PROBOLINGGO — Denyut nadi perekonomian di Pusat Kuliner GOR Ahmad Yani Kota Probolinggo kian hari kian melemah. Angin sepi berembus di antara deretan stan UMKM yang kini mayoritas memilih gulung tikar dan menutup rapat lapak mereka akibat ketiadaan pembeli.
Upaya dramatis sejatinya telah digencarkan oleh Pemerintah Kota Probolinggo untuk memikat kembali minat masyarakat. Panggung hiburan musik dangdut didirikan, alunan musik diperdengarkan, namun riuh nada tersebut gagal memecah kesunyian.
Bahkan, Wali Kota Probolinggo dr. H. Aminuddin, bersama sang istri, didampingi Kepala Dispora Muhammad Abas dan Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro, Perindustrian, dan Perdagangan (DKUPP), Agus Efendi sempat turun gunung untuk ikut mengisi acara musik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tak hanya itu, momentum Piala Dunia pun sempat dimanfaatkan dengan menyulap area GOR menjadi arena nonton bareng (nobar) akbar demi memancing kerumunan. Namun, tuah magnet hiburan tersebut rupanya belum mampu menjadi juru selamat bagi para pedagang.
Sikap bungkam justru ditunjukkan oleh pihak otoritas teknis. Kepala DKUPP Kota Probolinggo, Agus Efendi, sama sekali tidak memberikan tanggapan atau pun jawaban saat dikonfirmasi terkait kondisi kritis ini hingga berita ini ditayangkan.
Di sisi lain, Sekretaris Daerah Kota Probolinggo, Budiono Wirawan, memberikan respons meski belum memberikan jawaban subtansial karena kesibukan dinas.”Ngapunten (mohon maaf) masih saya konsep, ini pindah ke Dewan ada paripurna,” ujar Budiono melalui pesan singkat,rabu (24/6/2026).
Lebih lanjut, Budiono mengarahkan wartawan untuk langsung menggali informasi ke lapangan atau kepada kepala dinas terkait.”Tadi pas di Dewan ketemu dengan Pak Kadis DKUMP (DKUPP), Pak Agus Efendi. Banyak rencana teknis yang disiapkan. Jadi sekalian minta tolong langsung saja ke Pak Kadis nggeh. Saya takut keliru jawab karena bersangkutan dengan rencana OPD teknis,” tambah Sekda memungkasi.
Hingga saat ini, masa depan pusat kuliner tersebut masih berkabut. Rencana-rencana teknis yang disebut oleh Sekda kini dinanti realisasinya oleh para pelaku UMKM yang tersisa, di tengah bungkamnya kepala dinas yang memegang kunci kebijakan.
Kritik tajam pun datang dari perwakilan masyarakat. Dierel dari Aliansi Madura Indonesia,menegaskan bahwa hiburan instan bukanlah obat penawar yang mujarab untuk menghidupkan kawasan tersebut.”Hiburan boleh menjadi daya tarik sesaat, tetapi tidak bisa menjadi solusi utama. Yang dibutuhkan pelaku UMKM adalah keberlanjutan pengunjung dan peningkatan transaksi setiap hari,” tegas Dierel.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu mengkaji ulang sejumlah aspek penting, mulai dari lokasi usaha, pola kunjungan masyarakat, aksesibilitas kawasan, promosi yang berkelanjutan, hingga kenyamanan pengunjung.
“Harus ada evaluasi yang jujur dan terbuka. Apakah konsep yang diterapkan selama ini sudah sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Jangan sampai UMKM terus dijadikan objek uji coba tanpa ada perbaikan yang nyata,” pungkasnya.
Penulis : Moch Solihin








