Nasional – Membayar zakat kini dapat dilakukan dalam hitungan detik, tetapi kemudahan itu belum tentu menjawab permasalahan zakat saat ini. Akar persoalannya ada pada dua hal: kurangnya pemahaman tentang zakat dan lemahnya kepercayaan kepada lembaga pengelola..
Platform digital seperti BAZNAS Digital, Kitabisa, dan Dompet Dhuafa memang membuka jalan baru. Namun pertanyaannya yang wajib dipertanyakan : apakah aplikasi zakat hanya memindahkan loket konvensional ke layar ponsel, atau benar-benar mewujudkan tujuan zakat itu sendiri? Jawabannya ada pada cara aplikasi dirancang. Di sinilah maqashid syariah bisa menjadi panduan.
Lima Tujuan yang Dijaga
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Maqashid syariah berarti tujuan-tujuan luhur hukum Islam. Para ulama merumuskannya sebagai penjagaan terhadap lima hal: agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan harta (hifz al-mal). Digitalisasi zakat termasuk kebutuhan hajiyyah, yaitu bukan kewajiban, tetapi solusi agar kewajiban zakat lebih mudah ditunaikan dan menjangkau lebih banyak orang.
Teknologi sendiri tidak mempunya nilai. Nilai itu harus ditanamkan dengan sengaja oleh para perancangnya. Pendekatan ini sudah dikaji peneliti, misalnya Noviani dan kawan-kawan (2025), yang memetakan fitur platform zakat berbasis teknologi finansial ke dalam kelima tujuan tersebut.
Jangan Biarkan Zakat Jadi Sekadar Transfer
Zakat adalah ibadah, bukan hanya sekedar perpindahan uang saja. Ketika caranya semudah menekan tombol, ada resiko kesadaran dan rasa penghambaan ikut terasakan. Karena itu, aplikasi perlu dirancang agar pengguna tetap ingat tujuan ibadahnya .
Studi Saoki dan Mahir (2025) pada platform E-Zakat BAZNAS Surabaya menunjukkan bahwa pesan keagamaan, transparansi, dan notifikasi email membantu menjaga dimensi ini. Di dalam aplikasi, wujudnya bisa sederhana: layar niat zakat, doa singkat, dan refleksi satu-dua kalimat sebelum pembayaran dikonfirmasi. Pesan spiritual juga bisa muncul di tiga momen kunci, yaitu saat aplikasi dibuka, sebelum membayar, dan setelah zakat tersalurkan.
Amanah yang Bisa Dilacak
Kepercayaan adalah modal utama zakat digital, dan kepercayaan tumbuh dari bukti. Muzakki perlu bisa melihat ke mana dananya pergi: kepada siapa, untuk apa, dan kapan. Fitur pelacakan dana secara langsung menjawab kebutuhan ini, sekaligus melindungi hak mustahik agar zakat tidak bocor di jalan.
Ada dua hal lain yang tak boleh ditawar. Pertama, data muzakki dan mustahik harus diamankan dengan enkripsi, autentikasi berlapis, dan kepatuhan pada aturan perlindungan data. Kedua, penerima zakat harus diverifikasi agar dana jatuh ke tangan yang berhak dan tidak diasalah gunkan.
Teknologi blockchain kerap disebut sebagai jawabannya karena catatannya transparan dan sulit diubah. Kajian hukum Rakhman (2026) dari UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto menilai teknologi ini sejalan dengan perlindungan harta, meski kepastian hukumnya di Indonesia masih menjadi tantangan.
Zakat untuk yang Paling Membutuhkan
Menjaga jiwa berarti memastikan zakat benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkannya untuk bertahan hidup dengan layak. Aplikasi bisa membantu menyusun prioritas penerima berdasarkan kebutuhan, misalnya keluarga dengan anak yatim atau anak berkebutuhan khusus. Kecerdasan buatan juga mulai dipakai untuk membaca data sosial-ekonomi agar penyaluran lebih tepat sasaran.
