Madura Tidak Pernah Tamat

Sabtu, 23 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Fauzi As

OPINI — Hari ini, banyak orang mengira ini hanya tentang sepak bola. Tentang 90 menit pertandingan. Tentang skor 2-0. Tentang selamat atau tidaknya sebuah klub bernama Madura United.

Padahal tidak sesederhana itu. Hari ini adalah hari di mana jantung Madura berdegup lebih kencang dari biasanya. Bukan karena bola bergulir, tetapi karena harga diri sedang dipertaruhkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya memilih tidak datang ke stadion. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena terlalu peduli. Ada momen ketika seseorang lebih memilih menjaga hatinya dari kemungkinan patah, daripada menyaksikan langsung kehancuran yang tak siap ia terima.

Bayangkan jika hari ini Madura United benar-benar tumbang.

Yang runtuh bukan hanya klub. Yang retak bukan hanya manajemen. Tetapi juga semangat kolektif yang selama ini diam-diam dirawat: bahwa orang Madura bisa bersatu tanpa harus berhadapan, bisa kompak tanpa harus carok, bisa dihormati tanpa harus ditakuti.

Selama bertahun-tahun, Madura terlalu sering didefinisikan oleh stigma. Keras, kasar, penuh konflik. Seolah-olah identitas itu diwariskan, bukan dibentuk oleh keadaan.

Di tengah narasi itu, sepak bola menjadi panggung perlawanan yang paling sunyi namun paling elegan.

Dan di balik panggung itu, ada satu nama yang tidak pernah lelah menghidupkan harapan: Achsanul Qosasi.

Sejak 2009, saya mendengar sendiri bagaimana ia berbicara tentang Madura. Tidak pernah setengah hati. Tidak pernah basa-basi. Selalu utuh. Selalu penuh keyakinan.

Baginya, Madura bukan sekadar pulau. Ia adalah potensi yang lama diparkir. Ia adalah kekuatan yang belum sepenuhnya dibangunkan.

Sepak bola, dalam pandangannya, bukan hiburan. Ia adalah alat. Alat untuk menguji solidaritas. Alat untuk mengukur sportivitas. Alat untuk membalik stigma.

Dan hari ini, alat itu bekerja.

Madura United tidak tamat. Ia bertahan. Menang 2-0. Bukan kemenangan yang gemerlap, tetapi kemenangan yang menyelamatkan wajah.

Dua gol Junior Brandao bukan sekadar angka. Ia seperti dua napas panjang yang dilepaskan bersamaan oleh jutaan orang Madura—yang sejak tadi menahan cemas, menahan takut, menahan kemungkinan terburuk.

Namun, justru di titik inilah kita harus jujur.

Apakah Madura akan terus bergantung pada sepak bola untuk merasa bersatu?

Apakah kita hanya solid ketika ada pertandingan, dan kembali tercerai ketika peluit panjang dibunyikan dalam kehidupan nyata?

Inilah pertanyaan yang lebih penting dari skor akhir.

Karena sejatinya, yang sedang diperjuangkan bukan hanya posisi di klasemen. Tetapi posisi Madura dalam peta besar Indonesia.

Kita adalah tanah yang melahirkan tokoh-tokoh besar:

Syaikhona Kholil bin Abdul Latif (Bangkalan): ulama besar dan guru dari pendiri organisasi Islam terbesar di Indonesia seperti NU dan Muhammadiyah, yang juga dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.

Mohammad Tabrani (Pamekasan): tokoh pers, pejuang kemerdekaan, dan Ketua Kongres Pemuda I yang dikenal luas sebagai penggagas Bahasa Indonesia.

Pangeran Trunojoyo (Sampang): bangsawan Madura yang memimpin pemberontakan besar terhadap VOC dan Mataram pada abad ke-17.

Mahfud MD: tokoh nasional yang pernah menjabat Ketua Mahkamah Konstitusi dan Menko Polhukam.

Kita juga tanah yang menyuplai energi bagi negeri ini—migas yang mengalir, menerangi kota-kota yang bahkan tidak pernah mengenal kerasnya tanah garam.

Tetapi ironisnya, di saat yang sama, Madura masih sering ditempatkan di pinggiran.

