Sumenep — Malam resepsi penutupan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Kecamatan Pasongsongan di Pendopo Kecamatan, Rabu (2/9/2026), menjadi malam penuh kebanggaan bagi keluarga besar SDN Panaongan III.
Di hadapan FORKOPIMCAM Pasongsongan, panitia pelaksana peringatan HUT ke-81 RI, para kepala sekolah TK, RA, SD, MI, SMP dan MTs, serta tokoh masyarakat KH. Kholilurrahman dan KH. Kamilul Himam, M.Pd, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Istikmal Pasongsongan, SDN Panaongan III menerima dua sekaligus, yakni Juara III Gerak Jalan Putra dan Juara III Karnaval.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dua trofi tersebut terasa begitu istimewa. Sebab, gerak jalan dan karnaval bukan sekadar perlombaan yang mengandalkan kemampuan individu, tetapi menjadi ajang yang menguji kekompakan, sportivitas, kreativitas, kedisiplinan dan kerja sama sebuah tim. Karena itu, kedua cabang ini menjadi salah satu puncak sekaligus lomba paling bergengsi dalam rangkaian perayaan HUT Kemerdekaan.
Berbeda dengan cabang lomba lainnya yang trofi-nya diberikan langsung setelah perlombaan, trofi gerak jalan dan karnaval diserahkan pada malam resepsi penutupan. Momen tersebut sekaligus menjadi penanda bahwa perjuangan panjang para peserta, guru, dan seluruh tim akhirnya mendapatkan penghargaan.
Bagi SDN Panaongan III, capaian tahun ini juga memperpanjang tradisi prestasi. Setelah tahun sebelumnya meraih Juara I Gerak Jalan Putra dan Juara II Karnaval, tahun ini kembali berada di posisi tiga besar dengan meraih Juara III pada kedua cabang tersebut. Artinya, selama tiga tahun berturut-turut, SDN Panaongan III selalu mampu bertahan di tiga besar pada lomba gerak jalan dan karnaval.
Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd, mengatakan capaian tersebut menjadi bukti bahwa sekolah yang berada di pedesaan tidak boleh minder untuk bersaing dan berprestasi.
” Ketika semangat kebersamaan, kerja keras dan pantang menyerah terus digelorakan, sekolah desa pun mampu mengungguli sekolah yang ada di kota,”ungkap Agus.
Pada malam itu, Agus Sugianto juga mempersilakan Abu Siri, S.Ag, yang tampil prima sebagai sosok guru Oemar Bakrie dalam karnaval, untuk menerima trofi dan sertifikat juara. Sebuah momen sederhana, namun menjadi simbol bahwa prestasi tersebut lahir dari kerja bersama.
Dengan empat pilar utama yang terus dikembangkan, yakni Karakter, Budaya, Peduli dan Mandiri, SDN Panaongan III kembali menunjukkan bahwa keterbatasan sebagai sekolah desa bukan penghalang untuk berprestasi.
Dua trofi malam itu bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi bukti bahwa dengan kebersamaan, kerja keras dan semangat pantang menyerah, sekolah dari desa pun mampu berdiri sejajar dan terus menjaga tradisi juara.







