SUMENEP – Perkembangan Artificial Intelligence (AI) mulai menjadi perhatian serius kalangan guru di Kabupaten Sumenep. PGRI POWER Wilayah 2 yang meliputi Kecamatan Pasongsongan, Ambunten, Dasuk, dan Rubaru menggelar Workshop Digitalisasi Pembelajaran dan Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di SDN Ambunten Tengah IV, Kecamatan Ambunten, Sabtu (19/9/2026).
Kegiatan tersebut mengusung semangat “Gerakan 1 Juta Guru Mahir Coding & AI”. Para guru dibekali wawasan dan praktik pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung pembelajaran sekaligus membantu pekerjaan administrasi di sekolah.
Kegiatan secara resmi dibuka oleh Nurut Taufik, S.Pd., M.M. Dalam sambutannya, ia mengingatkan para guru agar tidak berhenti belajar di tengah perkembangan teknologi yang berlangsung sangat cepat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Guru pada masa sekarang harus terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. AI bukan sesuatu yang harus kita hindari, tetapi dapat kita manfaatkan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan pekerjaan guru.”
Menurut Nurut, penguasaan teknologi bukan sekadar kemampuan menggunakan berbagai aplikasi. Yang lebih penting adalah kemampuan guru memilih dan memanfaatkannya sesuai kebutuhan pembelajaran.
“Jangan hanya mengenal aplikasinya. Guru harus mencoba, memahami, dan melihat bagaimana teknologi itu bisa memberikan manfaat nyata bagi peserta didik.”
Ia juga mendorong peserta workshop mengikuti kegiatan secara aktif dengan mencoba langsung berbagai aplikasi yang diperkenalkan narasumber.
“Saya berharap peserta tidak hanya mendapatkan teori, tetapi benar-benar mencoba dan membawa hasil dari workshop ini untuk diterapkan di sekolah masing-masing.”
Narasumber Nasional Bahas Digitalisasi Pembelajaran
Workshop menghadirkan dua narasumber dengan materi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan guru di era digital.
Narasumber pertama, Rizkiyah, S.Pd., M.Pd., yang dikenal sebagai narasumber nasional, menyampaikan materi tentang digitalisasi pembelajaran.
Dalam sesi tersebut, guru diajak memahami pemanfaatan teknologi digital untuk mengembangkan sumber belajar, menyusun materi pembelajaran, membuat aktivitas yang lebih variatif, hingga mendukung proses asesmen.
Digitalisasi pembelajaran tidak hanya dimaknai sebagai penggunaan perangkat teknologi. Guru juga dituntut mampu mengubah teknologi menjadi sarana untuk menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
“Teknologi seharusnya membantu guru menghadirkan pembelajaran yang lebih kreatif, menarik, dan relevan dengan kebutuhan siswa,” jelas Rizkiyah.
Ia juga mengajak guru untuk tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemanfaatannya dalam proses pembelajaran.
Guru Belajar Membuat Prompt AI
Sementara itu, materi berikutnya disampaikan Ngumpriatun, S.Pd., M.Pd., dengan fokus pada pembuatan prompt AI untuk membantu penyusunan administrasi kelas.
Materi ini menjadi bagian menarik karena peserta tidak hanya dikenalkan pada AI, tetapi juga belajar bagaimana memberikan instruksi yang tepat agar AI menghasilkan keluaran sesuai kebutuhan.
Ngumpriatun menjelaskan bahwa kualitas hasil AI sangat dipengaruhi oleh kualitas instruksi yang diberikan.
“Ketika menggunakan AI, guru perlu memberikan konteks, tujuan, format, dan informasi yang jelas. Semakin jelas prompt yang diberikan, semakin sesuai pula hasil yang bisa kita dapatkan.”
AI dapat dimanfaatkan untuk membantu berbagai pekerjaan guru, mulai dari menyusun perangkat pembelajaran, bahan ajar, instrumen asesmen, soal, hingga dokumen pendukung administrasi kelas.
Namun, ia mengingatkan bahwa hasil dari AI tetap harus diperiksa dan disesuaikan oleh guru.
“AI adalah alat bantu. Guru tetap harus memeriksa, memperbaiki, dan menyesuaikan hasilnya dengan kondisi nyata di kelas.”
AI Bukan Pengganti Guru
Pesan penting yang muncul dalam workshop tersebut adalah bahwa kehadiran AI tidak menghilangkan peran guru.
Teknologi dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi proses pendidikan tetap membutuhkan sentuhan manusia. Guru tetap memiliki peran dalam membangun karakter, memberikan keteladanan, memahami kondisi peserta didik, serta menciptakan hubungan yang bermakna dalam proses pembelajaran.
Karena itu, kemampuan menggunakan AI perlu disertai kreativitas, berpikir kritis, etika, dan tanggung jawab profesional.
“Teknologi boleh membantu pekerjaan guru, tetapi tanggung jawab pendidikan tetap berada pada guru. Hasil dari AI tidak boleh diterima begitu saja tanpa diperiksa dan dipertimbangkan,” ungkap Ngumpriatun.
PGRI POWER Wilayah 2 Dorong Kolaborasi
PGRI POWER Wilayah 2 yang mencakup Pasongsongan, Ambunten, Dasuk, dan Rubaru diharapkan terus menjadi ruang kolaborasi dan pengembangan kompetensi guru.
Kegiatan workshop tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong guru agar lebih adaptif terhadap perubahan teknologi sekaligus mampu menggunakannya secara bertanggung jawab.
Para peserta diharapkan tidak berhenti pada pengalaman selama workshop, tetapi membawa pengetahuan tersebut ke sekolah masing-masing dan mengembangkannya sesuai kebutuhan.
Gerakan “1 Juta Guru Mahir Coding & AI” pun diharapkan menjadi pemantik bagi semakin banyak guru untuk meningkatkan kompetensi digital.
Sebab, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, guru dituntut bukan hanya mampu mengikuti perubahan, tetapi juga mampu memastikan teknologi digunakan untuk kepentingan terbaik peserta didik.
Teknologi semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan guru yang mau terus belajar, berpikir kritis, berinovasi, dan tetap menghadirkan sentuhan manusia dalam setiap proses pembelajaran.







