Jembatan Pajarakan Direhab Agustus, Pemkab Probolinggo Desak Opsi Tol Kraksaan dan Jembatan Bailey Buka

Kamis, 9 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Keterangan Foto:
Pemerintah Kabupaten Probolinggo menggelar rapat koordinasi bersama instansi terkait membahas rencana rehabilitasi Jembatan Pajarakan yang dijadwalkan dimulai Agustus 2026, termasuk usulan pembukaan akses Tol Kraksaan dan pembangunan Jembatan Bailey sebagai jalur alternatif untuk mengantisipasi kemacetan dan menjaga kelancaran arus lalu lintas.

Keterangan Foto: Pemerintah Kabupaten Probolinggo menggelar rapat koordinasi bersama instansi terkait membahas rencana rehabilitasi Jembatan Pajarakan yang dijadwalkan dimulai Agustus 2026, termasuk usulan pembukaan akses Tol Kraksaan dan pembangunan Jembatan Bailey sebagai jalur alternatif untuk mengantisipasi kemacetan dan menjaga kelancaran arus lalu lintas.

PROBOLINGGO – Akses utama lintas utara Jawa di wilayah Kabupaten Probolinggo bersiap menghadapi tantangan mobilitas besar. Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia menjadwalkan proyek rehabilitasi total Jembatan Pajarakan KM SBY 119+320 dimulai pada awal Agustus 2026. Guna mencegah kelumpuhan arus lalu lintas selama dua setengah bulan masa pengerjaan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo mendesak langkah mitigasi ekstrem, mulai dari pembukaan kembali ruas Tol Kraksaan hingga pembangunan jembatan darurat.

Sinyal siaga tersebut mengemuka dalam rapat koordinasi dan sosialisasi yang digelar di Kantor Kecamatan Pajarakan pada Rabu (8/7/2026).

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan lintas sektoral ini dipimpin langsung oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kabupaten Probolinggo, M. Sjaiful Efendi, didampingi PPK 1.1 Provinsi Jawa Timur BBPJN Jatim-Bali, Wahyu Wibowo, serta Kasat Lantas Polres Probolinggo, AKP Ali Rifki Mubarok.

 

“Perbaikan Jembatan Pajarakan ini agenda mutlak pemerintah pusat. Estimasi pengerjaan memakan waktu sekitar 2,5 bulan. Yang krusial hari ini bukan hanya soal bongkar pasang jembatan, tapi bagaimana roda ekonomi dan mobilitas masyarakat tidak mati total selama proyek berjalan,” tegas Sjaiful Efendi dalam forum tersebut.

 

Pemkab Probolinggo bergerak cepat mengajukan dua opsi strategis penanganan arus. Pertama, mendesak percepatan koordinasi dengan pengelola jalan tol agar ruas Tol Kraksaan kembali difungsikan secara fungsional. Kedua, mendorong pembangunan jembatan sementara (Bailey Bridge) di sisi selatan jembatan utama sebelum pembongkaran dimulai.

 

“Kami meminta Kementerian PU dan pelaksana proyek segera mengetuk pintu PT KAI di tingkat pusat. Lahan yang akan dilewati jembatan Bailey itu bersinggungan dengan aset kereta api, jadi izinnya harus klir secepatnya. Harapan kami jembatan sementara ini sudah berdiri sebelum jembatan utama dihancurkan,” tambah Sjaiful.

 

Langkah tegas juga diambil Pemkab untuk melindungi infrastruktur lokal. Jalan desa dan jalan kabupaten diharamkan menjadi pelarian bagi kendaraan bertonase besar. Sjaiful memastikan jalan-jalan alternatif di perkampungan hanya boleh dilewati kendaraan roda dua dan kendaraan pribadi ringan.

 

“Kami tidak ingin proyek pusat selesai, tapi jalan desa kami hancur lebur. Kendaraan berat dipastikan wajib memutar via jalur Lumajang. Sementara jembatan Bailey nanti hanya dibatasi untuk kendaraan dengan kapasitas maksimal 8 hingga 10 ton saja,” urainya lugas.

 

Merespons desakan daerah, PPK 1.1 Provinsi Jawa Timur, Wahyu Wibowo menyatakan komitmennya untuk memprioritaskan aksesibilitas warga lokal. Pihaknya tengah mengkaji secara intensif aspek teknis pembangunan jembatan darurat tersebut.

“Kami mendengar langsung aspirasi masyarakat dan Pemkab. Opsi jembatan Bailey di sisi selatan sedang kami koordinasikan ke pimpinan pusat agar aktivitas harian warga tetap terfasilitasi meskipun akan ada pembatasan,” kata Wahyu.

 

Wahyu menambahkan bahwa proyek ini murni merupakan pengerjaan rehabilitasi struktural tanpa mengubah geometri asli jembatan. “Konstruksi akhir tetap mempertahankan rangka baja dengan topografi lantai beton. Dimensi utama jembatan tidak berubah, fokus kami adalah penguatan struktur demi keamanan jangka panjang,” tutupnya.

Rapat strategis ini juga menggalang kesiapan dari Dishub Kabupaten Probolinggo, Forkopimka Pajarakan, hingga perwakilan Pemerintah Desa Sukomulyo dan Sukokerto yang wilayahnya akan terdampak langsung oleh rekayasa lalu lintas mendatang.

Berita Terkait

Lampu Kuning Anggaran Probolinggo: Serapan Minim, Pemkab Minta Gas Pol Sebelum Akhir Tahun
Hari Santri di Pemkab Sumenep, Pesan Wabup Tak Hanya soal Iman, tetapi Juga Disiplin ASN
Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura
Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura
Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026
Diskominfo Sumenep Sukses Dorong Kampanye Digital Lewat Gerakan “Nongtong Bareng” di Festival Musik Tong-Tong
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik
Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757

Berita Terkait

Senin, 19 Oktober 2026 - 15:51 WIB

Lampu Kuning Anggaran Probolinggo: Serapan Minim, Pemkab Minta Gas Pol Sebelum Akhir Tahun

Senin, 19 Oktober 2026 - 11:56 WIB

Hari Santri di Pemkab Sumenep, Pesan Wabup Tak Hanya soal Iman, tetapi Juga Disiplin ASN

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026

Berita Terbaru