Pemalang- Fenomena ratusan warga mengisi BBM jenis Pertamax beralih menggunakan Pertalite, terjadi secara masif akibat lonjakan harga Pertamax yang menyentuh angka Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026 pukul 00..00 kemarin.
Selisih harga yang sangat signifikan membuat konsumen memprioritaskan BBM bersubsidi agar lebih hemat Harga Pertamax yang mencapai Rp16.250 per liter membuat selisihnya sangat jauh dengan harga Pertalite yang tetap berada di kisaran Rp10.000 per liter.
Salah seorang warga yang sedang mengantri diantara ratusan pesepeda motor bernama Dwi ( 40 ) mengaku lebih baik mengantri walaupun sedikit lama,dari pada harus beli Pertamax yang harganya selangit,
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya nge -grab mas,kalau harus ngisi BBM Pertamax bisa ngga makan,” katanya sedih,saat ditemui di lokasi SPBU Bojongbata,pada Kamis ( 11/6 ).
Hal yang sama dikeluhkan oleh Wisnu ( 35 ) salah seorang yang nampak tidak mengantri di bagian pengisian BBM Pertamax, sementara di sebelahnya bagian pengisian BBM Pertalite terlihat mengular,
“Terpaksalah saya harus beli Pertamax karena butuh, sempat kaget karena kemarin masih diharga lama Pertamax” keluhnya.
Sementara itu, menurut keterangan Ali Mutazin ( 50 ) petugas SPBU Bojongbata yang berada di jalan Gatot Subroto Pemalang ini, mengaku jika kenaikan harga Pertamax mulai hari ini tidak begitu banyak komplain pengguna BBM jenis Pertamax, hanya kebanyakan Pembeli menghindar.
“Alhamdulillah tidak banyak atau sampai siang ini tidak ada yang komplain terkait kenaikan harga Pertamax, hanya pembeli menghindar beralih ke Pertamax,” Jelasnya.
Terpisah , PT Pertamina (Persero) melalui Pertamina Patra Niaga menerangkan, bahwa harga produk Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis non subsidi, seperti Pertamax atau RON 92 dan juga Pertamax Green 95 atau RON 95, berlaku mulai hari ini 10 Juni 2026 ( dikutip dari CNBC ).
Harga Pertamax naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp. 16.250 per liter. Adapun Pertamax Green 95 naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp. 17.000 per liter
Pertamina Patra Niaga menyatakan, bahwa kenaikan harga ini diputuskan setelah dikordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala yang mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non subsidi mengikuti regulasi yang berlaku dan merupakan bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis, kualitas layanan, dan kepastian pasokan energi bagi masyarakat.
“Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal,” ujar Roberth dalam siaran persnya, Rabu (10/6/2026).
Roberth menambahkan, Pertamina Patra Niaga senantiasa berupaya menjaga ketersediaan dan kualitas produk BBM di seluruh wilayah Indonesia, sekaligus memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan dengan baik.
“Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina,” jelasnya.( Ragil).








