Atap SDN Pamatan II Probolinggo Ambruk Dihantam Hujan Deras, Bangunan Baru 2024 Dipertanyakan dan Uji Kelayakan Konstruksi Jadi Tuntutan Mendesak

Minggu, 15 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Probolinggo – Dunia pendidikan kembali tercoreng. Sebuah bangunan SDN Pamatan II, Kecamatan Tongas, Kabupaten Probolinggo, dilaporkan mengalami kerusakan parah pada Sabtu dini hari (14/2/2026) sekitar pukul 01.00 WIB, setelah diguyur hujan deras sejak sore hingga malam hari. Insiden ini menyisakan tanda tanya besar: seberapa layak kualitas konstruksi sekolah yang baru dibangun dua tahun lalu.

Hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah tersebut diduga menjadi pemicu runtuhnya sebagian atap ruang kelas. Namun fakta di lapangan memperlihatkan kondisi yang lebih mengkhawatirkan. Material atap baja ringan dan plafon ruang kelas 1, 2, dan 3 tampak remuk dan berserakan, seolah tak mampu memberikan perlawanan berarti terhadap beban cuaca.

Ironisnya, bangunan sekolah tersebut diketahui baru dibangun pada tahun 2024. Kondisi ini langsung memicu sorotan publik, karena sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman bagi anak-anak justru menunjukkan kerentanan struktural dalam waktu yang relatif singkat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan pantauan di lokasi, kerusakan tidak hanya terjadi pada bagian atap, tetapi juga menunjukkan indikasi lemahnya fondasi bangunan. Tanah di sekitar sekolah diduga labil, memperkuat kecurigaan bahwa proses perencanaan dan pelaksanaan konstruksi tidak sepenuhnya mempertimbangkan karakteristik tanah setempat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Hari Tjahjono, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyebut hujan deras yang mengguyur wilayah Probolinggo sejak sore hingga malam hari menyebabkan sedikitnya tiga unit bangunan sekolah mengalami kerusakan.

“Peristiwa ini diduga terjadi karena struktur bangunan tidak mampu menahan beban curah hujan yang tinggi ditambah kondisi tanah yang labil. Beruntung tidak ada korban jiwa, namun aktivitas belajar mengajar dipastikan terganggu,” ujarnya.

Sebagai langkah cepat, pihak dinas menyatakan akan melakukan perbaikan darurat pada atap ruang kelas yang ambruk. Ruang kelas terdampak dikosongkan demi keselamatan, sementara kegiatan belajar mengajar dipindahkan ke ruang lain yang masih dinilai aman.

Namun, solusi tambal sulam ini dinilai belum menjawab persoalan utama. Pasalnya, perbaikan darurat tidak serta-merta menghapus kekhawatiran atas kelayakan bangunan secara keseluruhan. Pihak sekolah hingga kini masih menunggu perbaikan permanen yang rencananya akan dibiayai melalui anggaran Tak Terduga (TT).
“Untuk saat ini, ruang kelas belum bisa difungsikan secara maksimal. Kami masih menunggu proses perbaikan permanen,” tambah Hari.

Ambruknya atap sekolah ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan dan pemerintah daerah. Klaim bangunan dalam kondisi “layak” atau “kokoh” kini dipertanyakan oleh fakta lapangan. Tanpa data pendukung yang transparan seperti hasil uji laboratorium tanah, audit struktur bangunan, atau data resmi curah hujan dari BMKG penyebab kerusakan seharusnya tidak disimpulkan secara sepihak.

Para pemerhati pendidikan menilai, insiden ini bukan sekadar dampak cuaca ekstrem, melainkan cerminan lemahnya pengawasan kualitas pembangunan sarana pendidikan. Terlebih, sekolah merupakan fasilitas publik vital yang menampung keselamatan anak-anak setiap hari.

Pemerintah daerah didesak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh dan uji kelayakan terhadap bangunan sekolah, khususnya di wilayah yang memiliki kontur tanah labil. Langkah ini dinilai mendesak untuk mencegah tragedi yang lebih besar di kemudian hari.

Insiden SDN Pamatan II menjadi pengingat keras: keselamatan siswa tidak boleh dipertaruhkan oleh kelalaian konstruksi. Transparansi, audit teknis, dan akuntabilitas pembangunan kini bukan lagi pilihan, melainkan kewajiban mutlak.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Menutup Agustus dengan Doa dan Kebersamaan, Pasongsongan Gelar Malam Resepsi HUT RI ke-81
Masih SMP, Dua Bocah di Pemalang Memulung hingga Malam Demi Uang, Generasi Emas atau Generasi Cemas?
WCC III Sukses Digelar di Sumenep, MAPALA WIRASTA UNIJA Dorong Regenerasi dan Prestasi Atlet Panjat Tebing Jawa Timur
Final Lomba Mewarna Damar Kurung Tingkat Kabupaten Gresik Digelar Meriah di Gress Mall
Festival Band Pelajar se-Madura Ramaikan MCF 2026 Malam Ini, Disbudporapar dan Disdik Sumenep Beri Ruang Kreativitas
Bukan Sekadar Mengisi SKP, Mereka Belajar Arti Saling Menguatkan di SDN Panaongan III Pasongsongan Sumenep
Bupati Sumenep Kunjungi Stan SLB, Tegaskan Keterbatasan Bukan Penghalang untuk Berkarya dan Berprestasi
Tangis Pecah di Tengah Syair Cinta Rasul! Maulid Nabi di SDN Panaongan III Sumenep Berubah Jadi Momen Menggetarkan Hati

Berita Terkait

Rabu, 2 September 2026 - 21:50 WIB

Menutup Agustus dengan Doa dan Kebersamaan, Pasongsongan Gelar Malam Resepsi HUT RI ke-81

Rabu, 2 September 2026 - 00:18 WIB

Masih SMP, Dua Bocah di Pemalang Memulung hingga Malam Demi Uang, Generasi Emas atau Generasi Cemas?

Selasa, 1 September 2026 - 18:33 WIB

WCC III Sukses Digelar di Sumenep, MAPALA WIRASTA UNIJA Dorong Regenerasi dan Prestasi Atlet Panjat Tebing Jawa Timur

Selasa, 1 September 2026 - 09:27 WIB

Final Lomba Mewarna Damar Kurung Tingkat Kabupaten Gresik Digelar Meriah di Gress Mall

Senin, 31 Agustus 2026 - 15:45 WIB

Festival Band Pelajar se-Madura Ramaikan MCF 2026 Malam Ini, Disbudporapar dan Disdik Sumenep Beri Ruang Kreativitas

Berita Terbaru