Di sinilah peran Achsanul Qosasi menjadi penting—bukan sekadar sebagai pemilik klub, tetapi sebagai arsitek kesadaran.

Ia memahami satu hal yang sering dilupakan: bahwa kemajuan tidak dimulai dari proyek, tetapi dari cara berpikir.

Bahwa kemandirian tidak lahir dari bantuan seratus ribuan, tetapi dari keberanian untuk berdiri.

Dan bahwa kehormatan tidak datang dari jabatan, tetapi dari kemampuan menjaga martabat kolektif.

Sepak bola hanyalah pintu masuk. Di baliknya, ada gagasan yang jauh lebih besar: Madura Maju. Madura Mandiri. Madura sebagai tiang kokoh negara.

Namun, gagasan akan tetap menjadi wacana jika hanya berhenti pada satu orang. Madura tidak kekurangan tokoh. Yang kurang adalah kesediaan untuk berjalan bersama tanpa saling menjatuhkan.

Hari ini, kita bersorak karena Madura United selamat.

Besok, pertanyaannya berbeda: apakah Madura juga akan selamat dari kemiskinan struktural, dari ketergantungan, dari konflik internal yang sering kali kita pelihara sendiri?

Jika jawabannya tidak, maka kemenangan hari ini hanyalah penundaan dari kekalahan yang lebih besar.

Tetapi jika kita mampu menangkap pesan di balik pertandingan ini—bahwa persatuan itu mungkin, bahwa solidaritas itu nyata, bahwa stigma itu bisa dilawan—maka hari ini bukan sekadar kemenangan.

Ia adalah titik balik.

Madura tidak pernah benar-benar tamat. Ia hanya sedang diuji: apakah ingin terus menjadi cerita lama yang penuh stereotip, atau bangkit menjadi kekuatan baru yang disegani.

Dan sejarah, seperti pertandingan hari ini, selalu berpihak pada mereka yang berani bertahan… lalu melangkah lebih jauh.

 

Berita Terkait

Inilah Tim-Tim Terbaik East Java E-Sport 2026, Sumenep Dominasi Persaingan di MCF 2026
48 Tim Adu Taktik di Sumenep, East Java E-Sport Jadi Panggung Talenta Muda
Hadiri JJS Soft Opening Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan, Haji Her Borong 2 Kg Emas dan Kenang Jasa Bang Ali dalam Perjalanan Suksesnya
Haji Her dan Haji Ali Zainal Abidin Gratiskan UMKM untuk Ribuan Peserta JJS di Soft Opening Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan
Tak Sekadar Hadiri JJS, Haji Her Borong 2 Kg Emas di Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan, Kenang Masa Lalu sebagai Anak Yatim
Hadir di Tengah Ribuan Peserta GO Sumenep Purnama, Bupati Fauzi Dorong Sumenep Sehat dan Produktif
Ribuan Peserta Ramaikan GO Sumenep Purnama Fun Run 2026, Kampanye Kesehatan Warnai Gelaran MCF
Tumbangkan Dua Tim RS dr. Kariadi Semarang dan Hospital FC Sidoarjo, Futsal RSUD Sumenep Raih Juara 3 Surabaya Health Test Boyo Cup 2026

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:11 WIB

Inilah Tim-Tim Terbaik East Java E-Sport 2026, Sumenep Dominasi Persaingan di MCF 2026

Minggu, 30 Agustus 2026 - 21:06 WIB

48 Tim Adu Taktik di Sumenep, East Java E-Sport Jadi Panggung Talenta Muda

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:20 WIB

Hadiri JJS Soft Opening Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan, Haji Her Borong 2 Kg Emas dan Kenang Jasa Bang Ali dalam Perjalanan Suksesnya

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:39 WIB

Haji Her dan Haji Ali Zainal Abidin Gratiskan UMKM untuk Ribuan Peserta JJS di Soft Opening Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan

Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:14 WIB

Tak Sekadar Hadiri JJS, Haji Her Borong 2 Kg Emas di Central 88 Gold and Jewellery Pamekasan, Kenang Masa Lalu sebagai Anak Yatim

Berita Terbaru