SALMAN di SDN Padangdangan I: Ketika Sapaan Pagi Menjadi Awal Pendidikan yang Memanusiakan

Kamis, 15 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP — Perpindahan tugas bukan sekadar tentang bergantinya tempat pengabdian, melainkan juga tentang bagaimana nilai-nilai kebaikan terus dirawat dan dikembangkan. Semangat itulah yang dibawa Agus Sugianto, S.Pd., Kepala SDN Padangdangan I yang baru, melalui sebuah program sederhana tetapi sarat makna: SALMAN, akronim dari Saliman di Halaman.

Setelah dilantik pada 11 Oktober 2026 oleh Wakil Bupati Sumenep, Agus Sugianto mulai menapaki lembaran pengabdian barunya di SDN Padangdangan I. Namun, ada satu kebiasaan baik yang tidak ia tinggalkan, yakni menyambut kedatangan siswa di halaman sekolah dengan sapaan hangat, senyum, dan jabat tangan.

Kebiasaan tersebut bukanlah hal baru bagi sosok kepala sekolah yang dikenal ikonik dengan blangkon ini. Saat bertugas di SDN Panaongan III, ia telah mengembangkan kegiatan serupa dengan nama SASIDA (Sambut Siswa Datang). Kini, semangat yang sama kembali dihidupkan dalam wajah baru melalui SALMAN.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bagi Agus, menyambut siswa bukan sekadar rutinitas pagi atau formalitas sebelum pembelajaran dimulai. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan upaya membangun budaya sekolah yang ramah, inklusif, dan menghargai setiap anak sebagai pribadi yang unik.

Saat ditemui awak media, kepala sekolah yang juga menjabat sebagai Sekretaris KKKS Kecamatan Pasongsongan itu menjelaskan bahwa SALMAN diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran bersama tentang pentingnya menghadirkan sekolah sebagai ruang yang aman, nyaman, dan penuh penerimaan bagi setiap siswa.

“Melalui SALMAN, saya berharap tumbuh budaya dan kesadaran bahwa ketika siswa sudah memasuki halaman sekolah, mereka disambut dengan segala bentuk keramahan. Anak-anak harus merasa dihargai dan diterima dengan perlakuan yang sama, apa pun kekurangan maupun kelebihan yang mereka miliki,” ungkapnya.

Menurutnya, setiap anak datang ke sekolah dengan membawa cerita dan keadaan yang berbeda. Ada yang datang dengan penuh semangat, ada yang mungkin sedang menghadapi persoalan di rumah, dan ada pula yang membutuhkan perhatian lebih dari guru. Karena itu, sapaan sederhana di pagi hari dapat menjadi pintu awal untuk memahami keadaan mereka.

Bagi Agus, pendidikan tidak selalu dimulai dari buku dan papan tulis. Terkadang, pendidikan justru bermula dari sebuah senyuman, sapaan tulus, dan kesediaan seorang guru untuk mendengarkan.

Melalui kegiatan saliman tersebut, kepala sekolah maupun guru dapat berinteraksi secara langsung dengan siswa. Mereka bisa menanyakan kabar, kondisi keluarga secara wajar, kesiapan belajar, hingga hal-hal sederhana yang berkaitan dengan suasana hati dan pengalaman anak sebelum tiba di sekolah.

Interaksi itu diharapkan menjadi semacam diagnosis awal bagi guru kelas untuk mengenali kondisi siswa sebelum pembelajaran dimulai. Dengan demikian, guru memiliki gambaran awal mengenai kebutuhan, kesiapan, dan pendekatan yang mungkin diperlukan dalam mendampingi anak selama proses belajar.

Pendekatan ini menempatkan hubungan emosional antara guru dan siswa sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan. Sebab, anak yang merasa diterima dan dihargai akan memiliki kesempatan lebih besar untuk membangun kepercayaan diri, merasa nyaman di sekolah, serta mengikuti pembelajaran dengan lebih positif.

