SANGKAPURA – Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Sawahmulya kembali menggelar Lailatul Ijtima’ sebagai wadah memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus mempererat silaturahmi antarwarga Nahdliyin. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat malam Sabtu (17/7/2026) di Mushalla Nurul Jannah, Dusun Dayabata, Desa Sawahmulya, Kecamatan Sangkapura, Kabupaten Gresik.
Kegiatan ini dihadiri jajaran Pengurus MWCNU Sangkapura, Pengurus Ranting NU Sawahmulya, Pimpinan Ranting Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, perwakilan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Sawahmulya, serta warga Nahdliyin dan masyarakat sekitar.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Rangkaian acara diawali dengan pembacaan Surah Yasin, dan doa bersama yang dipanjatkan untuk arwah kaum muslimin yang telah wafat serta keselamatan dan keberkahan bagi seluruh masyarakat. Suasana khidmat semakin terasa saat memasuki sesi tausiyah keagamaan.
Dalam tausiyahnya, Dr. K.H. Ali Asyhar, M.M.Pd. mengingatkan bahwa dalam perjalanan kehidupan akan selalu ada orang yang menjauh dari nilai-nilai agama. Oleh karena itu, pegangan hidup seorang muslim harus tetap berlandaskan Al-Qur’an dan hadis. Ia juga mengutip pemikiran KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang menegaskan bahwa moralitas dan hati nurani merupakan kompas penting dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.
Menurutnya, penyelenggaraan Lailatul Ijtima’ memiliki peran strategis sebagai sarana meluruskan kembali pemahaman keagamaan, memperkuat akidah, serta menjaga istiqamah dalam mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
Pada kesempatan tersebut, Gus Ali turut mengutip dawuh Imam Ibnu Athaillah, pengarang kitab Al-Hikam. Ia menjelaskan bahwa ketika Allah SWT menganugerahkan rezeki berupa kemampuan untuk taat kepada-Nya disertai rasa cukup dalam hati, maka itulah tanda berkumpulnya nikmat lahir dan batin. Menurutnya, kemampuan mengisi waktu dengan berbagai bentuk ketaatan merupakan nikmat yang sangat besar dan patut disyukuri.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh jamaah memanfaatkan 24 jam kehidupan untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT. Menurutnya, seseorang yang diberi kemampuan untuk terus beribadah dengan anggota tubuhnya merupakan anugerah yang luar biasa. Ia kemudian membagikan pola pembagian waktu yang diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Fase pertama dimulai sejak bangun sebelum Subuh hingga pukul 09.00 WIB dengan memperbanyak ibadah, seperti salat sunnah sebelum Subuh, salat Subuh berjamaah, zikir, membaca Al-Qur’an, dan salat Duha. Fase kedua berlangsung dari pukul 09.00 WIB hingga masuk waktu Zuhur untuk bekerja dan menjalankan aktivitas yang bernilai ibadah. Fase ketiga dimulai sejak Zuhur hingga Magrib dengan tetap menjaga kewajiban salat di sela-sela aktivitas. Adapun fase keempat berlangsung sejak Magrib hingga waktu tidur dengan mengisi malam melalui salat berjamaah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, bermuhasabah, serta beristirahat agar siap kembali menjalankan ketaatan pada hari berikutnya.
Menutup tausiyahnya, Gus Ali mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa berhusnuzan kepada Allah SWT dalam setiap keadaan. Menurutnya, Allah memiliki cara terbaik dalam mengatur rezeki setiap hamba. Terkadang Allah memberikan rezeki yang melimpah, namun pada saat yang sama menahan rezeki dalam bentuk yang lain. Ia mengibaratkan hal tersebut seperti turunnya hujan. Di balik hujan yang membawa keberkahan bagi para petani dan menyuburkan tanaman, ada pula sebagian orang yang aktivitasnya tertunda. Karena itu, setiap ketentuan Allah SWT diyakini selalu mengandung hikmah dan kebaikan yang patut disyukuri serta diterima dengan penuh keimanan.
Sementara itu, Ketua PRNU Sawahmulya, Sahrani Nur, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar kegiatan rutin organisasi, melainkan menjadi wadah untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah, mempererat silaturahmi, memperdalam ilmu agama, serta menghidupkan tradisi keilmuan dan amaliah Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Menurutnya, dari majelis seperti inilah tumbuh semangat kebersamaan, kepedulian, dan kekuatan umat dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Kegiatan berlangsung dengan lancar, tertib, dan penuh kekeluargaan. Seluruh jamaah mengikuti rangkaian acara dengan antusias hingga selesai. Acara ditutup dengan doa bersama sebagai harapan agar Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan, menjaga persatuan umat, serta menguatkan semangat berkhidmat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
Penulis : Abd Hamid







