SUMENEP, detikzone.id – Julukan “Bupati Tongtong” yang melekat pada Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo bukan tanpa konteks. Sejak memimpin Kabupaten Sumenep yang dikenal sebagai Kota Keris, perhatian terhadap seni dan budaya daerah menjadi salah satu ruang yang terus mendapat tempat, termasuk Musik Tongtong.
Kesenian tradisional yang tumbuh di tengah masyarakat Madura itu tidak hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu. Musik Tongtong terus diberi ruang untuk berkembang, berkreasi, dan tampil dalam berbagai kegiatan budaya.
Kini, ruang itu kembali membawa nama Sumenep ke panggung yang lebih luas.
Musik Tongtong Angin Ribut Pasongsongan dijadwalkan tampil dalam rangkaian Spirit Rider MotoGP Mandalika 2026 di Taman Budaya NTB, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu, 7 Oktober 2026.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi Sumenep, penampilan tersebut bukan sekadar agenda pertunjukan. Ada identitas budaya yang ikut dibawa ketika dentuman Tongtong keluar dari tanah kelahirannya.
Musik Tongtong merupakan bagian dari kekayaan budaya masyarakat Madura. Di dalam perkembangannya, kesenian ini tidak hanya mengandalkan kekuatan bunyi dan ritme, tetapi juga menjadi ruang kreativitas serta kebersamaan para pemainnya.
Perhatian terhadap keberlanjutan Tongtong juga terlihat dalam Festival Musik Tong-tong 2026. Bupati Achmad Fauzi mendorong para seniman meningkatkan kreativitas melalui aransemen musik yang inovatif, namun tetap mempertahankan karakter khas Tongtong sebagai warisan budaya tak benda Kabupaten Sumenep.
Bupati juga menekankan pentingnya inovasi agar Musik Tongtong tetap hidup, berkembang, dan mampu menarik minat generasi muda tanpa kehilangan jati dirinya.
Dari ruang budaya di Sumenep, perjalanan para seniman kemudian bergerak lebih jauh.
Sebelum menuju Mandalika, Angin Ribut Pasongsongan telah tampil dalam rangkaian Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) 2025 di Yogyakarta, termasuk di kawasan Malioboro.
Dari Malioboro, kini Angin Ribut Pasongsongan bersiap membawa dentuman Musik Tongtong menuju Mandalika.
Di Nusa Tenggara Barat, Angin Ribut akan tampil bersama Sanggar Tari Abhinar dan Sanggar Tari Potret Angin. Kolaborasi tersebut menggabungkan Musik Tongtong dengan seni tari dalam satu pertunjukan.
Konsep yang diusung mengangkat tema “Keris Madura”. Tema tersebut sekaligus memperkuat identitas Sumenep sebagai Kota Keris, daerah yang memiliki tradisi panjang dalam seni pembuatan dan perkerisan.
Dengan konsep tersebut, pertunjukan tidak hanya mengandalkan kekuatan musikal Tongtong. Unsur tari, koreografi, dan identitas budaya Sumenep dirangkai menjadi satu sajian.
Persiapan dilakukan bersama Paguyuban Tongtong Sumenep (PATOTS), tim kreatif, koreografer, manajemen Angin Ribut, serta dua sanggar tari yang terlibat.
Komang, salah satu anggota tim kreatif, mengatakan proses persiapan dilakukan melalui latihan yang ketat dan disiplin untuk menghasilkan penampilan terbaik.
“Dengan proses latihan yang ketat dan disiplin, kita optimis akan menampilkan yang terbaik untuk Sumenep, Madura, Jawa Timur sebagai persembahan dari tuan rumah Indonesia,” ujarnya.
Menurut Komang, pertunjukan tersebut juga akan membawa konsep “Buja Cabbi”, sebagai bentuk pertemuan unsur budaya Madura dengan Lombok.
“Bentuk kolaborasi itu akan kita satukan lagi di dalam konteks ‘Buja Cabbi’, di mana terjadi kolaborasi antara kesenian Pulau Garam dengan Pulau Lombok,” katanya.
Ia menjelaskan, konsep tersebut menjadi bagian dari pesan budaya yang ingin disampaikan melalui pertunjukan.
“Merahnya cabai dan putihnya garam menjadi corak warna sajian Indonesia,” lanjutnya.
Perjalanan Angin Ribut menuju Mandalika mendapat perhatian dari pecinta Musik Tongtong di Sumenep. Bagi mereka, semakin luasnya panggung pertunjukan menjadi kesempatan untuk memperkenalkan kesenian tradisional kepada masyarakat di luar Madura.
Rizal, pecinta Musik Tongtong asal Pasongsongan, mengatakan perhatian terhadap kesenian tradisional memberikan ruang bagi seniman untuk terus berkarya.
“Bagi kami, Bupati Tongtong itu bukan hanya sebuah sebutan. Yang kami lihat adalah adanya perhatian terhadap Tongtong dan ruang bagi seniman untuk terus tampil. Sekarang bisa sampai ke Mandalika, tentu kami sangat bangga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Fahrur Rozi, penggemar Musik Tongtong asal Sumenep. Menurutnya, pengenalan Tongtong kepada generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan kesenian tersebut.
“Tongtong adalah bagian dari identitas Madura. Ketika pemerintah ikut mendorong agar Tongtong tampil di berbagai panggung, itu menjadi kebanggaan bagi kami. Harapannya, anak-anak muda semakin mencintai budaya sendiri,” katanya.
Sementara itu, Abdul Hamid, pemerhati seni tradisional Sumenep, menilai semakin luasnya ruang pertunjukan dapat membantu memperkenalkan Musik Tongtong kepada masyarakat di luar daerah.
“Kami mengapresiasi perhatian Bupati terhadap budaya Sumenep. Tongtong jangan hanya dimainkan di kampung sendiri, tetapi harus terus dibawa keluar agar semakin banyak orang mengenal budaya Madura,” tuturnya.
Menurutnya, keberlanjutan Musik Tongtong membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari seniman, komunitas, generasi muda hingga masyarakat.
“Kalau Tongtong bisa dikenal sampai luar daerah bahkan dunia, yang ikut terangkat bukan hanya kelompok musiknya, tetapi juga nama Sumenep dan budaya Madura,” pungkasnya.
Penampilan Angin Ribut di Mandalika menjadi bagian lain dari perjalanan Musik Tongtong Sumenep dalam mencari ruang pertunjukan yang lebih luas.
Dari Pasongsongan, Angin Ribut pernah membawa dentumannya ke Yogyakarta. Kini, kelompok tersebut kembali membawa nama Sumenep ke Nusa Tenggara Barat.
Perjalanan itu memperlihatkan bahwa kesenian tradisional tidak harus berhenti di tempat kelahirannya. Dengan tetap menjaga karakter dan akar budaya, Tongtong dapat dikembangkan melalui berbagai bentuk pertunjukan dan ruang kreatif.
Di Mandalika, Angin Ribut Pasongsongan tidak hanya membawa musik, tetapi juga membawa cerita tentang Sumenep dan identitas budaya Madura.
Malar Mogha Bajrah Sopaja Soengenep Jaja Rajja.
Semoga berkah dan sejahtera, agar Sumenep semakin jaya dan kejayaannya makin agung.