Tetapi ada jebakan yang perlu diwaspadai. Kajian-kajian zakat digital menemukan bahwa manfaatnya lebih mudah dinikmati warga kota, sementara masyarakat desa tertinggal. Aplikasi yang baik harus tetap berfungsi di ponsel sederhana dan sinyal terbatas, serta menyediakan jalur alternatif bagi mereka yang belum akrab dengan teknologi.
Pintar Berzakat, Berdaya Menerima
Banyak Muslim berniat menunaikan zakat, tetapi bingung bagaimana cara menghitungnya, apa saja yang wajib dizakati, atau platform mana yang tepercaya. Riset-riset zakat digital menunjukkan bahwa pemahaman zakat memengaruhi niat orang untuk berzakat. Maka edukasi harus menyatu dengan alur aplikasi, bukan ditaruh di menu yang jarang dibuka.
Kalkulator zakat yang mengenali penghasilan masa kini, seperti gaji, bonus, investasi, aset kripto, dan penghasilan pekerja lepas, adalah kebutuhan dasar. Modul belajar singkat, kuis, dan unsur permainan juga cocok untuk generasi muda.
Di sisi penerima, zakat sebaiknya memberdayakan, bukan hanya memberi bantuan sesaat. Aplikasi dapat mendukung pelatihan keterampilan, pendampingan usaha mikro, dan pemantauan perkembangan usaha penerima.
Zakat untuk Masa Depan Keluarga
Menjaga keturunan berarti memastikan zakat ikut menopang masa depan anak-anak, lewat pendidikan, gizi, dan kesehatan. Karena itu, sistem penyaluran perlu melihat kebutuhan keluarga, bukan hanya individu, dan mampu menunjukkan apakah bantuan dipakai untuk biaya sekolah, perbaikan gizi, atau layanan kesehatan.
Sistem juga sebaiknya mencatat kemajuan setiap penerima dan melaporkan dampaknya secara berkala. Tujuannya jelas: bantuan harus mendorong keluarga mandiri, bukan membuat mereka bergantung.
Enam Rambu bagi Pengembang
Dari kelima tujuan di atas, penulis merumuskan pendekatan sharia-by-design: prinsip syariah ditanam sejak fondasi sistem dirancang, bukan ditempel di akhir pengembangan. Ada enam rambunya.
1. Berlandaskan nilai. Setiap fitur harus bisa dipertanggungjawabkan secara syariah, bukan hanya secara teknis.
2. Terhubung. Sistem terintegrasi dengan BAZNAS, pengawas syariah, dan kanal pembayaran digital.
3. Bernuansa ibadah. Aspek spiritual hadir di setiap interaksi, bukan hanya di satu menu religius.
4. Transparan dari ujung ke ujung. Dana bisa dilacak dan diaudit dari pembayaran sampai penyaluran.
5. Inklusif. Bisa diakses lapisan masyarakat mana pun, termasuk penyandang disabilitas dan warga di daerah dengan infrastruktur terbatas.
6. Aman. Data pengguna adalah amanah yang wajib dijaga.
Praktik nyata sudah ada. BAZNAS mengembangkan sistem informasi SiMBA untuk memperkuat akuntabilitas pengelolaan zakat. Sementara itu, Miftah Fatunijar dan kawan-kawan (2026) mencatat bahwa Arab Saudi mengintegrasikan zakat dengan lembaga jaminan sosial untuk menjaga ketepatan sasaran penerima. Di Indonesia, tantangan terbesarnya adalah belum adanya standar nasional, sehingga tiap platform berjalan dengan fitur dan ukurannya sendiri dan sulit diaudit bersama.
Penutup
Zakat digital bukan tujuan akhir, melainkan wasilah menuju kesejahteraan umat, keadilan sosial, dan keridaan Allah di era digital. Bagi mahasiswa Sistem Informasi, ini peluang untuk memakai keahlian basis data, rekayasa perangkat lunak, keamanan siber, dan kecerdasan buatan bagi sesuatu yang lebih bermakna. Bagi kita semua, ini pengingat bahwa teknologi membawa manfaat jika dirancang dengan niat yang ikhlas dan benar.
Muhammad Hassan Musajid · Mahasiswa STMIK Tazkia · Sistem Informasi.







