Merdeka di Bendera; Kemerdekaan yang Dirayakan, Keadilan yang Dipertanyakan

Minggu, 16 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moch Thoriqil Akmal B, S.H

OPINI, – Setiap bulan Agustus, Indonesia mendadak menjadi negeri yang paling rajin mencintai kemerdekaan. Jalan dihiasi merah putih, lomba makan kerupuk digelar, panjat pinang menjadi tontonan, dan lagu Indonesia Raya berkumandang dengan penuh semangat.

Namun ada satu lomba yang jarang dipertandingkan: lomba membuktikan bahwa kemerdekaan benar-benar dirasakan rakyat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kita sering mengutip Soekarno: “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Kalimat itu menggambarkan betapa besar harapan para pendiri bangsa kepada generasi penerus.

Tetapi hari ini, barangkali yang perlu ditanyakan bukan lagi apakah pemuda mampu mengguncangkan dunia, melainkan apakah pemuda masih mampu mengguncang hati para penguasa ketika rakyat sedang kesusahan?

Mohammad Hatta pernah mengingatkan bahwa “Kurang cerdas dapat diperbaiki dengan belajar, kurang cakap dapat dihilangkan dengan pengalaman. Tetapi kurang jujur sulit diperbaiki.”

Kalimat itu terasa semakin relevan. Sebab negeri ini sebenarnya tidak kekurangan orang pintar. Kita punya profesor, doktor, pejabat, ahli ekonomi, ahli hukum, bahkan ahli membuat aturan.

Yang kadang menjadi langka adalah kejujuran ketika berhadapan dengan kekuasaan dan uang.

Ironisnya, setiap Agustus kita berbicara tentang pengorbanan para pahlawan, tetapi setelah upacara selesai, sebagian dari kita kembali sibuk mencari celah untuk menguntungkan diri sendiri.

Pahlawan dahulu berjuang melawan penjajah dengan bambu runcing.

Hari ini, rakyat kadang harus berjuang melawan sesuatu yang lebih rumit: ketidakadilan, kesenjangan, korupsi, pelayanan publik yang buruk, harga kebutuhan yang naik, serta birokrasi yang terkadang lebih cepat membuat alasan daripada memberikan solusi.

Tan Malaka pernah menulis, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”

Sayangnya, idealisme kadang berubah menjadi barang mewah. Ketika seseorang mulai dekat dengan kekuasaan, idealismenya bisa saja ikut naik kendaraan dinas.

Dulu, para pejuang rela kehilangan harta, tenaga, bahkan nyawa demi republik.

Sekarang, ada yang baru kehilangan jabatan saja sudah merasa negara sedang tidak adil.

Dulu, para pahlawan berjuang agar bangsa ini terbebas dari penjajahan.

Sekarang, rakyat masih bertanya: kapan mereka benar-benar terbebas dari rasa takut terhadap kemiskinan, ketidakadilan dan ketidakpastian masa depan?

Kemerdekaan seharusnya bukan sekadar kemampuan mengibarkan bendera tanpa takut ditembak penjajah. Kemerdekaan adalah ketika seorang petani dapat hidup layak dari tanahnya, nelayan tidak terus-menerus menjadi korban kebijakan, pedagang kecil mendapatkan perlindungan, anak-anak memperoleh pendidikan yang baik, dan masyarakat dapat menyampaikan kritik tanpa harus merasa menjadi musuh negara.

Ki Hajar Dewantara mengajarkan semangat “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Pemimpin seharusnya memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberikan dorongan dari belakang.

Bukan sebaliknya: rakyat diminta menjadi teladan, sementara sebagian pejabat sibuk memberi contoh bagaimana kekuasaan bisa dipakai untuk kepentingan sendiri.

Maka, di usia kemerdekaan yang ke-81 ini, mungkin kita tidak perlu terlalu cepat mengklaim bahwa Indonesia sudah sepenuhnya merdeka.

Sebab merdeka dari penjajahan belum tentu merdeka dari keserakahan. Merdeka dari kolonialisme belum tentu merdeka dari korupsi. Merdeka dari senjata penjajah belum tentu merdeka dari ketidakadilan.

Dan barangkali, perjuangan generasi hari ini bukan lagi merebut kemerdekaan dari bangsa asing.

Perjuangannya adalah menjaga agar kemerdekaan tidak diam-diam dijajah oleh kepentingan pribadi.

Selamat HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Mari kibarkan merah putih setinggi-tingginya.

Tetapi jangan sampai merahnya hanya terlihat di bendera, sementara putihnya—kejujuran dan ketulusan—hilang dalam praktik kehidupan berbangsa.

Karena bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang memiliki bendera sendiri.

Bangsa yang merdeka adalah bangsa yang rakyatnya tidak merasa menjadi tamu di rumahnya sendiri.

Berita Terkait

Bukan Sekadar Formalitas Kertas: DPUPR Probolinggo Genjot Jasa Konstruksi Lokal Kuasai TKDN
Darurat Narkoba: Langkah Nyata Kapolri dan Tanggung Jawab Bersama Seluruh Bangsa
Ironi Gapura Selamat Datang Pemalang: Tumpukan Sampah Jadi Pemandangan Pertama, DLH Janji Bertindak
Komitmen Tanpa Kompromi Yakuza Maneges: Amankan dan Serahkan Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Kediri ke Polisi
Haji Her Pamekasan Buka Cabang Imawa di Bali, Kejutan Dua Hadiah Umrah Bikin Suasana Haru
Tamansari Bersholawat! Parade Istimewa LASQI Kabupaten Bogor, 8 Desa Unjuk Bakat, Qasidah Nurul Hidayah Raih Juara Pertama
Komitmen Sosial Kemanusiaan, Yakuza Maneges S&S Salurkan Air Bersih untuk 300 Warga Nyemoh Timur Semarang
Sinergi Humanis di Jalur Samsat Kraksaan: Saat Ketertiban dan Pajak Dikemas Tanpa Sekat

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 10:12 WIB

Bukan Sekadar Formalitas Kertas: DPUPR Probolinggo Genjot Jasa Konstruksi Lokal Kuasai TKDN

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:07 WIB

Darurat Narkoba: Langkah Nyata Kapolri dan Tanggung Jawab Bersama Seluruh Bangsa

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:30 WIB

Ironi Gapura Selamat Datang Pemalang: Tumpukan Sampah Jadi Pemandangan Pertama, DLH Janji Bertindak

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:24 WIB

Komitmen Tanpa Kompromi Yakuza Maneges: Amankan dan Serahkan Terduga Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Kediri ke Polisi

Senin, 12 Oktober 2026 - 08:14 WIB

Haji Her Pamekasan Buka Cabang Imawa di Bali, Kejutan Dua Hadiah Umrah Bikin Suasana Haru

Berita Terbaru