Kopi Argopuro Tembus Pasar Arab Saudi: Kemenkop UMKM Luncurkan Holding Klaster Perkebunan dari Situbondo

Senin, 6 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dok.Foto: Ekspor kopi dikirim dengan 10 mobil Pick Up dari Kecamatan Sumber Malang

Dok.Foto: Ekspor kopi dikirim dengan 10 mobil Pick Up dari Kecamatan Sumber Malang

SITUBONDO – Situbondo kembali mencatat sejarah penting bagi dunia perkebunan nasional. Senin (6/10/2025), Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UMKM) Republik Indonesia secara resmi melepas ekspor perdana satu kontainer berisi 15 ton kopi specialty Argopuro Walida menuju Jeddah, Arab Saudi. Nilai transaksi ekspor tersebut mencapai hampir Rp 3 miliar — menjadi bukti bahwa produk rakyat dari lereng Argopuro mampu menembus pasar global.

Acara pelepasan ekspor yang digelar di Kabupaten Situbondo itu dipimpin langsung oleh Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian Koperasi dan UMKM, Bagus Rachman, SE., M.Ec. Momentum ini tidak hanya bersifat seremonial pengiriman komoditas, melainkan juga menandai peluncuran Program Holding UMKM Klaster Perkebunan, sebuah inisiatif nasional yang dirancang untuk memperkuat integrasi usaha rakyat dalam rantai pasok global.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam sambutannya, Deputi Bagus menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Pokmas Argopuro Walida, kelompok masyarakat yang menjadi motor penggerak di balik ekspor kopi Situbondo ini. Melalui kemitraan yang solid dengan 568 petani, Pokmas Walida berhasil membangun ekosistem usaha rakyat yang berpotensi melibatkan hingga 1.500 petani kopi di wilayah sekitar.

> “Ekspor kopi Argopuro hari ini membuktikan bahwa UMKM kita mampu bersaing di pasar global,” ujar Deputi Bagus Rachman di hadapan para pelaku usaha, pejabat daerah, dan tamu undangan yang hadir.

Ia menegaskan, Indonesia memiliki keunggulan luar biasa di sektor kopi, baik dari sisi varietas, cita rasa, maupun keberlanjutan. Lebih dari 90 persen perkebunan kopi nasional dikelola oleh petani rakyat. Banyak di antaranya menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan kategori specialty coffee yang memiliki nilai jual premium di pasar internasional.

Kinerja ekspor kopi nasional pun menunjukkan tren positif. Data tahun 2024 mencatat nilai ekspor mencapai Rp 24,8 triliun, naik signifikan dibanding tahun sebelumnya. Dalam konteks ini, kopi Argopuro menjadi contoh nyata bagaimana usaha menengah dapat berperan sebagai lokomotif yang menggerakkan ekosistem UMKM perkebunan dari hulu ke hilir.

Deputi Bagus menyoroti bahwa salah satu tantangan klasik yang dihadapi pelaku UMKM adalah disconnectivity antara skala kecil dengan industri besar, terutama dalam hal akses pembiayaan, teknologi, dan pasar. Untuk menjawab persoalan tersebut, Kementerian UMKM meluncurkan Program Holding UMKM, yang berfokus pada penciptaan ekosistem terintegrasi antara usaha mikro, kecil, menengah, dan perusahaan besar.

Dalam model holding ini, sektor perkebunan — terutama kopi — ditetapkan sebagai salah satu dari 10 sektor prioritas berbasis klaster karena menjanjikan nilai tambah tinggi dan peluang ekspor yang besar. Usaha Menengah ditempatkan sebagai operator utama yang menjalankan empat pilar penting:
1. Pilar Aggregator – Mengintegrasikan para pelaku UMKM dalam satu klaster agar tercapai skala ekonomi dan efisiensi produksi.
2. Pilar Inkubasi – Memberikan pendampingan dan pembinaan agar Usaha Mikro dan Kecil mampu “naik kelas”.
3. Pilar Pemasaran – Memperluas akses pasar domestik dan global dengan menjamin kontinuitas serta kualitas produk sesuai standar internasional.
4. Pilar Pendanaan – Membangun sistem pembiayaan terintegrasi berbasis ekosistem untuk menekan risiko kredit.

Ekosistem yang dikembangkan oleh Pokmas Argopuro Walida menjadi contoh ideal dari konsep tersebut. Tidak hanya berorientasi pada peningkatan ekonomi, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang konkret bagi masyarakat sekitar.

> “Model klaster perkebunan kopi Argopuro tidak hanya mendorong peningkatan ekonomi, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang nyata bagi masyarakat,” jelas Deputi Bagus.

Salah satu contoh keberhasilan sosial yang menonjol adalah inisiatif Pokmas Walida yang mengalokasikan 30 persen keuntungan usaha mereka untuk mendanai sekolah gratis bagi anak-anak petani kopi, dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Program ini memperlihatkan bahwa pemberdayaan ekonomi dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas hidup masyarakat pedesaan.

