional di Bondowoso.
Ia juga ingin mengembangkan usahanya dan membantu meringankan beban keluarga, khususnya sang ibu yang selama ini memberikan dukungan kepadanya.
“Harapan saya, macan-macanan Bondowoso semakin dikenal. Saya juga ingin anak-anak muda lain mau belajar membuat dan melestarikan budaya kita,” pungkasnya.
Penulis : Anton







