SUMENEP – Setelah menggelar kegiatan Jumat Berkah pada 5/6/2026 dalam rangkaian Program Detikzone Berbagi Setiap Hari dengan menyantuni puluhan lansia dan anak yatim, Detikzone.id kembali melanjutkan gerakan sosialnya tanpa jeda yang kini bergerak semakin masif di Kabupaten Sumenep.
Hari ini, Sabtu, 6/6/2026, Detikzone kembali memyalurkan program Sabtu berkah dengan menyasar kelompok masyarakat kecil yang setiap hari berjuang dalam diam, mulai dari abang becak, pedagang kaki lima (PKL), pekerja harian, hingga warga prasejahtera.
Dalam setiap giatnya, Detikzone turun langsung menyusuri titik-titik keramaian, pinggir jalan, pasar, hingga lorong permukiman warga untuk menyalurkan bantuan secara langsung kepada para penerima manfaat. Di setiap lokasi, suasana haru kerap tak terhindarkan.
Wajah-wajah lelah yang sehari-hari bergulat dengan kerasnya kehidupan seakan mendapat jeda sejenak ketika bantuan datang langsung di hadapan mereka. Tidak ada jarak, tidak ada sekat, hanya pertemuan sederhana antara kepedulian dan kebutuhan yang nyata di tengah perjuangan hidup yang tidak mudah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan ini tidak berdiri pada satu kegiatan semata, melainkan menjadi rangkaian panjang aksi sosial yang terus menyala dan berkelanjutan di tengah masyarakat kecil Sumenep.
Sebelumnya, Detikzone.id juga menggelar aksi sosial di depan Masjid Agung Sumenep dalam momentum Hari Arafah, dengan menyasar abang becak, pelaku UMKM, dan pekerja harian. Di bawah terik matahari siang, bantuan sembako dan santunan dibagikan langsung kepada warga yang sedang berjuang mencari nafkah, menghadirkan suasana haru yang menyelimuti lokasi kegiatan, di mana sebagian penerima tampak menunduk haru dan bersyukur atas bantuan yang diterima.
Bahkan sebelumnya, Detikzone juga melaksanakan Santunan Akbar bagi 150 anak yatim, dhuafa, marbot masjid, muadzin, hingga penggali kubur. Dalam kegiatan tersebut, bantuan berupa beras, uang tunai, dan sarung disalurkan secara langsung. Tidak hanya di satu titik, tim juga turun langsung ke rumah-rumah warga yang tidak mampu hadir, memastikan tidak ada satu pun yang terlewat dari sentuhan kepedulian. Kegiatan itu sekaligus menegaskan bahwa masjid bukan hanya ruang ibadah, tetapi juga pusat pergerakan sosial dan kemanusiaan yang hidup di tengah masyarakat.
Selain itu, Detikzone.id juga menjalankan berbagai program kemanusiaan berkelanjutan lainnya, mulai dari pembangunan musala umat, penyediaan ambulans gratis, hingga rumah singgah bagi keluarga pasien di Kabupaten Sumenep. Seluruh program tersebut menjadi bagian dari komitmen sosial yang terus diperkuat sebagai bentuk keberpihakan kepada masyarakat kecil.
Pimpinan Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, menegaskan bahwa seluruh gerakan ini bukan sekadar kegiatan berbagi, tetapi bentuk tanggung jawab moral kepada masyarakat kecil.
“Ini bukan soal besar kecil bantuan, tetapi tentang keberpihakan nyata kepada masyarakat kecil yang setiap hari berjuang jadi tumpuan keluarganya,” ujarnya.
Ia menambahkan, media tidak boleh berhenti hanya sebagai penyampai informasi, tetapi juga harus hadir sebagai bagian dari solusi sosial di tengah masyarakat.
“Media harus hadir sebagai bagian dari gerakan kemanusiaan, bukan sekadar mencatat peristiwa. Di situlah makna jurnalisme menemukan nilai yang sesungguhnya,” tegasnya.
Lebih jauh, pihaknya menyebut bahwa setiap kebaikan yang ditanam tidak akan pernah sia-sia.
“Kebaikan yang kita tanam bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri kita sendiri. Karena setiap sedekah pada akhirnya akan kembali dalam bentuk keberkahan,” tambahnya.
Melalui Program Sedekah Setiap Hari yang terus bergerak tanpa henti ini, Detikzone.id berharap lahirnya budaya solidaritas sosial yang semakin kuat di tengah masyarakat Sumenep, sehingga kepedulian tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi benar-benar tumbuh menjadi gerakan nyata yang hidup di tengah wong cilik.
Ia menegaskan, peradaban jurnalisme harus mengalami transformasi mendasar menuju arah yang lebih beradab, independen, dan berorientasi pada kemanusiaan, agar media tidak terjebak pada sekadar rutinitas pemberitaan tanpa makna sosial.
Sudah saatnya dunia pers menjadi motor penggerak perubahan, bukan hanya saksi atas peristiwa. Media harus berdiri di garis depan sebagai pelopor kebaikan, menghadirkan harapan, serta menjadi jembatan antara mereka yang memiliki kelebihan dengan mereka yang sedang berjuang dalam keterbatasan.
Penulis : Red