Melalui pendekatan klaster ini, Kementerian UMKM bertekad mengakhiri praktik UMKM yang selama ini berjalan sendiri-sendiri tanpa dukungan rantai pasok yang kuat. Deputi Bagus menegaskan tekad pemerintah:

> “Kita bertekad memastikan UMKM terhubung, terintegrasi, dan saling menguatkan dalam satu ekosistem yang mendorong produktivitas, efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan.”

Sementara itu, Bupati Situbondo Yusuf Rio Wahyu Prayogo (Mas Rio) turut hadir dan memberikan sambutan hangat. Ia menilai bahwa momen pelepasan ekspor kopi Argopuro bukan hanya capaian ekonomi, tetapi juga inspirasi bagi generasi muda Situbondo untuk berani membangun masa depan dari potensi lokal.

> “Kopi Argopuro punya keunggulan rasa karena ditanam di ketinggian 1.800 meter. Saya ingin anak-anak muda memikirkan masa depan mereka sendiri. Pemerintah hanya memberi alat bantu, bukan menggantikan peran mereka,” ujar Mas Rio.

Ia juga menekankan pentingnya regenerasi di sektor perkebunan agar kualitas dan kesinambungan produksi tetap terjaga. Menurutnya, kopi bukan sekadar komoditas ekspor, tetapi simbol kerja keras, kebersamaan, dan kebanggaan masyarakat Situbondo.

Pelepasan ekspor kopi Argopuro ke Jeddah ini sekaligus menjadi deklarasi komitmen bersama antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BUMN, pelaku swasta, dan lembaga keuangan. Semua pihak sepakat membangun ekosistem kemitraan yang tangguh, berdaya saing tinggi, dan berkelanjutan.

Melalui Holding UMKM Klaster Perkebunan, Indonesia meneguhkan langkah menuju kemandirian ekonomi berbasis rakyat. Dari lereng Argopuro di Situbondo, aroma kopi khas Nusantara kini resmi menembus langit Timur Tengah — membawa pesan kuat bahwa produk rakyat Indonesia siap menjadi pemain utama dalam perdagangan global.

Dengan fondasi kolaboratif ini, pemerintah optimistis potensi kopi dan komoditas perkebunan lainnya akan menjadi motor penggerak baru bagi peningkatan ekspor nasional dan kesejahteraan petani di seluruh penjuru negeri.

Penulis : HM

Berita Terkait

Siaga 24 Jam untuk Warga, Diskominfo Sumenep Matangkan SOP Layanan Darurat 112
Peternak Ayam Petelur Blitar Bagikan Sejuta Telur Gratis, Soroti Anjloknya Harga Pasar
Fasilitas Sepi Bak “Wisata Gaib”, Anggaran Kebersihan Gerbang Wisata Sukapura Probolinggo Sedot Rp400 Juta Lebih
Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Serukan Kebangkitan Nilai Pancasila di Tengah Perubahan Zaman
Pesona Lampion Pancasila Memukau, Ribuan Warga Tumpah Ruah di Jalanan Kota Blitar
Ayo Jaga Sumenep Bersama, Karena Sampah yang Kita Buang Menentukan Wajah Daerah Kita
Menata Kota, Menjaga Masa Depan: Di Era Bupati Fauzi, Gerakan Jumat Bersih Terus Mengakar Jadi Budaya ASN Sumenep
Libur Panjang Tak Longgarkan Kesiapsiagaan, Layanan 112 Sumenep Tetap Siaga 24 Jam Demi Keselamatan Warga

Berita Terkait

Senin, 1 Juni 2026 - 19:01 WIB

Siaga 24 Jam untuk Warga, Diskominfo Sumenep Matangkan SOP Layanan Darurat 112

Senin, 1 Juni 2026 - 14:29 WIB

Peternak Ayam Petelur Blitar Bagikan Sejuta Telur Gratis, Soroti Anjloknya Harga Pasar

Senin, 1 Juni 2026 - 10:41 WIB

Fasilitas Sepi Bak “Wisata Gaib”, Anggaran Kebersihan Gerbang Wisata Sukapura Probolinggo Sedot Rp400 Juta Lebih

Senin, 1 Juni 2026 - 10:31 WIB

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo Serukan Kebangkitan Nilai Pancasila di Tengah Perubahan Zaman

Senin, 1 Juni 2026 - 09:34 WIB

Pesona Lampion Pancasila Memukau, Ribuan Warga Tumpah Ruah di Jalanan Kota Blitar

Berita Terbaru

NASIONAL

Lapas Kendal Ikuti Upacara Hari Lahir Pancasila 

Senin, 1 Jun 2026 - 21:04 WIB