Gerindra–PDIP Mendekat: Pijakan Politik Jokowi yang Semakin Limbung

Rabu, 28 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dr. Adi Suparto

Apa yang Sedang Terjadi?

Peta politik menjelang Pemilu 2029 sedang mengalami pergeseran yang patut diperhatikan. Dua kekuatan politik terbesar: Gerindra dan PDI Perjuangan: terlihat semakin saling mendekat. Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menjadi sinyal awal yang kemudian ditafsirkan luas oleh banyak pihak. Di tengah dinamika ini, posisi politik mantan Presiden Joko Widodo beserta Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka justru terasa semakin berada di posisi yang terpisah dan belum memiliki pijakan yang kokoh.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagaimana diulas dalam Kompas.com (26 Oktober 2026), kedekatan personal antar-tokoh tidak otomatis berubah menjadi kekuatan politik yang berkelanjutan. Tanpa ditopang oleh mesin partai yang memadai, pengaruh seseorang akan terasa terbatas ketika berhadapan dengan konsolidasi kekuatan politik besar yang sedang terjadi.

Dua Raksasa yang Semakin Saling Melengkapi

Berbagai hasil survei terbaru menunjukkan bahwa Gerindra dan PDIP saat ini menempati dua posisi teratas dalam peta elektabilitas nasional. Jika keduanya bergerak beriringan, gabungan keduanya mencapai sepertiga lebih pemilih potensial di Indonesia.

Lembaga survei Poltracking pada periode 30 September–7 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gerindra sebesar 22,9 persen dan PDIP sebesar 13,4 persen. Sementara hasil survei Voxpol Center pada 3–12 Oktober 2026 menunjukkan angka yang berdekatan, yaitu Gerindra 21,1 persen dan PDIP 16,1 persen. Secara gabungan, kedua lembaga mencatat total dukungan sekitar 36 hingga 37 persen — angka yang cukup signifikan untuk membentuk poros dominan dalam peta politik nasional.

Angka ini bukan sekadar angka statistik. Ini mencerminkan adanya basis pemilih yang besar yang kini sedang menyatu dalam satu poros pergerakan politik. Ketika dua arus besar ini mengalir ke satu arah, maka ruang bagi pihak-pihak yang berada di luar konsolidasi tersebut secara otomatis akan semakin sempit.

Mengapa Pijakan Jokowi–Gibran Terasa Semakin Limbung?

Pertama, kendaraan politik yang diandalkan belum cukup kuat. Jokowi dan Gibran sangat bergantung pada Partai Solidaritas Indonesia. Namun data elektabilitas terbaru menunjukkan angka yang masih berada di bawah ambang batas parlemen. Poltracking mencatat PSI berada di angka 2,9 persen, sedangkan Voxpol mencatat 2,4 persen. Artinya, kendaraan politik yang diandalkan belum mampu mengubah popularitas figur menjadi dukungan yang berarti di parlemen maupun dalam pertarungan pemilu presiden.

Kedua, pengaruh pribadi berbeda dengan kekuatan institusional. Pengamat politik Andi Widjajanto dalam pembahasan bersama Kompas menegaskan bahwa polemik yang menyertai figur tertentu akan selalu menjadi pertimbangan politik. Ketika seseorang menghadapi kontroversi publik yang belum selesai, dan tidak memiliki struktur partai yang kuat untuk menopangnya, maka pengaruh yang dimiliki akan semakin mudah terkikis seiring berjalannya waktu. Pengaruh personal memang bisa membuka pintu, tetapi hanya dukungan institusional yang kuat yang dapat menjaga pintu itu tetap terbuka.

Ketiga, prioritas partai besar kini berubah. Gerindra sebagai partai yang memegang tampuk pemerintahan membutuhkan stabilitas dan dukungan luas agar program-program pemerintah dapat berjalan. PDIP dengan basis pemilih yang kuat di berbagai daerah membutuhkan ruang yang lebih besar untuk berperan dalam kebijakan nasional. Kebutuhan strategis kedua partai ini kini tampak semakin beririsan, sehingga posisi pihak ketiga yang berada di luar konsolidasi tersebut secara alami akan semakin terpinggirkan.

Polemik yang Belum Usai Menjadi Beban Tambahan

Berbagai media terus menyoroti polemik terkait figur Gibran Rakabuming Raka yang belum menemukan kejelasan tuntas. Meski belum berdampak langsung pada kedudukannya sebagai Wakil Presiden, secara persepsi publik, kontroversi yang berlarut-larut menjadi beban politik yang nyata. Bagi partai-partai besar yang sedang menyusun kalkulasi pencalonan untuk pemilu mendatang, elektabilitas, penerimaan publik, dan risiko politik seorang figur adalah pertimbangan yang tidak bisa diabaikan.

