Perjalanan Sultan Pamekasan H. HER Bersama Ulama dan Pesantren, Membuka Jalan Pendidikan dan Kesejahteraan Petani Madura

Rabu, 8 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengusaha tembakau Pamekasan, H. Khoirul Umam atau H. Her

Pengusaha tembakau Pamekasan, H. Khoirul Umam atau H. Her

Pamekasan, 8 April 2026 – Di tengah kerumitan perekonomian Madura, hampir setiap keluarga memiliki cerita tentang perjuangan hidup. Namun H. Khoirul Umam atau H. HER, yang dikenal sebagai “Sultan Madura,” hadir sebagai sosok yang menghubungkan kepedulian sosial dengan langkah konkret ekonomi. Impiannya sederhana namun mendasar: tidak ada anak yang putus sekolah karena biaya, tidak ada rumah yang tak layak huni, dan masyarakat sejahtera.

“Tujuan saya adalah melihat Madura sejahtera. Anak-anak bisa sekolah, rumah warga layak huni, dan ekonomi masyarakat berjalan,” ujar H. HER di hadapan para ulama, pengusaha, dan petani.

Latar Masalah Petani Tembakau

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perjuangan ini bermula pada 2022, ketika H. HER dipanggil oleh Kiai Muhammad Rofie Baidowi, pengasuh Pondok Pesantren Banyuanyar, Pamekasan. Kiai Rofie menceritakan kondisi para petani tembakau yang sering dirugikan pabrikan. Setahun untung, tiga tahun rugi. Akibatnya, banyak wali santri kesulitan membiayai pendidikan anaknya, bahkan membeli buku dan seragam menjadi masalah.

“Para petani tidak hanya kehilangan penghasilan, tetapi dampaknya terasa sampai ke pendidikan anak-anak mereka,” kata H. HER menirukan curhatan kiai.

Mencari Solusi Bersama Ulama dan Pengusaha

Merespons masalah ini, H. HER bersama ulama dari Madura dan Jawa Timur, serta pengusaha peduli, merancang langkah strategis: menstabilkan harga tembakau dan mengamankan penghasilan petani.

“Kalau pabrikan dibiarkan sendiri, mereka bisa seenaknya menurunkan harga dan memaksa petani merugi,” jelasnya.

330 pondok pesantren ikut serta mengumpulkan modal untuk membeli tembakau langsung dari petani. Modal yang dikumpulkan beragam, mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah. Salah satu kontributor besar adalah Pondok Pesantren Al Falah Sumber Jaya, yang menyalurkan modal miliaran rupiah.

Perputaran Dana dan Dampak Nyata

H. HER menjelaskan, dari 60 ton tembakau pertama yang dibeli, kini hasilnya mencapai Rp 4,133 miliar.

Dana ini digunakan untuk pendidikan, pembangunan rumah layak, dan mendukung ekonomi lokal. Ia menegaskan semua dana berasal dari pesantren dan pengusaha, murni dan bersih dari praktik ilegal atau korupsi.

“Ini bukan uang curian atau hasil merampok. Dana ini murni berasal dari kiai, pondok pesantren, dan pengusaha. Bahkan saya pernah meminjam bank demi membantu petani,” ujar H. HER.

Dampak nyata dari langkah ini sudah terlihat. Selama empat tahun terakhir, banyak petani mampu menyekolahkan anak-anaknya, memperbaiki rumah, dan membuka dapur layak. Ekonomi lokal pun ikut bergerak: pedagang nasi, penjual mainan, dan usaha kecil lainnya merasakan manfaat positif.

Pendidikan, Ekonomi, dan Solidaritas

H. HER menekankan, kontribusi pesantren dan ulama bukan hanya soal spiritual, tetapi juga soal ekonomi dan kesejahteraan sosial. Hampir 70 persen masyarakat Madura bergantung pada tembakau, 10 persen pada garam, dan 20 persen pada usaha lain. Jika perekonomian tembakau terganggu, seluruh ekonomi lokal ikut terhenti.

“Setiap langkah yang kita lakukan bertujuan mensejahterakan masyarakat. Anak-anak bisa sekolah, rumah diperbaiki, dan ekonomi bergerak. Semua ini hasil kerja sama dan komitmen,” katanya.

Komitmen Jangka Panjang

Kisah H. HER menunjukkan bagaimana kepedulian sosial dapat dijalankan melalui langkah konkret ekonomi. Madura kini bukan hanya pulau penghasil tembakau, tetapi laboratorium nyata tentang bagaimana pendidikan, ekonomi, dan solidaritas sosial berjalan seiring untuk kesejahteraan bersama.

Dengan strategi yang terencana dan dukungan pesantren serta ulama, H. HER membuktikan bahwa bisnis dan kemanusiaan dapat berjalan beriringan, menciptakan ekonomi yang adil dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat.

Berita Terkait

Ayo, Buktikan Sendiri Layanan Cuci Mobil Berkelas dengan Sentuhan Fasilitas VIP di Simple Car Wash Sumenep.
Rawon Iga di Resto Lotus Sumenep Bikin Nagih
Di Bawah Binaan BC Madura, CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Aktif Jalankan Program Sosial dan Kolaborasi Lintas Instansi dan Elemen Masyarakat
Harga Kantong Plastik Naik Tajam, Pedagang Pasar Kebingungan Cari Solusi Untuk Pembeli 
Lotus Sumenep Jadi Tempat Andalan Semua Komunitas, Suasana Selalu Hidup
Jelang Idul Adha, Harga Kambing di Pasar Lenteng Sumenep Melambung Tinggi
Resto Lotus Sajikan Ikan Gurami yang Menggugah Selera dan Jadi Menu Favorit Pengunjung di Kota Keris Sumenep
Buka dari Sore hingga Malam, SkY Coffee Grounds Samping Mr Ball Sumenep Langsung Jadi Pusat Keramaian

Berita Terkait

Minggu, 3 Mei 2026 - 09:47 WIB

Ayo, Buktikan Sendiri Layanan Cuci Mobil Berkelas dengan Sentuhan Fasilitas VIP di Simple Car Wash Sumenep.

Sabtu, 2 Mei 2026 - 23:26 WIB

Rawon Iga di Resto Lotus Sumenep Bikin Nagih

Sabtu, 2 Mei 2026 - 13:36 WIB

Di Bawah Binaan BC Madura, CV Ayunda Permata Sejahtera Pamekasan Aktif Jalankan Program Sosial dan Kolaborasi Lintas Instansi dan Elemen Masyarakat

Senin, 27 April 2026 - 17:35 WIB

Harga Kantong Plastik Naik Tajam, Pedagang Pasar Kebingungan Cari Solusi Untuk Pembeli 

Senin, 20 April 2026 - 08:44 WIB

Lotus Sumenep Jadi Tempat Andalan Semua Komunitas, Suasana Selalu Hidup

Berita Terbaru