SUMENEP — Musik Tongtong Madura dipastikan bakal mengguncang ajang internasional di Nusa Tenggara Barat melalui pertunjukan berskala besar bertajuk “Tongtong Madura untuk Mandalika”. Kesenian khas yang telah ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda (WBTB) milik Kabupaten Sumenep ini dipercaya menjadi delegasi resmi untuk memeriahkan rangkaian event bergengsi Spirit Rider MotoGP Mandalika 2026 di Kota Mataram.
Langkah ini menjadi babak baru dalam perjalanan panjang promosi wisata budaya Kabupaten Sumenep. Keberhasilan menembus panggung dunia di Mandalika tak lepas dari rekam jejak impresif Musik Tongtong pada taraf nasional. Pada tahun 2025 lalu, dalam ajang Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang diselenggarakan di Yogyakarta, penampilan kontingen Sumenep berhasil menjadi debut yang paling dinanti oleh jutaan pasang mata di sepanjang Jalan Malioboro.
Kala itu, melalui konsep pertunjukan bertema “Pamor Sumekar” yang diprakarsai oleh Dinas Kebudayaan, Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep dengan menggaet kelompok musik Angin Ribut Pasongsongan, aksi panggung yang disajikan sukses mencuri perhatian publik se-Nusantara. Momen tersebut sekaligus makin menguatkan brand Kabupaten Sumenep sebagai “Kota Keris” di berbagai pelosok negeri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebagai salah satu kesenian daerah yang paling digandrungi oleh masyarakat Madura, Musik Tongtong kini telah mentransformasi diri menjadi ikon kebudayaan utama Kabupaten Sumenep. Kelompok-kelompok musik ini terus aktif bergerilya menyuarakan karya-karya terbaik mereka, hingga kerap diundang untuk mengisi berbagai event besar dan festival bergengsi di belasan kabupaten/kota di Provinsi Jawa Timur hingga Jawa Tengah.
Perkembangan pesat dan pelestarian kesenian ini tidak lepas dari sinergi kuat yang dibangun oleh Bupati Sumenep, Achmad Fauzi Wongsojudo, S.H., M.H. Beliau secara konsisten memberikan ruang, fasilitasi, serta dukungan penuh terhadap perlindungan dan pengembangan seni tradisi lokal. Atas komitmennya yang tinggi terhadap seni tradisi ini, beliau bahkan kerap dijuluki oleh masyarakat dan kalangan seniman sebagai “Bupati Tongtong”.
Pada tahun 2026, kepakan sayap promosi wisata budaya Sumenep siap melangkah ke tingkat yang lebih bergengsi. Pertunjukan kolosal ini dijadwalkan berlangsung pada Rabu, 07 Oktober 2026, bertempat di Taman Budaya NTB, Kota Mataram, sebagai bagian dari kemeriahan ajang internasional Spirit Rider MotoGP Mandalika 2026.
Untuk menampilkan performa yang utuh dan memukau, kelompok musik Angin Ribut Pasongsongan tidak tampil sendiri. Mereka berkolaborasi secara intensif dengan dua sanggar tari kenamaan, yakni Sanggar Tari Abhinar dan Sanggar Tari Potret Angin.
Sajian panggung kolaboratif ini dikemas secara khusus dengan mengusung tema utama “Keris Madura”. Konsep ini dipilih bukan tanpa alasan; Kabupaten Sumenep dikenal memiliki populasi empu pembuat keris terbanyak di dunia yang keberadaannya telah diakui secara resmi oleh lembaga kebudayaan dunia, UNESCO. Melalui panggung Mandalika, brand Sumenep Kota Keris kembali disajikan sebagai identitas utama yang berakar kuat pada kultur dan sejarah lokal.
Di balik panggung megah yang siap disajikan, terdapat kerja keras tim kreatif yang melibatkan pengurus Paguyuban Tongtong Sumenep (PATOTS) serta para penata gerak (koreografer). Mereka bahu-membahu merancang aransemen musik dan koreografi agar dapat menyajikan seni pertunjukan yang kembali memukau penonton dari dalam maupun luar negeri. Seluruh rangkaian latihan intensif ini dilakukan dengan satu cita-cita bersama: membawa nama harum tanah kelahiran mereka, Kabupaten Sumenep.
“Dengan proses latihan yang ketat dan disiplin, kita optimis akan menampilkan yang terbaik untuk Sumenep, Madura, Jawa Timur sebagai persembahan dari tuan rumah Indonesia. Bentuk kolaborasi itu akan kita satukan lagi di dalam konteks ‘BUJA CABBI’, di mana terjadi kolaborasi antara kesenian Pulau Garam dengan Pulau Lombok,” pangkas Komang, salah satu tim kreatif yang terlibat langsung dalam perancangan karya.
Menurut Komang, momentum pertunjukan ini menjadi wadah perpaduan yang sangat bermakna antar-pulau dan antar-seniman. Simbolik perpaduan tersebut tercermin dari metafora warna budaya: merahnya cabai (Lombok) dan putihnya garam (Madura) yang menyatu menjadi corak warna indah dalam khazanah seni kebudayaan Indonesia.
Kini, seluruh pihak yang terlibat—mulai dari jajaran Disbudporapar Kabupaten Sumenep, Tim Kreatif, Manajemen Musik Angin Ribut Pasongsongan, Sanggar Tari Abhinar, hingga Sanggar Tari Potret Angin—memfokuskan perhatian pada satu titik garapan pertunjukan bertema “Keris Madura”. Mereka melangkah mantap menuju panggung Mandalika dengan membawa semboyan luhur masyarakat Sumenep:
“Malar Mogha Bajrah Sopaja Soengenep Jaja Rajja.”
(Semoga Berkah dan Sejahtera, Agar Sumenep Makin Kejayaannya Agung dan Unggul)