Semakin lama keraguan publik dibiarkan tanpa jawaban yang memuaskan, semakin kecil kemungkinan partai besar akan memprioritaskan figur yang membawa ketidakpastian tersebut.

Apa yang Bisa Kita Ambil Sebagai Pelajaran?

Dinamika ini mengajarkan kita beberapa hal mendasar tentang dunia politik. Pertama, kekuasaan itu bersifat dinamis; masa jabatan bisa berakhir, dan pengaruh politik tidak otomatis diwariskan begitu saja. Kedua, tokoh sehebat apa pun tetap membutuhkan organisasi yang kuat sebagai wadah.

Tanpa itu, dukungan publik yang ada dapat dengan mudah terpecah atau beralih ke kekuatan lain yang lebih terorganisir. Ketiga, kepercayaan publik adalah modal politik yang paling rapuh; sekali retak, butuh waktu lama untuk mengembalikannya. Keempat, konsolidasi kekuatan besar selalu menyisakan ruang yang lebih sempit bagi pihak di luarnya, sehingga relevansi tidak bisa hanya mengandalkan nama, melainkan harus dibangun melalui kerja politik yang nyata dan berkelanjutan.

Penutup

Peta politik menuju 2029 memang belum final. Namun tanda-tanda yang terlihat menunjukkan satu hal yang jelas: kekuasaan tidak diwariskan begitu saja, ia harus terus diperjuangkan melalui dukungan rakyat yang nyata dan terorganisir. Pijakan yang terasa limbung bukan semata karena ada pihak yang menjauh, melainkan karena fondasi yang dibangun ternyata tidak selebar dan tidak sekuat yang diperkirakan. Saat dua partai terbesar sedang menyusun peta baru, pertanyaan terpenting sebenarnya bukan siapa yang bergabung dengan siapa, melainkan: arah ke mana semua ini akan membawa kepentingan rakyat terbanyak? Karena pada akhirnya, semua perhitungan elit politik itu bermakna jika benar-benar berdampak baik bagi kehidupan masyarakat luas.

Berita Terkait

Operasi Patuh Semeru 2026, Polresta Sumenep Perketat Disiplin Anggota Sejak Pagi
Sanggar Dewitri, MI Nurul Jadid 1 dan Drumband Gita Pamongkas Tampil Memukau di Media Expo 2026 Sumenep
Kapolresta Sumenep Kerahkan Kesiapan Personel, Operasi Patuh Semeru 2026 Kedepankan Pendekatan Humanis
Bukan Hanya Jago Kitab Kuning, Tiga Santri Ponpes Syeh Abdurrahman Rabah Pamekasan Ukir Prestasi Nasional, Raih Reward 7 Hari ke Tiongkok
Bukan Sekadar Panggung Budaya, AJP-DKP Awali Traditional Pamekasan Culture dengan Santunan Anak Yatim
KH Moh. Qosim Buka Manasik Haji Babussalam, Ingatkan Jamaah Bawean tentang Anugerah Menjadi Tamu Allah 
Yakuza Maneges Hadiri Deklarasi Ormas PROGIB Kediri, Perkuat Kolaborasi Lintas Organisasi
Rizal Bawazier Gaspol Perjuangkan Pintu Tol Sewaka -Paduraksa, Pemalang Selatan Bikin Ledakan Ekonomi

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Gerindra–PDIP Mendekat: Pijakan Politik Jokowi yang Semakin Limbung

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:43 WIB

Operasi Patuh Semeru 2026, Polresta Sumenep Perketat Disiplin Anggota Sejak Pagi

Senin, 26 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Sanggar Dewitri, MI Nurul Jadid 1 dan Drumband Gita Pamongkas Tampil Memukau di Media Expo 2026 Sumenep

Senin, 26 Oktober 2026 - 17:40 WIB

Kapolresta Sumenep Kerahkan Kesiapan Personel, Operasi Patuh Semeru 2026 Kedepankan Pendekatan Humanis

Senin, 26 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Bukan Hanya Jago Kitab Kuning, Tiga Santri Ponpes Syeh Abdurrahman Rabah Pamekasan Ukir Prestasi Nasional, Raih Reward 7 Hari ke Tiongkok

Berita Terbaru