MBG di SDN III Klampar Pamekasan Tak Sesuai Standar, Wali Murid Kecewa dan Sebut Menu ‘Ngawur’”

Senin, 6 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PAMEKASAN – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya digagas untuk meningkatkan kualitas gizi anak-anak di SDN III Klampar, Kecamatan Proppo Pamekasan, kini menghadapi sorotan tajam dari para wali murid. Alih-alih menjadi penyelamat gizi, program pemerintah ini justru menuai keluhan karena dinilai tidak memenuhi standar, bahkan dianggap menu “ngawur” oleh sebagian orang tua.

Menurut salah satu wali murid, lauk pauk yang diberikan kepada anak-anak hanya berupa telur kukus, tanpa variasi maupun kandungan gizi yang memadai.

“Seharusnya program ini mendukung tumbuh kembang anak-anak, tapi kenyataannya, menu yang disajikan sangat minim dan ngawur. Anak-anak pulang dari sekolah masih lapar dan tidak mendapat nutrisi yang seharusnya,” ujarnya, Senin (06/04/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lebih memprihatinkan, beberapa wali murid menuding pemilik dapur MBG di Desa Klampar memperkaya diri sendiri dengan memotong jatah makanan anak-anak. Dampaknya, program yang semestinya menjadi bagian dari pendidikan dan kesehatan anak-anak justru menimbulkan kekecewaan, kemarahan, dan rasa tidak percaya di kalangan orang tua.

Keluhan ini menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah dan pihak terkait untuk meninjau ulang seluruh pengelolaan dapur MBG. Tidak hanya soal menu, tetapi juga sistem distribusi, pengawasan, dan akuntabilitas pengelola program, agar setiap anak mendapat hak gizi yang layak dan program ini tidak sekadar menjadi rutinitas simbolis tanpa hasil nyata.

“Program pemerintah seharusnya berpihak pada anak-anak, bukan memperkaya segelintir pihak. Kami ingin anak-anak kami mendapatkan hak mereka, bukan menu seadanya

Hingga berita ini terbit, pihak SPPG (Satuan Pelaksana Program Gizi) belum dapat dikonfirmasi terkait dugaan pemotongan jatah makanan dan keluhan wali murid, karena terbatasnya akses komunikasi.

Media ini masih menunggu tanggapan resmi dari pihak terkait, berharap ada langkah perbaikan cepat agar program MBG benar-benar menjadi solusi bagi kesehatan generasi muda, bukan sumber kekecewaan.

Kasus dapur MBG di SDN III Klampar ini seharusnya menjadi peringatan bagi semua pihak: program pemerintah yang idealnya menyejahterakan anak-anak tidak bisa berjalan setengah hati. Ketika menu bergizi minim, lauk seadanya, dan jatah anak-anak dipotong, dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga kepercayaan orang tua terhadap pemerintah.

Wali murid yang bersuara bukan sekadar cerewet; mereka adalah suara hati nurani masyarakat yang melihat langsung anak-anaknya kekurangan gizi.

Dugaan penyalahgunaan program MBG menimbulkan pertanyaan serius: Apakah pengawasan dan akuntabilitas program ini sudah dijalankan dengan sungguh-sungguh?
Pemerintah dan pihak terkait, termasuk SPPG, harus segera mengambil langkah tegas: meninjau ulang pengelolaan dapur, memastikan menu bergizi sesuai standar, dan mengembalikan kepercayaan masyarakat. Anak-anak bukan eksperimen; mereka adalah generasi penerus yang membutuhkan perhatian, bukan program yang hanya menjadi formalitas.

Penulis : Ans

Berita Terkait

Tak Ingin Ada Celah Administrasi, Dinkes P2KB Sumenep Evaluasi Keuangan hingga Aset Puskesmas Batuan
Jurus Dinkes Probolinggo Kawal Mutu UMKM: Tak Sekadar Periksa, Tapi Rangkul Pelaku Usaha
Ada Beban Apa Dibalik Status WA Plt Direktur RSUD Sumenep Dokter Erliyati?
Ujung Tombak Kesehatan Mandiri, Dinkes Probolinggo Gembleng Kader Siaga Aktif
Jeda Kunjungan Dokter 33 Jam Berujung Maut, Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati Probolinggo Evaluasi Pelayanan
Kabar Bahagia Warga Sumenep! RSUDMA Bawa Teknologi CT Scan 64 Slice, Tak Ada Lagi Pasien Terlambat Terdiagnosis ​
Suntikan Energi Baru Pelayanan Kesehatan, Dinkes Probolinggo Sambut 24 Dokter Internsip
Hari ke-113, Detikzone.id Terus Bergerak: Jurnalisme Ihdinas Sirotol Mustaqim Menyapa Penjual Kacang, Kopi Keliling hingga Abang Becak

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 21:02 WIB

Tak Ingin Ada Celah Administrasi, Dinkes P2KB Sumenep Evaluasi Keuangan hingga Aset Puskesmas Batuan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:09 WIB

Jurus Dinkes Probolinggo Kawal Mutu UMKM: Tak Sekadar Periksa, Tapi Rangkul Pelaku Usaha

Minggu, 4 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Ada Beban Apa Dibalik Status WA Plt Direktur RSUD Sumenep Dokter Erliyati?

Jumat, 2 Oktober 2026 - 08:46 WIB

Ujung Tombak Kesehatan Mandiri, Dinkes Probolinggo Gembleng Kader Siaga Aktif

Kamis, 1 Oktober 2026 - 12:24 WIB

Jeda Kunjungan Dokter 33 Jam Berujung Maut, Dewan Pengawas RSUD Waluyo Jati Probolinggo Evaluasi Pelayanan

Berita Terbaru