SUMENEP – Tradisi penuh gengsi khas Madura, Karapan Sapi Tingkat Kabupaten Sumenep 2025, berlangsung meriah hari ini, Minggu (14/9/2025), mulai pukul 08.30 WIB di Lapangan Giling, Sumenep.
Pantauan di lapangan, sebanyak 48 pasangan sapi pacu dari berbagai penjuru wilayah Sumenep turun gelanggang. Ajang ini bukan sekadar adu cepat, melainkan juga mempertaruhkan nama besar pemilik, joki, hingga daerah asal masing-masing peserta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Lebih dari itu, karapan sapi telah menjadi ikon budaya Madura yang sarat makna. Selain menunjukkan ketangkasan sapi pacu dan keahlian joki, ajang ini juga menjadi magnet wisata budaya yang selalu ditunggu masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah. Kehadirannya pun memberikan dampak ekonomi signifikan, mulai dari pedagang kuliner, perajin, hingga UMKM yang meramaikan area sekitar.
Peserta Karapan Sapi Tahun ini terbagi dalam tiga pool:
POOL A: Ancaman Marino, Gajah Mada, Meteorku, Lombok Balap, Kereta Malam, Angin Timur, Bongkar 86, Prabu Siliwangi, DRT Speed, Super Leader, Jagal Reborn, Potre Koneng, Topeng Hitam, Bola Api Neraka, Bintang Komala, Joker.

POOL B: Kalajengking, Kembang Api Jek, Komando, Milka, Mega Remmeng, Turis Bali, Kapten Zeus, Potre Koneng, Pelor Pamungkas, Briduh Jr., Bola Maut, Takbir Sakti, Pok Kopok, Jokotole, Ngampong Lebet, Kotap Nampeleng.
POOL C: Takbir Sakti, Bar Bar Oke, Anak Sultan, Bunto’ Apoy, Lap Alap, Joker, Selebritis, Laba-Laba, Anak Ajaib, Pokemon, Jungjung Derajat, Kembang Api, Rudal Angkasa, Joko Melleng, Prabu Siliwangi, Berekay Briduh.
Nama-nama unik seperti Bola Api Neraka, Rudal Angkasa, hingga Kapten Zeus menambah semarak dan daya tarik tersendiri bagi penonton.
Ketua Pakar Sakera, Candra Wijaya, mengatakan, Karapan sapi bukan hanya hiburan rakyat, tapi juga warisan budaya yang harus kita jaga.
“Karapan sapi bukan hanya adu cepat, tapi simbol kebanggaan masyarakat Madura. Lewat tradisi ini kita merawat warisan budaya leluhur sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat,” tegas Ketua Pakar Karapan Sapi, Candra Wijaya.
Disamping itu, Candra menyebut bahwa kerapan sapi juga cermin kreativitas pemiliknya.
“Inilah yang membuat karapan sapi selalu ditunggu masyarakat setiap tahu. Kami berharap Karapan Sapi Sumenep 2025 ini bukan hanya jadi tontonan, melainkan juga menjadi ruang silaturahmi, penguat budaya, dan kebanggaan bersama,” jelasnya.
Dengan perpaduan antara budaya, hiburan, dan ekonomi rakyat, Karapan Sapi Sumenep 2025 dipastikan menjadi tontonan spektakuler sekaligus kebanggaan masyarakat Madura.
Penulis : Redaksi








