SUMENEP, Detikzone.id — Semangat generasi muda dalam menjaga tradisi dan kesenian lokal terlihat dalam pawai Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pasongsongan, Kecamatan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
Salah satu yang mencuri perhatian dalam kegiatan tersebut adalah penampilan Gambus Zapin Modern Al-Faqotani, yang membawa konsep zapin jalan dengan iringan musik gambus. Penampilan ini menjadi warna tersendiri di tengah kemeriahan pawai yang diikuti santri, santriwati dan masyarakat umum.
Al-Faqotani merupakan partisipasi pemuda Kampung Pakotan yang ikut mengambil bagian dalam memeriahkan pawai Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi juga membawa kembali konsep seni zapin yang sebelumnya pernah berkembang di tengah masyarakat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Salah seorang anggota Al-Faqotani, Iyon, mengatakan gagasan menghadirkan zapin jalan tersebut terinspirasi dari tim Arpas Kobar yang dikenal aktif mengikuti pawai Maulid pada era 1990-an.
Menurut Iyon, saat itu sejumlah anggota Arpas Kobar merupakan alumni kelompok gambus Al Maarif. Kesenian gambus dan zapin menjadi bagian dari warna pawai Maulid di Pasongsongan.
Namun, memasuki era 2000-an, tim dari Kampung Pakotan tersebut sempat vakum cukup lama. Salah satu penyebabnya karena tidak ada lagi pihak yang secara khusus mengoordinasikan dan mengembangkan kegiatan tersebut.
“Sebagai generasi penerus, kami ingin melanjutkan konsep zapin tersebut. Kami kemudian bermusyawarah dan melakukan rapat internal bersama teman-teman, akhirnya sepakat untuk ikut berpartisipasi dalam pawai Maulid,” ujar Iyon.
Konsep zapin jalan kemudian dikembangkan dengan sentuhan musik gambus modern. Perpaduan tersebut membuat penampilan Al-Faqotani berbeda dari peserta lainnya yang umumnya tampil dalam formasi pawai.
Alunan musik gambus yang mengiringi gerakan zapin membuat masyarakat yang berada di sepanjang jalur pawai memberikan perhatian. Sejumlah penonton bahkan berharap penampilan Al-Faqotani dapat terus dipertahankan setiap tahun.
“Terus lanjut tiap tahun, jangan sampai vakum. Al-Faqotani kalau tidak ada zapinnya, tidak ramai, tidak asyik pawainya,” kata salah seorang penonton.
Mulai Tampil Sejak 2024
Iyon menjelaskan, Al-Faqotani mulai bergabung dalam pawai Maulid pada 2024. Penampilan tersebut menjadi langkah awal bagi pemuda Pakotan untuk kembali menghadirkan kesenian zapin dalam kegiatan masyarakat.
Namun, pada tahun berikutnya Al-Faqotani sempat vakum karena sejumlah kendala. Tahun 2026, mereka kembali tampil untuk meramaikan pawai Maulid Nabi Muhammad SAW di Pasongsongan.
Kembalinya Al-Faqotani tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi upaya meneruskan kesenian yang pernah berkembang di lingkungan masyarakat Pakotan.
Untuk memenuhi kebutuhan kegiatan, Al-Faqotani mengandalkan dukungan secara gotong royong. Pembiayaan dilakukan melalui sumbangan dari anggota grup serta anak-anak Pakotan yang berada di perantauan.
Dukungan tersebut, antara lain, berasal dari Toko Sabar, Toko Cuki, Farid, Imam Balikpapan, Gus Mahtum, dan sejumlah pihak lainnya.
Menurut Iyon, dukungan tersebut menjadi bagian penting agar kegiatan pemuda Pakotan dapat terus berjalan.
“Semoga kami setiap tahun terus istiqamah demi meramaikan dan mengagungkan peringatan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” harapnya.
Pawai Maulid Nabi di Pasongsongan sendiri menjadi tradisi tahunan yang selalu mendapat perhatian masyarakat. Para santri, santriwati dan peserta umum tampil dengan berbagai kreasi, mulai dari busana Islami hingga karakter seperti tangbintangan, canmacanan, takmotakan, takbuta’an dan berbagai kreasi lainnya.
Di tengah tradisi tersebut, kehadiran Al-Faqotani menunjukkan bahwa generasi muda dapat mengambil peran dalam menjaga budaya sekaligus memberikan inovasi.
Zapin modern yang dipadukan dengan musik gambus menjadi cara Al-Faqotani menjaga kesenian lama agar tetap memiliki tempat di tengah generasi sekarang.
Bagi masyarakat Pasongsongan, pawai Maulid bukan hanya menjadi tontonan, tetapi juga ruang kebersamaan dan ekspresi kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW.
Dengan keterlibatan generasi muda seperti Al-Faqotani, tradisi tersebut diharapkan dapat terus hidup, berkembang dan diwariskan kepada generasi berikutnya.