Program SALMAN juga menjadi pengingat bahwa membangun pendidikan berkualitas tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar dan rumit. Kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, ketika dilandasi ketulusan dan komitmen bersama, dapat menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik.

Agus berharap, SALMAN tidak berhenti sebagai program yang melekat pada kepemimpinan seorang kepala sekolah. Ia ingin kebiasaan baik tersebut tumbuh menjadi budaya bersama yang dijalankan oleh seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga para siswa.

Baginya, keberhasilan sebuah program bukan hanya diukur dari seberapa sering kegiatan itu dilaksanakan, melainkan dari seberapa jauh nilai-nilai positifnya meresap dalam keseharian warga sekolah.

“Harapan saya, budaya dan karakter positif ini terus berkembang dan berkesinambungan. Bukan hanya dilakukan karena ada program, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan baik yang tumbuh dari kesadaran bersama,” harapnya.

Kehadiran SALMAN di SDN Padangdangan I menjadi penanda bahwa semangat pengabdian dapat terus berlanjut meskipun tempat tugas telah berganti. Dari SASIDA di SDN Panaongan III hingga SALMAN di SDN Padangdangan I, ada benang merah yang tetap terjaga: menghadirkan sekolah yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menyambut, memahami, dan memanusiakan setiap anak.

Pada akhirnya, pendidikan yang bermakna tidak semata-mata berbicara tentang angka, nilai, dan prestasi akademik. Pendidikan juga tentang bagaimana seorang anak merasa diterima, menemukan rasa aman, dan tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya berharga.

Dan di halaman SDN Padangdangan I, pesan itu mulai disampaikan setiap pagi melalui SALMAN: menyambut dengan ramah, mengenal dengan hati, dan mendidik dengan ketulusan.

Berita Terkait

FIKOM Unitomo Surabaya Gandeng PERHUMAS, Mahasiswa Dibekali Strategi Hadapi Krisis Komunikasi
Puskesmas Sangkapura Gresik Turun ke Sekolah, Siswa MINU 17 Patarselamat Jalani Pemeriksaan Kesehatan Gratis 
129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Ancaman Ketertinggalan Pendidikan di Era Teknologi
Himpunan Mahasiswa Informatika Universitas Wiraraja Gelar LKMM-TD 2026, Bangun Generasi Adaptif, Kolaboratif, dan Berintegritas
SMAN 1 Sumenep Sapu Bersih Tiga Juara Utama Olimpiade Ekonomi, Ini Daftar Pemenangnya
Perjusami Gugus 04 Sangkapura Gresik, Cetak Generasi Pramuka Mandiri dan Berkarakter 
Gemilang di INKADHA FEST 2026, Tiga Pelajar Taufiqur Rahman Gapura Sumenep Raih Tiga Penghargaan
ISCO PEDIYAH Kecamatan Pasongsongan: Ajang Kecerdasan, Prestasi, dan Kekompakan

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 15:15 WIB

SALMAN di SDN Padangdangan I: Ketika Sapaan Pagi Menjadi Awal Pendidikan yang Memanusiakan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 12:43 WIB

FIKOM Unitomo Surabaya Gandeng PERHUMAS, Mahasiswa Dibekali Strategi Hadapi Krisis Komunikasi

Senin, 12 Oktober 2026 - 10:29 WIB

Puskesmas Sangkapura Gresik Turun ke Sekolah, Siswa MINU 17 Patarselamat Jalani Pemeriksaan Kesehatan Gratis 

Minggu, 11 Oktober 2026 - 18:11 WIB

129 Kepala Sekolah Dilantik, Wabup Sumenep Ingatkan Ancaman Ketertinggalan Pendidikan di Era Teknologi

Minggu, 11 Oktober 2026 - 13:17 WIB

Himpunan Mahasiswa Informatika Universitas Wiraraja Gelar LKMM-TD 2026, Bangun Generasi Adaptif, Kolaboratif, dan Berintegritas

Berita Terbaru