PROBOLINGGO – Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) di Desa Sumberejo, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, hingga kini belum juga beroperasi. Ironisnya, bangunan yang menyedot dana miliaran rupiah itu justru berubah jadi “museum sunyi” , mangkrak, rusak, dan nyaris ditelan semak belukar.
Alih-alih jadi motor penggerak ekonomi petani tembakau, KIHT justru teronggok seperti bangkai proyek gagal. Alasannya? Hanya satu, menunggu restu dari Bupati Probolinggo, dr. Muhammad Haris.
“Semua keputusan ada pada pimpinan. Kami masih menunggu perintah dan arahan dari beliau (Bupati, red) ” ujar Kepala Bidang Perindustrian pada DKUPP, Arie Kartika Sari, Senin (5/8/2025).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sementara itu, kondisi bangunan makin memprihatinkan.
Dari kejauhan tampak kokoh, tapi mendekat sedikit saja, kerusakan menganga, keramik dinding copot dan hancur, paving bergelombang, bagian belakang bangunan ditumbuhi semak liar, dan akar rumput menjalar liar tanpa kendali.
Yang lebih menyakitkan, proyek ini seolah-olah tak bertuan. Tak ada aktivitas. Tak ada rencana konkrit. Hanya janji-janji kosong yang terus menguap bersama waktu.
Aktivis pemantau anggaran, Rifki Anshori, menyayangkan kondisi ini.
“KIHT ini dibangun untuk menyelamatkan nasib petani tembakau dan UMKM hasil tembakau lokal. Tapi nyatanya malah jadi proyek mubazir yang dibiarkan mangkrak bertahun-tahun. Apa kita sedang menonton pembiaran yang disengaja?” tegasnya.
Rifki juga menilai lambannya eksekusi operasional proyek ini mencerminkan minimnya komitmen terhadap nasib petani dan pelaku industri kecil tembakau.
“Kalau hanya menunggu restu tanpa tenggat waktu yang jelas, ini bisa jadi dalih politik yang membunuh ekonomi rakyat kecil secara perlahan,” imbuhnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Bupati Probolinggo terkait alasan belum dioperasikannya KIHT yang pembangunannya sudah selesai sejak lama.
Penulis : Moch Solihin








