Limbah Panas Cemari Sungai Kedungdalem, DLH Probolinggo Dinilai Lebih Peduli Koordinasi Ketimbang Aksi

Minggu, 21 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO – Layanan Halo SAE yang digadang-gadang menjadi jembatan respons cepat Pemkab Probolinggo kini justru menuai ironi. Laporan warga mengenai dugaan pencemaran limbah panas di Sungai Kedungdalem, Kecamatan Dringu, membentur tembok birokrasi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo dinilai lebih sibuk mengurusi kelengkapan dokumen ketimbang menyelamatkan ekosistem sungai.

 

Dalam tanggapan resminya di layanan Halo SAE, DLH beralasan laporan warga belum spesifik. Instansi ini meminta pelapor melengkapi titik koordinat dan sumber air limbah melalui tautan formulir digital. Sikap defensif ini memicu kritik tajam dari publik. DLH dianggap buta terhadap urgensi lapangan dan minim sensitivitas krisis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Anggota Aliansi Madura Indonesia (AMI), Moch Dierel AMP, menegaskan bahwa pencemaran lingkungan adalah ancaman nyata bagi kesehatan warga yang tidak bisa menunggu urusan administrasi selesai.

 

“Masyarakat melapor karena butuh tindakan, bukan sekadar balasan sistem. DLH punya personel, anggaran, dan perangkat. Mengapa harus menunggu warga menjadi detektif swasta untuk mencari koordinat?” ujar Dierel,minggu (21/6/2026).

 

Sejauh ini, penanganan kasus Kedungdalem hanya berputar pada lingkaran koordinasi di atas kertas. DLH mengklaim telah berkoordinasi dengan Satpol PP dan pihak Kecamatan Dringu. Namun, hingga saat ini tidak ada kejelasan mengenai tindakan konkret seperti,Inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi sungai,Pengambilan sampel air dan uji laboratorium,Investigasi pelaku pembuangan limbah panas.

 

“Koordinasi itu proses, bukan hasil akhir. Yang ditunggu publik adalah siapa pelakunya dan apa sanksinya,” tambah Dierel.

 

Lambatnya respons ini memicu desakan agar Pemkab Probolinggo segera mengevaluasi total kinerja jajaran DLH. Indikator keberhasilan pelayanan publik harus diukur dari solusi riil di lapangan, bukan dari tumpukan berkas laporan yang berhasil dijawab secara normatif.

Hingga berita ini diturunkan, Sungai Kedungdalem masih mengalir tanpa perlindungan hukum yang jelas. Publik Probolinggo kini menagih bukti nyata, apakah pemerintah daerah berani menindak perusak lingkungan atau justru terus berlindung di balik prosedur birokrasi.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Sempat Mati Suri karena Pandemi, Bukit Tinggi Sumenep Kini Kembali Diserbu Pengunjung
Jembatan Kaca Seruni Point Resmi Dibuka, Ikon Baru Wisata Bromo yang Menguji Adrenalin
Geliat GOR A. Yani Kian Lesu, Dangdut Pemkot Probolinggo Tak Cukup Memikat Pengunjung
Rubaru Agro Wisata Fest 2026 Siap Digelar, Paduan Budaya, UMKM, dan Hiburan Rakyat yang Akan Guncang Sumenep
Merasa Aman dan Nyaman, Pengunjung Casbar Surabaya Beri Penghargaan Langsung kepada Korlap Keamanan
Tak Hanya Sehat, Soekarno Fun Run Sumenep 2026 Jadi Ajang Silaturahmi dan Buka Peluang Rezeki bagi 250 UMKM
Madura EV-Day 2026, Tanda Dimulainya Revolusi Kendaraan Listrik di Sumenep
P3M Pererat Persaudaraan dan Relasi Bisnis Lewat Kopdar Keluarga di Pantai Lon Malang Sampang 

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 19:21 WIB

Sempat Mati Suri karena Pandemi, Bukit Tinggi Sumenep Kini Kembali Diserbu Pengunjung

Sabtu, 27 Juni 2026 - 21:44 WIB

Jembatan Kaca Seruni Point Resmi Dibuka, Ikon Baru Wisata Bromo yang Menguji Adrenalin

Rabu, 24 Juni 2026 - 18:09 WIB

Geliat GOR A. Yani Kian Lesu, Dangdut Pemkot Probolinggo Tak Cukup Memikat Pengunjung

Selasa, 23 Juni 2026 - 21:38 WIB

Rubaru Agro Wisata Fest 2026 Siap Digelar, Paduan Budaya, UMKM, dan Hiburan Rakyat yang Akan Guncang Sumenep

Minggu, 21 Juni 2026 - 10:43 WIB

Limbah Panas Cemari Sungai Kedungdalem, DLH Probolinggo Dinilai Lebih Peduli Koordinasi Ketimbang Aksi

Berita Terbaru