PROBOLINGGO – Mereka belum genap berusia dua belas tahun, namun di pundak kecil itu kini tersampit misi besar menjadi benteng pertama kesehatan di sekolah. Sebanyak 178 siswa kelas IV dan V SD/MI dari pelosok Kabupaten Probolinggo berkumpul di Auditorium Madakaripura Kantor Bupati, Kamis (30/7/2026).
Mereka tidak sedang bermain, melainkan ditempa menjadi “Dokter Cilik” yang siap mengubah wajah kesehatan di lingkungan mereka.Diorganisasi oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Kabupaten Probolinggo bersama Forum Kabupaten Probolinggo Sehat (FKPS), serta disokong penuh oleh Dinkes dan Disdikdaya setempat, pelatihan bertajuk “Belajar, Peduli, Sehat” ini digelar sebagai kado nyata memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) ke-118 sekaligus Hari Anak Nasional (HAN) ke-42.Ketua IDI Cabang Kabupaten Probolinggo, dr. Syahrudi, menegaskan bahwa esensi dari program ini melompat jauh melampaui sekat-sekat teori medis. Ini adalah tentang investasi manusia dan pembentukan karakter sejak dini.
“Tujuan utama pelatihan dokter cilik ini adalah membentuk karakter anak. Kami ingin menumbuhkan empati, kepedulian sosial, dan jiwa kepemimpinan. Dari ruang kelas ini, kita berharap lahir cita-cita besar mereka untuk menjadi tenaga kesehatan masa depan,” ujar dr. Syahrudi dengan nada optimistis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Di bawah bimbingan para mentor, anak-anak ini tidak diajari cara menulis resep obat, melainkan dibekali keahlian taktis. Mulai dari pemahaman Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), pemenuhan gizi seimbang, teknik Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K), hingga simulasi bantuan hidup dasar dan pembidaian cedera ringan.Nantinya, mereka akan menjadi motor penggerak Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Saat ada teman sebaya yang terjatuh di halaman sekolah atau mengeluhkan pusing di tengah pelajaran, para dokter cilik inilah yang akan meletakkan pertolongan pertama sebelum intervensi medis tingkat lanjut dilakukan.
Apresiasi besar datang dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo. Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Sekda, Abdul Ghafur, yang membuka acara bersama Kepala Dinkes dr. Hariawan Dwi Tamtomo, menyebut langkah IDI ini sebagai investasi jangka panjang yang krusial bagi daerah.“Menjadi dokter cilik bukan berarti memikul beban untuk menyembuhkan segala penyakit. Tugas paling mulianya adalah menjadi pelopor. Mengajak teman mencuci tangan, mengonsumsi makanan sehat, berolahraga, dan berani bersuara lantang menolak rokok,” tegas Ghafur di depan ratusan peserta.
Menariknya, di tengah gempuran era teknologi, Ghafur juga menyelipkan pesan reflektif. Ia mengingatkan anak-anak agar bijak memanfaatkan perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Baginya, AI boleh menjadi alat bantu memperluas wawasan, namun kehadiran guru, buku, orang tua, dan tenaga medis tetaplah kompas utama dalam belajar.
Program ini dipastikan tidak akan menguap begitu saja setelah seremoni penutupan. IDI Kabupaten Probolinggo telah merancang cetak biru keberlanjutan yang matang. Pasca-pelatihan, seluruh peserta akan didampingi secara berkala oleh puskesmas di wilayah masing-masing.Bahkan untuk menjaga api semangat anak-anak tetap menyala, dr. Syahrudi membocorkan agenda besar tahun depan.
“Tahun depan kami merencanakan lomba dokter cilik sebagai ruang evaluasi dan motivasi bagi sekolah-sekolah di Probolinggo,” pungkasnya.Sinergi yang solid antara pemerintah, tenaga kesehatan, sekolah, dan orang tua kini telah dimulai. Dari sebuah auditorium di Probolinggo, langkah-langkah kecil para dokter cilik ini siap memicu gelombang besar budaya hidup sehat di masa depan.
Penulis : Moch Solihin








