SUMENEP, Detikzone.id — Bagi Founder BIP Foundation Ali Zainal Abidin, berbagi bukan sekadar kegiatan sosial yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Baginya, kepedulian adalah panggilan hati yang harus terus dijaga dengan njat dan konsistensi, terutama ketika masih banyak saudara-saudara yang hidup dalam keterbatasan.
Ia meyakini bahwa setiap rezeki yang datang adalah amanah dari Allah yang harus kembali dirasakan manfaatnya oleh sesama.
“Ketika kita menerima amanah rezeki dari Allah, hakikat terima kasih itu adalah dengan mengasihkannya kembali kepada mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Semangat itulah yang terus melahirkan berbagai gerakan kemanusiaan melalui Bani Insan Peduli atau BIP Foundation.
Pada Selasa (10/3/2026), kediaman ibunda Ali Zainal Abidin di Sumenep berubah menjadi lautan manusia. Ribuan warga memadati lokasi kegiatan sosial yang digelar menjelang Hari Raya Idul Fitri tersebut.
Diperkirakan sekitar 6.000 orang hadir dalam kegiatan penuh kepedulian itu. Mereka datang dari berbagai kalangan, mulai dari anak yatim, kaum dhuafa, penyandang disabilitas, pengemudi ojek online, pasukan kebersihan, hingga masyarakat umum yang membutuhkan uluran tangan.
Suasana haru pun terasa di setiap sudut kegiatan. Banyak warga datang dengan harapan sederhana, namun pulang dengan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan.
Menariknya, kegiatan besar di Sumenep tersebut digelar hanya beberapa hari setelah BIP mengadakan aksi sosial besar lainnya di Pamekasan.
Dalam kegiatan sebelumnya itu, sekitar 3.000 anak yatim diundang untuk mengikuti buka puasa bersama sekaligus merasakan pengalaman berharga melalui program belanja gratis kebutuhan Lebaran.
Ribuan anak yatim terlihat begitu bahagia ketika mereka diberi kesempatan memilih sendiri pakaian, sepatu, dan berbagai kebutuhan untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri. Senyum mereka menjadi pemandangan yang mengharukan bagi siapa pun yang menyaksikannya.
Kegiatan tersebut bahkan mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia sebagai salah satu kegiatan sosial besar yang melibatkan ribuan anak yatim.
Namun bagi Ali Zainal Abidin, penghargaan bukanlah tujuan utama.
“Bagi kami, kebahagiaan terbesar bukanlah penghargaan atau rekor yang dicatatkan. Kebahagiaan itu justru ketika melihat saudara-saudara kita tersenyum dan merasakan perhatian dari sesamanya,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kegiatan yang digelar di kediaman ibundanya memiliki makna tersendiri. Menurutnya, doa seorang ibu adalah kekuatan yang selalu mengiringi setiap langkah yang ia jalani.
“Kami memilih kediaman Ibunda sebagai lokasi kegiatan karena doa beliau adalah kekuatan yang selalu menyertai setiap langkah kami. Semoga dari tempat ini lahir semakin banyak kebaikan untuk masyarakat,” katanya.
Meski baru berdiri pada tahun 2023, BIP Foundation kini mulai dikenal luas sebagai gerakan sosial yang aktif menghadirkan berbagai kegiatan kemanusiaan.
Gerakan sosial tersebut tidak hanya menyasar wilayah Madura seperti Sumenep dan Pamekasan, tetapi juga telah menjangkau kota-kota besar seperti Surabaya, Malang, hingga Jakarta.
Bagi Ali Zainal Abidin, harta bukanlah sesuatu yang harus ditimbun, melainkan amanah yang harus kembali mengalir kepada mereka yang membutuhkan.
Di tengah suasana Ramadan yang penuh berkah, ribuan wajah yang pulang dengan senyum dan rasa haru menjadi bukti bahwa kepedulian sosial masih hidup di tengah masyarakat.
Bagi BIP Foundation, itulah pencapaian terbesar, bukan sekadar angka besar dalam sebuah kegiatan, melainkan jejak kemanusiaan yang akan terus dikenang oleh mereka yang merasakannya.








