SANGKAPURA – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sungaiteluk 2 Kakeki Al-Ghani, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, resmi menggelar grand opening pada Sabtu (28/3/2026). Kehadiran unit layanan ini menjadi bagian dari penguatan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diinisiasi Badan Gizi Nasional.
SPPG yang berada di bawah naungan Yayasan Santri Melek Industri tersebut berlokasi di Jalan Dermaga Beringinan, Desa Sungaiteluk. Peresmian dihadiri perwakilan pemerintah, tokoh masyarakat, serta kepala sekolah dan madrasah penerima manfaat program.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Prosesi pembukaan ditandai dengan pemotongan pita oleh Wakil Ketua I DPRD Gresik, Lutfi Dhawam, bersama unsur pemerintah dan para undangan yang hadir.
Kepala SPPG Kakeki Al-Ghani, Aris Shadiqul Wachdy, menyampaikan bahwa pihaknya berharap adanya kolaborasi dari berbagai elemen untuk mendukung keberhasilan program tersebut.

“Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi anak-anak, tetapi juga memiliki dampak luas. Kami berharap kehadiran SPPG mampu mendorong kesejahteraan masyarakat, membuka peluang ekonomi, serta memberdayakan relawan dan tenaga yang terlibat,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya masukan dari berbagai pihak sebagai bahan evaluasi, agar layanan SPPG terus berkembang dan memberikan manfaat optimal.
Sementara itu, Wakil Ketua I DPRD Gresik, Lutfi Dhawam, menegaskan bahwa pelaksanaan Program MBG ke depan harus lebih menitikberatkan pada kualitas, bukan sekadar kuantitas.
“Kalau sebelumnya kita berbicara kuantitas, yang penting program berjalan, maka sekarang arahnya harus ke kualitas. Ini penting, karena beberapa kejadian seperti keracunan menjadi evaluasi bersama. Program ini bukan milik mitra atau yayasan, tetapi milik rakyat untuk anak-anak sekolah,” tegasnya.
Ia meminta seluruh pengelola SPPG mematuhi standar yang telah ditetapkan, mulai dari pemilihan bahan baku, proses pengolahan, hingga penyajian makanan.
“Kualitas harus dijaga. Jangan sampai menu yang diberikan tidak sesuai ketentuan. Baik dari sisi gizi, pengolahan, maupun penyajian, semuanya harus memenuhi standar,” ujarnya.
Selain itu, ia mendorong adanya inovasi dalam penyajian menu agar tetap menarik bagi anak-anak tanpa mengabaikan aspek kesehatan.
“Silakan berkreasi, tetapi tetap melalui proses pengolahan yang baik agar makanan layak dan disukai anak-anak,” tambahnya.
Dhawam juga membuka ruang komunikasi bagi para pengelola jika menghadapi kendala di lapangan.
“Kalau ada persoalan, segera koordinasi dan laporkan. Yang penting program ini berjalan baik dan benar-benar memberikan manfaat,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai keterlibatan KDMP akan menjadi faktor penting dalam memperkuat ekosistem program, khususnya dalam pemenuhan bahan baku lokal.
“Jika KDMP sudah bergerak, kebutuhan bahan baku bisa dipenuhi dari dalam daerah. Ini akan menjaga kualitas layanan sekaligus mendorong perputaran ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kunci agar program tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi, tetapi juga mampu memberdayakan masyarakat serta memperkuat ketahanan ekonomi daerah.








