Pesta Ratusan Juta Probolinggo SAE Carnival di Tengah Jeritan Gedung Rusak dan Tagihan LKS Siswa

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Kontras yang mencolok mata tersaji di Kabupaten Probolinggo. Di saat sejumlah gedung sekolah dasar dan menengah masih meratap meminta perbaikan, dan para orang tua murid harus memutar otak demi membeli Lembar Kerja Siswa (LKS) setiap semester, pemerintah daerah justru menggelar pesta rakyat berbiaya fantastis.

Gelaran Probolinggo SAE Carnival (PSC) 2026 yang menyedot anggaran hingga ratusan juta rupiah memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat,di mana skala prioritas pemerintah dalam memajukan sumber daya manusia?

Berdasarkan data yang dihimpun dari Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE), kegiatan bertajuk Jasa Penyelenggaraan Utama Probolinggo SAE Carnival (PSC) ini memakan anggaran konsolidasi total mencapai Rp 475 juta. Anggaran jumbo tersebut dipecah menjadi enam paket yang tersebar di seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta kecamatan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Kabupaten Probolinggo sendiri tercatat mengalokasikan anggaran dua paket sebesar Rp 70 juta sebagai support system acara tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menanggapi sorotan tajam ini, Kepala Dispendikbud Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono, berkilah bahwa anggaran dari instansinya tergolong minim “Anggaran Dinas hanya sekitar Rp 70 juta untuk suport kegiatannya. Dan ada giat konsolidasi gabungan dari 8 OPD untuk pelaksanaannya,” ujar Hary saat dikonfirmasi.,Selasa (8/9/2026).

Namun, saat didesak mengenai efektivitas dan total riil anggaran gabungan yang menyentuh angka hampir setengah miliar tersebut, Hary mengaku kurang mengetahuinya. “Untuk total anggaran, kami belum tahu.”ujarnya

Terkait beban biaya LKS per semester yang masih dikeluhkan para wali murid, Hary menyatakan bahwa hal tersebut semestinya sudah diakomodir oleh pihak sekolah. “Untuk LKS per semester, InsyaAllah sudah teranggarkan di lembaga (sekolah) masing-masing. Untuk siswa (kurang mampu), bisa diakomodir dari Program Indonesia Pintar (PIP),” tambahnya.

Namun, pembelaan dari meja birokrasi ini berbanding terbalik dengan jeritan di akar rumput. Klaim bahwa LKS bisa ditutupi oleh PIP dinilai tidak berdasar pada kenyataan lapangan. Fakta menunjukkan, tidak semua siswa dari keluarga miskin mendapatkan bantuan PIP tersebut. Distribusi bantuan yang tebang pilih menyisakan lubang besar bagi keluarga yang tidak terdata.

Lebih miris lagi, investigasi di lapangan menemukan adanya praktik sanksi sosial yang tidak manusiawi di lingkungan sekolah. Bagi siswa yang telat membayar buku LKS, mereka kerap ditagih secara terbuka di depan teman-teman sekelasnya. Tindakan intimidatif ini tidak hanya membebani psikologis anak, tetapi juga mencederai marwah pendidikan yang seharusnya ramah anak.

Kondisi ini diperparah dengan infrastruktur beberapa gedung sekolah yang membutuhkan rehabilitasi segera guna menjamin keselamatan proses belajar mengajar. Publik kini menuntut ketegasan sikap dari pemangku kebijakan.

Uang rakyat senilai Rp 475 juta dinilai jauh lebih bermanfaat jika dialokasikan untuk menambal atap sekolah yang bocor atau menggratiskan LKS bagi anak-anak miskin, daripada habis dalam sehari untuk gemerlap parade di jalanan.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Memutus Rantai Stunting dari Bangku Sekolah Saat Remaja Putri Probolinggo Komit Lawan Anemia
Usai Raih Peringkat Pertama MNV 2026, Kepala Bappeda Sumenep Pompa Semangat Jajaran: Ini Keberhasilan Kita Semua
BPBD Pemalang Libatkan Masyakarat Dalam Forum Konsultasi Publik Dorong Pelayanan Kebencanaan Semakin Optimal 
Warga Sokobanah Daya Sampang Terima Bantuan Beras, Pemdes Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran
Kursi NasDem Banyak Kosong, 20 Anggota DPRD Sampang Tak Hadir Saat Bahas APBD
Anggaran Pelatihan Miliaran Rupiah, Serapan Tenaga Kerja Job Fair Probolinggo Masih “Gelap”
Kadisbudporapar Sumenep: Festival KEN Datangkan Efek Domino bagi Budaya dan Ekonomi Masyarakat
Kadisbudporapar Sumenep: Grup Tong-Tong se-Madura Diharapkan Terus Berkarya, Berinovasi dan Rawat Tradisi

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 09:21 WIB

Memutus Rantai Stunting dari Bangku Sekolah Saat Remaja Putri Probolinggo Komit Lawan Anemia

Rabu, 9 September 2026 - 09:18 WIB

Pesta Ratusan Juta Probolinggo SAE Carnival di Tengah Jeritan Gedung Rusak dan Tagihan LKS Siswa

Rabu, 9 September 2026 - 08:48 WIB

Usai Raih Peringkat Pertama MNV 2026, Kepala Bappeda Sumenep Pompa Semangat Jajaran: Ini Keberhasilan Kita Semua

Selasa, 8 September 2026 - 18:12 WIB

BPBD Pemalang Libatkan Masyakarat Dalam Forum Konsultasi Publik Dorong Pelayanan Kebencanaan Semakin Optimal 

Selasa, 8 September 2026 - 14:58 WIB

Warga Sokobanah Daya Sampang Terima Bantuan Beras, Pemdes Pastikan Penyaluran Tepat Sasaran

Berita Terbaru